Learning by doing, dalam bahasa yang sederhananya adalah “magang”. Bekerja sambil belajar. Ini metode belajar yang sangat effective, yang kni sedang dilakukan Jokowi kepada Gibran dan Kaesang. Lalu subjek apa yang sedang diajarkan Jokowi kepada anak-anak dan menantunya? Panda Nababan, sempat berceloteh begini; “Saya nggak tahu yah, apakah nggak penting bepolitik itu dengan budi pekerti, dengan tata krama”. Ini poin pertama. Selanjutnya, “apakah dengan dalih anak muda, lalu menghalalkan dengan segala cara”, ini yang kedua. “Tak peduli dengan partai yang membesarkan dia, tak ada urusan dengan yang memberi fasilitas kepada dia”, nah itu poin penting lainnya. Sebagai ilustrasi lainya, Panda juga mengatakan; “bayangkan Teguh sama Purnomo sudah terpilih untuk Solo di coret Mega, hanya untuk anak Jokowi, enggak ada arti itu”, tutup Panda dalam sebuah wawancara di statsiun TV Swasta.
Kekecewan kader senior PDIP, bahkan teman akrabnya Jokowi sendiri, hingga marah terbuka telanjang kepada public, adalah expresi dan murka yang tidak bisa dibendung-bendung lagi. Saya rasa, Jokowi maupun Gibran, sudah tahu akan hal itu. Faham apa yang dimaksud Panda Nababan.
Lantas apa jawab Jokowi? “Pemimpin itu dipilih rakyat. Rakyat yang memilih, rakyat yang menentukan pilihannya. Kalau tidak ada rakyat yang memilih, maka tidak akan ada yang bisa menjadi Bupati, Gubernur ataupun Presiden”. Begitu kira-kira narasi Jokowi yang saya tulis disini.
Jadi pelajaran apa yang didapat oleh Gibran dan Kaesang?
Jangan hiraukan omongan Panda Nababan. Partai tidak penting. Karena kalian tidak ditentukan oleh partai, melaikan dipilih oleh rakyat langsung. Dan betul, Gibran sendiri pun pernah mengatakan hal yang sama seperti dalil Bapaknya. “Rakyatlah yang memilih dan yang menentukan!”, ucap Gibran.
Sebagai anak muda ingusan itu, Gibran jauh dari faham apa itu “budi pekerti atau tata-krama”. Logika berfikirnya fragmatis. Lebih mudah bisa dimengerti oleh Sang Gibran, apa yang menjadi petuah bapaknya, yaitu “Saya jadi walikota karena dipilih oleh rakyat”, begitu bahasa verbal dan gesturenya yang saya simpulkan.
“Dengan dalih anak muda, lalu menghalalkan segara cara”, ini statemen yang sangat menohok Jokowi sebagai orang tua Gibran dan sekaligus sebagai Presiden, penyelenggara tertinggi dalam penegakan hukum di negeri ini. Membaca pernyataan Panda Nababan tersebut, keptusan MK itu penuh dengan nuasa siasah dan rekayasa.
Kader lain, yang sejak awal sudah berteriak adalah mantan walikota solo. FX Rudy, Kader PDIP yang sangat militant, secara terbuka juga telah memberi warning. Kalau Gibran ini dicalonkan oleh partai lain itu hak dari Mas Gibran, katanya. Keputusan di tangan Mas Gibran itu sendiri. Namun demikian, tentunya kalau sudah diputus untuk bergabung menjadi anggota partai lain otomatis Mas Gibran mengembalikan KTA PDI-P ke DPC kan kemarin memohonnya ke DPC tanggal 9 September 2019,” kata Ketua DPC PDI-P Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo atau FX Rudy di Solo, Jawa Tengah, Selasa (24/10/2023).
Lembaga Survei Indonesia (LSI) melakukan survei terhadap pendapat warga tentang apakah etis Gibran Rakabuming Raka yang merupakan kader PDIP menjadi cawapres Prabowo Subianto.
Hasil survei menunjukkan sebanyak 38,5 persen responden setuju bahwa tidak etis jika putra Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) itu menjadi cawapres Prabowo sementara PDIP telah mengusung Ganjar Pranowo sebagai capres.
Terdapat 41,8 persen responden yang berpendapat kurang/tidak setuju bahwa Gibran tidak etis jika menjadi cawapres Prabowo sementara PDIP mengusung Ganjar sebagai capres. Selain itu ada 19,8 persen responden tidak tahu/tidak jawab.


























