Pendahuluan
Fenomena sosial seperti “makan gratis” sejatinya merupakan bentuk komunikasi massa yang kompleks. Dalam kerangka komunikasi publik, kegiatan ini melibatkan pesan (makanan gratis), saluran (media sosial, poster, komunikasi dari tokoh publik seperti Dedi Mulyadi), dan audiens (massa). Namun, yang luput dari perhatian adalah bagaimana manusia sebagai makhluk sosial akan merespons secara massal ketika stimulus berupa “gratisan” dihadirkan dalam ruang yang tidak dikontrol secara ketat. Kasus tragedi makan gratis yang menelan korban jiwa di acara yang diinisiasi oleh Dedi Mulyadi menjadi cerminan dari kegagalan memahami crowd behavior dalam studi komunikasi massa.
Teori Crowds dan Deindividuasi
Salah satu pendekatan yang relevan dalam memahami peristiwa ini adalah Teori Kerumunan (Crowd Theory), yang dikembangkan oleh Gustave Le Bon. Ia berpendapat bahwa ketika individu masuk dalam kerumunan, mereka cenderung kehilangan kontrol pribadi, identitas individual melebur, dan tindakan mereka menjadi impulsif, emosional, serta tidak rasional. Dalam konteks makan gratis ini, publik berkumpul bukan atas kesadaran kolektif yang terorganisir, tetapi atas dasar impulsif: “ada makanan gratis”. Nalar individu terserap oleh atmosfer kerumunan dan berubah menjadi respons primitif: berebut.
Fenomena ini diperkuat oleh teori Deindividuasi dari Philip Zimbardo yang menjelaskan bahwa dalam kelompok besar, orang kehilangan rasa tanggung jawab pribadi dan lebih mungkin bertindak ekstrem. Ketika ribuan orang hadir dengan harapan yang sama (mendapat makanan), tidak ada cukup struktur, regulasi, atau mekanisme komunikasi satu arah yang mengelola perilaku. Dalam situasi deindividuasi, logika digantikan oleh dorongan naluriah: bertahan, merebut, memenangkan ruang dan makanan.
Komunikasi Massa dan Efek Agenda-Setting
Secara komunikasi massa, publikasi program makan gratis telah menciptakan ekspektasi yang besar. Mengacu pada Teori Agenda-Setting dari McCombs dan Shaw, media (baik media arus utama maupun media sosial) memiliki kemampuan untuk tidak hanya memberitakan sesuatu, tapi juga memengaruhi apa yang dianggap penting oleh publik. Ketika pesan “akan ada makan gratis untuk 5000 orang” tersebar tanpa batas, pesan tersebut membentuk harapan kolektif. Namun, apa yang tidak ditampilkan (seperti sistem distribusi makanan, protokol keamanan, dan batas partisipasi) menjadi lubang besar yang menyebabkan bias persepsi: semua orang merasa mereka berhak dan bisa mendapatkan makanan itu, sehingga semua datang.
Efek Bandwagon dan Psikologi Persepsi
Muncul pula efek bandwagon, di mana semakin banyak orang yang tahu dan bergabung, maka makin besar dorongan orang lain untuk ikut. Ini adalah respons khas manusia terhadap persepsi “keramaian adalah validasi”. Ketika ribuan orang sudah hadir, mereka tidak berpikir ulang, tidak menyelidiki kapasitas lokasi atau kemungkinan gagal mendapat jatah, tapi justru makin meyakini bahwa “makan gratis ini nyata dan harus saya perjuangkan”.
Kegagalan Komunikasi Risiko dan Manajemen Kerumunan
Dalam komunikasi publik, risk communication menjadi sangat penting. Ketika ada potensi kerumunan besar, pengelola pesan wajib menyampaikan risiko secara transparan. Dedi Mulyadi sebagai penggagas acara ini tampaknya terlalu menekankan aspek populisme—menarik simpati publik melalui simbol “pemimpin yang berbagi”—tanpa memperhitungkan sisi teknokratis dan risiko keamanan. Ia gagal mengantisipasi bahwa ketika massa datang dalam jumlah besar, dibutuhkan sistem komunikasi dua arah yang kuat: penyaluran informasi yang jelas, penyediaan fasilitas kontrol kerumunan, dan edukasi publik terkait protokol.
Kesimpulan
Tragedi ini bukan semata tentang makanan gratis, tetapi tentang bagaimana pesan publik membentuk perilaku massal. Ini adalah pelajaran besar tentang pentingnya memahami karakter manusia ketika berada dalam kerumunan dan pentingnya komunikasi publik yang bertanggung jawab. Dedi Mulyadi tahu bahwa ia akan memberi makan 5.000 orang, namun ia lupa bahwa 5.000 manusia bukanlah angka statis—mereka adalah individu yang, ketika berada dalam kerumunan, bisa berubah menjadi entitas yang tidak rasional, impulsif, dan berbahaya. Dalam komunikasi massa, ketika emosi dikedepankan tanpa logistik dan struktur pengelolaan, yang tersisa hanyalah bencana.
Referensi Teoritis:
- Gustave Le Bon, The Crowd: A Study of the Popular Mind
- Philip Zimbardo, The Lucifer Effect: Understanding How Good People Turn Evil
- McCombs & Shaw, The Agenda-Setting Function of Mass Media
- Festinger et al., Deindividuation Theory
- Douglas Kellner, Media Spectacle and the Crisis of Democracy
























