• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Jokowi ; “Saya Akan Dukung Habis-Habisan PSI” – Lalu Prabowo Akan Diam?

Ali Syarief by Ali Syarief
July 20, 2025
in Feature, Politik
0
Jokowi ; “Saya Akan Dukung Habis-Habisan PSI” – Lalu Prabowo Akan Diam?
Share on FacebookShare on Twitter

Kadang politik datang bukan sebagai wacana. Ia tak selalu membutuhkan dalil, hanya cukup satu kalimat pendek, dari seorang kepala negara: “Saya akan mendukung PSI habis-habisan.” Maka lengkaplah peta zaman. Yang selama ini samar-samar, kini tampak terang: presiden yang mestinya berdiri di atas semua partai, memutuskan berdiri bersama satu partai.

Maka konstitusi pun gelagapan. Demokrasi menjadi retoris. Dan kita, para warga yang dipaksa terus percaya pada tata aturan, kembali diajak menonton sandiwara yang lakonnya sudah ditentukan dari awal: tentang kekuasaan yang tak sudi pergi, dan anak-anaknya yang ingin mewarisinya.

Pernyataan Jokowi bukan sekadar dukungan. Ia adalah deklarasi terbuka bahwa negara tak lagi netral. Bahwa sang kepala negara tak lagi menjadi simbol keadilan institusional, melainkan seorang ayah politik yang sedang membela anak kandungnya, dengan segala sumber daya negara yang tersedia.

Di sini, yang muncul bukan lagi kompetisi, tapi dendam politik yang dibungkus dalam manuver-manuver elektoral. Partai-partai lawan bukan lagi sekadar oposisi—mereka kini adalah ancaman, dan karena itu pantas dimusnahkan secara sistematis. Bahasa kekuasaan menjadi bahasa perang: yang tidak bersama saya, adalah lawan.

Dan sejarah tahu, bahasa semacam ini tak pernah membawa kita pada peradaban.


Dalam politik, dukungan seorang presiden pada satu partai sama artinya dengan meletakkan seluruh tubuh institusi pada satu kaki. Keseimbangan goyah, dan demokrasi terperosok. Tidak ada kesetaraan dalam gelanggang jika wasit ikut bermain di lapangan, apalagi jika wasit memegang peluit dan ikut mencetak gol.

Dalil politik pertama yang bisa kita tarik dari ini: ketika kekuasaan ikut berkampanye, hukum sedang cuti. Ia kehilangan daya tegaknya, sebab siapa bisa melawan negara yang menjadi alat bagi satu partai?

Dalil kedua: partai yang didukung negara cenderung abai pada moral politik, sebab ia merasa tak tersentuh hukum. Ia bisa membajak opini, mendompleng proyek, merayu rakyat dengan fasilitas negara, dan menekan lawan dengan instrumen kekuasaan.

Dalil ketiga: kompetisi dalam demokrasi hanya bisa sehat jika semua peserta punya peluang yang sama. Ketika satu partai dipeluk erat oleh kekuasaan, partai lain bukan sedang bertanding, melainkan sedang bertahan hidup.

Dan kita melihatnya kini: bagaimana PSI, partai kecil dengan suara tak seberapa, mendadak menjadi poros perhatian politik nasional. Bukan karena visi ideologis atau rekam jejak kerja, tapi karena satu hal: ia menjadi simbol Jokowi yang ingin tetap hidup dalam kekuasaan, bahkan setelah mandatnya usai.


Politik di Indonesia sedang bergerak ke arah yang aneh: ia tak lagi soal gagasan atau perdebatan publik, tapi tentang relasi darah, loyalitas, dan rente kekuasaan. Presiden menjelma seperti tokoh dalam epos Mahabharata yang ingin memastikan dinastinya tak tergoyahkan. Ia lupa, negara bukan kerajaan, dan rakyat bukan pewaris tahta.

Tapi siapa yang akan membantah? Ketika semua lembaga telah diam, partai-partai ikut bergeser demi mengamankan kepentingannya, dan rakyat dicekoki opini melalui propaganda digital, maka suara yang sumbang akan segera disingkirkan sebagai “bukan bagian dari masa depan.”

Inilah wajah demokrasi tanpa nurani.


Barangkali kita sedang menyaksikan babak baru dalam politik Indonesia: bukan lagi tentang siapa menang dan siapa kalah, tapi tentang siapa yang rela menjadi alat, dan siapa yang berani menjadi lawan. Dalam lanskap semacam ini, partai-partai tak lagi saling bersaing dalam ide, tapi saling mencurigai dan bersiap saling menghancurkan.

Karena, seperti kata Niccolò Machiavelli: “Politics have no relation to morals.” Maka tidak heran, jika saling bunuh antarkekuatan politik menjadi lazim, bahkan dianggap sah, selama hasil akhirnya tetap: kuasa tak boleh lepas dari genggaman.

