Oleh : Dr. Susilawati Saras. SE., MM., MA, M.han – Intelektual Bela Negara
Peribahasa latin, Si Vis Pacem Para Bellum yang artinya jika menginginkan perdamaian maka bersiaplah untuk menghadapi perang yang mengandung makna bahwa untuk mewujudkan kehidupan yang damai maka harus mempersiapkan diri dalam menghadapi segala ancaman, serangan, tantangan, berbagai hal yang menghambat dari luar yang dapat melemahkan dan menghancurkan suatu negara. Istilah umum yang digunakan dalam bahasa perang militer, yang berarti jika sebuah wilayah tidak ingin dikuasai paksa oleh kekuatan negara lain maka negara tersebut harus menyiapkan kekuatan militer yang handal dengan baik agar kekuatan dari luar berpikir ulang (segan) untuk mengganggu atau menyerang wilayah tersebut.
Peribahasa tersebut masih sangat relevan dikaitkan dengan kondisi nasional Indonesia saat ini yang sedang tidak menghadapi invasi militer. Pola perang telah bergeser di masa damai, jika perang militer disebut juga dengan hard war (menguasai wilayah) maka di era kini perang berubah menjadi soft war atau smart war (menguasai pikiran) yang berarti ancaman maupun serangan yang terjadi secara perlahan dan tidak disadari telah masuk di berbagai bidang kehidupan seperti ideologi (mengubah ideologi negara), politik (politik adu domba), ekonomi (ekonomi tidak merata), sosial budaya (masuknya budaya asing yang membahayakan kehidupan seperti narkoba, korupsi, LGBT dan lain-lain) yang pada akhirnya mengganggu keamanan nasional.
Sejatinya bangsa Indonesia dalam menghadapi soft/smartwar, telah memiliki kekuatan pertahanan (menjaga dan melindungi keutuhan wilayah, kedaulatan rakyat, keselamatan bangsa dan negara Indonesia) yang baik, karena di masa damai maka seluruh warga negara adalah garda terdepan bagi pertahanan nasional.
Mengingat anggaran Pendidikan terbesar dari APBN, diikuti anggaran Pertahanan yang membangun pola pikir dan sikap Bela Negara bagi seluruh generasi bangsa apapun bidang kehidupan yang dijalankan, dengan selalu berprinsip pada nilai Pancasila sebagai bentuk kecintaan terhadap bangsa dan tanah air Indonesia.
Sebagai bangsa dengan ciri religi/spiritual, selain menggunakn akal sehat (pendidikan) juga hati yang tenang dan bersih (agama) untuk membangun fisik dan jiwa yang sehat, untuk sadar bahwa dalam setiap perbuatan selalu menjauhi sikap perilaku negatif yang dapat melemahkan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Perkembangan teknologi digital yang semakin canggih, adalah peluang yang sangat baik untuk diberdayakan, dapat menghasilkan keuntungan dan kemanfaatan besar bagi kemajuan Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar ke empat di dunia dalam memenangkan kompetisi global demi kesejahteraan hidup bersama. Dapat menyesuaikan diri dengan perubahan, setiap waktu amat berharga. Penuhi diri dengan karya dan prestasi yang memberi nilai lebih bagi kehidupan juga menginspirasi lingkungan lebih luas.
Dengan demikian terwujud situasi damai secara berkelanjutan, karena pada setiap diri anak bangsa telah terbentuk karakter kuat dan tangguh, siap dan mampu menghadapi tantangan yang terus muncul di era modern saat ini dan ke depan.
Demikian sejatinya pemahaman yang melekat dalam benak bangsa Indonesia, untuk menciptakan perdamaian (aman, tertib, nyaman, harmoni, produktif) maka harus siap menghadapi dan menyikapi dinamika yang berkembang yang dapat mengancam, melemahkan, merugikan, membahayakan keselamatan hidup dan meruntuhkan bangsa dan negara Indonesia.
























