Oleh : Dr. Susilawati Saras SE.,MM.,MA.,M.han – Intelektual Bela Negara
Mengapa Indonesia dirasakan belum juga maju padahal sudah merdeka selama 78 tahun? Sejatinya di era modern, kemajuan lebih mudah dicapai dibanding negara Barat di zaman dulu yang harus melalui masa sulit amat panjang karena belum berkembang baik teknologi yang memudahkan hidup manusia.
Sejatinya perkembangan zaman yang terus berkembang baik ini menjadi peluang berharga bagi bangsa Indonesia untuk bisa mengembangkan kemampuan dan keahliannya menjadi lebih luas sebagai bangsa mandiri yang beradab.
Namun sepertinya hal ini tidak dipahami dan tidak disadari oleh bangsa Indonesia yang memiliki ciri sebagai bangsa religi spiritual. Di samping anggaran untuk pendidikan nasional terbesar dari APBN, namun output yang dirasakan belum juga sesuai dengan harapan.
Apa kendala yang menjadi penghambat itu semua? Jika ditelusuri dan diamati di ruang nasional, sering kali dirasakan sikap perilaku yang justru saling melemahkan, senang melihat orang lain susah, susah melihat orang lain senang. Mirip dengan karakter kepiting yang sangat suka “mencapit”, sehingga saat ada seseorang yang sedang berfokus pada upaya pencapaian tujuan menjadi terhambat oleh sikap perilaku yang demikian.
Akhir-akhir ini kita perhatikan di media sosial, beberapa kepala daerah ditetapkan sebagai tersangka korupsi, yang membuat miris tersangkanya adalah pasangan suami istri. Sejatinya keberadaan perempuan seperti yang kita ketahui bersama adalah sebagai pengayom dalam lingkup keluarga, ibu yang mengarahkan dan mengingatkan anggota keluarga lainnya agar menjauhi hal-hal tidak terpuji yang merugikan dan membahayakan diri, karena ibu bukan semata menggunakan pikir tetapi juga hati sebagai pengendali diri. Menjadi paradoks, di era modern seperti saat ini justru banyak kaum perempuan sebagai pelaku utama, sejatinya dapat mengingatkan suami yang hanya mengandalkan pikir.
Jumlah perempuan di Indonesia hampir sama besar dengan jumlah kaum pria, ini mengindikasikan bahwa kemajuan bangsa dan negara bergantung pada kualitas perempuan. Fakta yang dirasakan justru seringkali perempuan itu sendiri yang melemahkan kaum perempuan sehingga menambah sulit kondisi yang dialami oleh perempuan untuk maju. Contoh sederhana dalam organisasi perempuan, selalu dijumpai perempuan berkarakter kepiting walau sudah diupayakan anggota organisasi adalah orang-orang kapabel yang dapat dipercaya mampu mengemban amanah organisasi namun hal-hal yang melemahkan organisasi selalu ada. Umumnya orang yang terbiasa berorganisasi tentu sangat memahami bagaimana menjalankan kerja-kerja organisasi sesuai struktur organisasi, dengan tulus, fokus dan semangatnya adalah mengedepankan kebersamaan untuk saling mendukung serta menguatkan agar menghasilkan kebaikan dan kemanfaatan yang memajukan organisasi dalam mencapai tujuan. Jika sebaliknya, maka telah melemahkan pondasi organisasi disadari atau tidak, dan ini sangat merugikan organisasi tersebut. Dalam hal ini yang paling terbebani adalah pemimpin organisasi, karena punya tanggung jawab terbesar atas keberhasilan organisasinya dan menjadi terhambat oleh anggota atau pengurus organisasi yang berkarakter demikian. Inilah benih-benih yang melemahkan perempuan Indonesia untuk maju tampil di ruang sosial berbangsa otomatis menghambat kemajuan negara pada akhirnya.
Selain pendidikan formal, untuk dapat membangun karakter sadar berbangsa dan bernegara bagi setiap individu anak bangsa khususnya perempuan, agar dapat mengikuti pendidikan di Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI), untuk menumbuhkan semangat kebersamaan hidup sebagai suatu bangsa besar yang kaya budaya, etnik, suku dan lainnya yang menjadi berkah anugerah yang disyukuri dan diberdayakan secara bertanggung jawab.
Perempuan harus mendukung perempuan, Indonesia lebih mudah maju bermartabat (beradab).
