Dan di situlah kita berdiri hari ini. Di tepi jurang demokrasi yang disulap menjadi panggung keluarga, tempat seorang presiden tak ingin pensiun dari kekuasaan, dan memilih menjelma sebagai ayah ideologis sebuah partai kecil—yang sedang dipompa, untuk menjadi besar secara instan.

Dalam dunia semacam ini, politik bukan lagi seni kemungkinan. Ia adalah seni pertahanan. Dan dalam pertahanan, tak ada ruang untuk kompromi.

Apakah kita masih bisa menyebut ini demokrasi?

Goenawan barangkali akan menutup catatannya dengan sebuah fragmen puisi, atau secarik sunyi dari masa lalu. Tapi hari ini, saya tutup dengan kegelisahan. Karena ketika pemimpin memilih berpihak, rakyat kehilangan tempat berpijak.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

KDM Harus BerTanggung Jawab – Tragedi Makan Gratis: Ketika Kerumunan Menanggalkan Nalar

Next Post

Ternyata Terung, Bukan Gajah

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Amerika di Usia 250 Tahun: Bangga pada Masa Lalu, Cemas pada Masa Kini, Bimbang Menatap Masa Depan
Feature

Amerika di Usia 250 Tahun: Bangga pada Masa Lalu, Cemas pada Masa Kini, Bimbang Menatap Masa Depan

July 1, 2026
Bisik-Bisik Pemakzulan: Prabowo dan Dua Wajah Kabinet yang Menyimpan Agenda
Feature

Prabowo Omon-Omon Antikorupsi – Kembalikan Ke UU KPK Awal – Berani?

July 1, 2026
Feature

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN PEMISAHAN PERAN REPRESENTATIF DAN REGULATIF ORGANISASI ADVOKAT

July 1, 2026
Next Post
Ternyata Terung, Bukan Gajah

Ternyata Terung, Bukan Gajah

Beras Oplosan: Kejahatan Perut Lapar yang Layak Disebut Kejahatan Kemanusiaan

Oplosan Beras: Kejahatan Kemanusiaan yang Harus Dihabisi!

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Robohnya Benteng Moral Kami
Feature

Robohnya Benteng Moral Kami

by Karyudi Sutajah Putra
July 1, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Ada apa dengan Sudewo, sehingga bekas Bupati Pati, Jawa Tengah,...

Read more
Hendardi: Jangan Normalisasi Multifungsi TNI, Sekolah Rakyat Bukan Barak Militer

Hendardi: Jangan Normalisasi Multifungsi TNI, Sekolah Rakyat Bukan Barak Militer

July 1, 2026
Perseteruan Hotman Paris vs Rasman Nasution Kian Sengit, Ini Kata IPW

Perseteruan Hotman Paris vs Rasman Nasution Kian Sengit, Ini Kata IPW

July 1, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Amerika di Usia 250 Tahun: Bangga pada Masa Lalu, Cemas pada Masa Kini, Bimbang Menatap Masa Depan

Amerika di Usia 250 Tahun: Bangga pada Masa Lalu, Cemas pada Masa Kini, Bimbang Menatap Masa Depan

July 1, 2026
Dihadiri Ratusan Tokoh dan Menteri Kabinet, Perayaan Hari Nasional Rusia 2026 Berlangsung Megah

Dihadiri Ratusan Tokoh dan Menteri Kabinet, Perayaan Hari Nasional Rusia 2026 Berlangsung Megah

July 1, 2026
Bisik-Bisik Pemakzulan: Prabowo dan Dua Wajah Kabinet yang Menyimpan Agenda

Prabowo Omon-Omon Antikorupsi – Kembalikan Ke UU KPK Awal – Berani?

July 1, 2026

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN PEMISAHAN PERAN REPRESENTATIF DAN REGULATIF ORGANISASI ADVOKAT

July 1, 2026
Jokowi Injak Kepala Kerbau, Tuai Sindiran: “Mantan Presiden Kok Masih Sibuk Cari Panggung Adat?”

Jokowi Injak Kepala Kerbau, Tuai Sindiran: “Mantan Presiden Kok Masih Sibuk Cari Panggung Adat?”

July 1, 2026
Robohnya Benteng Moral Kami

Robohnya Benteng Moral Kami

July 1, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Amerika di Usia 250 Tahun: Bangga pada Masa Lalu, Cemas pada Masa Kini, Bimbang Menatap Masa Depan

Amerika di Usia 250 Tahun: Bangga pada Masa Lalu, Cemas pada Masa Kini, Bimbang Menatap Masa Depan

July 1, 2026
Dihadiri Ratusan Tokoh dan Menteri Kabinet, Perayaan Hari Nasional Rusia 2026 Berlangsung Megah

Dihadiri Ratusan Tokoh dan Menteri Kabinet, Perayaan Hari Nasional Rusia 2026 Berlangsung Megah

July 1, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...