Fusilatnews – Euronews – Virus West Nile untuk pertama kalinya terdeteksi pada nyamuk di Inggris, seiring meningkatnya suhu akibat perubahan iklim yang memperluas persebaran penyakit yang ditularkan melalui vektor ke wilayah Eropa utara dan barat dalam beberapa tahun terakhir.
Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) mengonfirmasi bahwa sejauh ini belum ditemukan kasus infeksi pada manusia, dan menilai risiko terhadap masyarakat umum masih “sangat rendah.” Namun, lembaga tersebut meningkatkan kewaspadaan serta menyarankan para dokter untuk mempertimbangkan uji diagnostik terhadap pasien dengan gejala yang mungkin berkaitan dengan virus ini.
Fragmen virus ditemukan pada dua kelompok nyamuk yang dikumpulkan dari lahan basah di Nottinghamshire pada Juli 2023. Dari total 200 kelompok sampel nyamuk yang diuji dari lokasi yang sama, 198 di antaranya dinyatakan negatif.
“Meskipun ini adalah deteksi pertama virus West Nile pada nyamuk di Inggris, hal ini tidak mengejutkan mengingat penyebaran virus yang sudah luas di Eropa,” ujar Dr. Meera Chand, Wakil Direktur UKHSA untuk bidang kesehatan perjalanan, zoonosis, infeksi baru, pernapasan, dan tuberkulosis.
Virus West Nile berasal dari keluarga yang sama dengan virus demam berdarah dan demam kuning. Virus ini biasanya menginfeksi burung dan menyebar melalui gigitan nyamuk. Manusia juga bisa tertular, namun sekitar 80 persen dari yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala apa pun.
Pertama kali diidentifikasi di Uganda pada 1937, virus ini umumnya ditemukan di Afrika, Timur Tengah, Asia Barat, dan Amerika Utara. Namun, kini virus tersebut semakin sering muncul di wilayah Eropa yang sebelumnya tidak terdampak, terutama akibat kondisi iklim yang makin menguntungkan bagi habitat nyamuk.
“Penemuan virus West Nile di Inggris mencerminkan perubahan lanskap yang lebih luas, di mana perubahan iklim mendorong penyebaran penyakit vektor ke area-area baru,” kata Dr. Arran Folly, arbovirolog dari Badan Kesehatan Hewan dan Tanaman Inggris (APHA).
James Logan, profesor entomologi medis dari London School of Hygiene and Tropical Medicine, menyerukan peningkatan pengawasan dari otoritas kesehatan manusia dan hewan untuk tetap berada “selangkah lebih maju” dalam menghadapi ancaman virus ini.
“Ini adalah peringatan bahwa Inggris tidak lagi kebal terhadap penyakit yang dulu hanya ditemukan di wilayah tropis,” ujarnya. “Kita telah memasuki era di mana kita harus belajar hidup lebih cerdas di tengah dunia yang juga dimiliki oleh serangga.”
Sumber: Euronews
























