Teringat alm Pak Jukardi, dia dosen F and B di salah satu akademi perhotelan di Bandung. Setiap kali bertemu di kampus, saya selalu minta dibuatkan kopi olehnya. Bagi saya, alm adalah pembuat kopi yang luar biasa. Sempat saya tanya, cita-citanya. “Saya ingin membuat café khusus untuk heavy coffee drinker”, katanya. Kedai khusus untuk pecandu kopi. Tetapi saat saya kuliah di Jepang, minum kopi adalah media untuk bertemu teman bisnis atau ngobrol soal pekerjaan. Belakangan di Indonesia, juga berkembang kedai-kedai kopi, yang memadukan jualan olahan rasa kopi dan suasana. Memang bisnis kedai kopi, makin rumit. Kini yang djujual bukan lagi soal robusta atau arabica, harga secangkir kopi menjadi berbeda oleh factor tempat, lokasi dan service.
Fenomena Kopi Joni, tempat minum kopi plus ngomongin kasus hukum. Di Jepang mulai dibuka kedei kodi yang disebut “hideaway”. Kedai kopi ini mulai menawarkan konsep baru, yaitu semacam terapi bagi mereka yang bermasalah dengan penyakit mental. Misi dari Kedai kopi ini mempromosikan pemahaman tentang penyakit mental di Jepang (mental illness).
Bermula dari Project Semicolon, di Amerika Serikat. Project Semicolon adalah organisasi kesehatan mental akar rumput yang mendorong orang untuk mentato tanda baca titik koma (;) sebagai bentuk solidaritas antara orang yang berurusan dengan penyakit mental atau kematian seseorang akibat bunuh diri. Idenya adalah ketika orang dengan penyakit mental merasa kesepian dan orang lain tidak memahami mereka, melihat tato titik koma pada orang lain dapat mengingatkan mereka bahwa mereka tidak sendirian.
Semicolon adalah tanda baca berupa titik koma memiliki berbagai fungsi. Dalam bahasa Indonesia, semicolon digunakan sebagai pengganti atau pemisah kata penghubung di bagian kalimat sejenis. Sementara itu, dalam bahasa Inggris semicolon digunakan sebagai pengganti konjungsi.

Apa arti simbol titik koma dalam psikologi? Simbol ini ditujukan kepada orang-orang yang tengah berjuang melawan penyakit mental, agar tetap menjadi titik koma yang artinya masih ada harapan hidup, tidak memilih titik yang artinya mengakhiri hidupnya.
Orang Jepang memiliki penyakit budaya khas sendiri, yaitu apa yang dikenal sebagai Taijin Kyofusho. Ia adalah “Sekimen-kyofu”, yakni takut melihat wajah yang bersemu kemerahan (ereuthophobia). “Shubo-kyofu”, yakni takut pada cacat tubuh atau (body dysmorphic disorder). Ada juga “Jikoshisen-kyofu”, yakni takut untuk menatap lawan bicara dan “Jikoshu-kyofu”, yakni takut pada bau badan sendiri (osmophobia).
Dr Katsuaki Suzuki dari Hamamatsu University membuktikan dalam sebuah penelitian terbaru, sindrom ini memang banyak dialami oleh penduduk Asia khususnya Jepang. Beberapa di antaranya bahkan tidak dapat ditemukan di masyarakat yang hidup dengan kebudayaan barat.
Hal lain adalah soal budaya tatemae . Tatemae diterjemahkan sebagai wajah public, bukan wajah dirinya. Ini adalah topeng yang dikenakan orang Jepang saat berbicara dengan rekan kerja, teman, dan keluarga. Lebih tepatnya. Tatemae adalah wajah kewajiban sosial yang harus dikenakan oleh setiap orang. Karakteristiknya atas nama kesopanan dalam percakapan secara sosial. Tidak masalah jika seseorang berbohong. Orang terpaksa minum alkohol sebagai alasan untuk bisa diterima secara sosial. Situasi kolektifitas lebih mengemuka dengan Individulisme. Terbalik dengan budaya barat.
Dua ungkapan kultural diatas, maka lahirlah konsep kedai kopi “hideaway”. Solusi sebagai jembatan untuk menyelematkan mereka yang sedang menentukan jalan hidupnya, antara harus survive ditengah-tengah lingkungan kolektivitasnya atau terjun bebas dari ketinggian untuk mengakhiri ajalnya.
Pemilik Hideaway, 宇野辰将 Tatsumasa Uno, yang menderita gangguan panik, terinspirasi oleh Project Semicolon saat belajar di luar negeri di AS dan bertanya-tanya apakah bisa dipromosikan di Jepang juga. Setelah membuka coffee roastery di Kyoto pada Februari 2020, dia memulai kampanye crowdfunding yang sukses dan membuka Hideaway di Yoyogi pada Oktober 2022.






















