Dunia ini memang aneh. Tapi yang lebih aneh dari keanehan itu adalah ketika Benjamin Netanyahu—perdana menteri dengan tangan berlumur debu Gaza dan darah anak-anak Palestina—mencalonkan Donald J. Trump, seorang taipan New York yang hobi membuat cuitan lebih banyak dari keputusan presiden, untuk Hadiah Nobel… Perdamaian.
Tunggu sebentar. Mari kita berdiri sejenak dan bertepuk tangan. Bukan untuk menyambut perdamaian, tentu, tapi untuk absurditas tingkat tinggi yang bahkan Kafka pun akan kesulitan menuliskannya dalam novelnya.
Dua manusia, dua mulut, dua sejarah yang saling berkelindan dalam urusan mengobrak-abrik dunia—secara literal dan simbolik—tiba-tiba berdandan seperti nabi-nabi zaman kiwari yang ingin menyelamatkan dunia dengan cara mereka sendiri: membakarnya terlebih dahulu.
Netanyahu: Sang Arsitek Amnesia Kemanusiaan
Netanyahu, politisi veteran yang menjadikan penderitaan sebagai panggung politik, tampaknya ingin mengukir namanya di buku sejarah sebagai pelayan setia penindasan. Ia menyebut Trump sebagai “sahabat sejati perdamaian” — tentu saja perdamaian versi dirinya: yang berarti, diamnya dunia saat satu bangsa dimusnahkan dengan senjata canggih atas nama “hak untuk bertahan hidup.”
Ia lupa bahwa dalam kamus kemanusiaan, membela diri tidak berarti menginjak kepala anak-anak hingga tak bersuara. Tapi, ya sudahlah. Ini dunia pasca-kebenaran. Di mana narasi dibangun bukan dari nurani, melainkan dari kuasa dan koalisi senjata.
Trump: Sang Juru Damai yang Gemar Menjual Senjata
Donald Trump, pria jingga dari Manhattan, pernah mencetak sejarah dengan memboyong duta besar Amerika ke Yerusalem. Ia menyebutnya “langkah besar untuk perdamaian.” Tapi dunia tahu: itu adalah pemantik api yang membakar reruntuhan perjanjian lama.
Namun, dengan percaya diri bak tokoh drama Yunani, ia menerima pencalonan dari Netanyahu—seolah yang telah ia lakukan selama masa jabatannya bukanlah memecah belah, melainkan menyatukan. Ia membela supremasi kulit putih di satu sisi, menutup pintu bagi pengungsi Suriah di sisi lain, dan menjual senjata miliaran dolar kepada para diktator di Timur Tengah atas nama stabilitas.
Kalau ini disebut perdamaian, maka Hitler pun layak dinominasikan atas keberhasilannya menertibkan Eropa—setidaknya selama beberapa tahun.
Dunia Terbalik: Nobel, Mana Nuranimu?
Pertanyaannya sekarang, di mana letak moralitas dalam pencalonan ini? Apakah Nobel Perdamaian sudah kehilangan maknanya dan berubah menjadi semacam piagam penghargaan untuk “prestasi politik yang menguntungkan para pemilik senjata”? Ataukah ini bagian dari lelucon besar dunia modern, di mana ironi menjadi roti harian dan absurditas adalah minumannya?
Ketika Obama yang penuh senyum pun bisa menang Nobel sambil tetap melanjutkan serangan drone di Pakistan dan Yaman, kita tahu bahwa penghargaan itu bukan lagi soal perdamaian, tapi permainan.
Dan sekarang, dua pria dengan sejarah paling berdarah mencalonkan satu sama lain untuk perdamaian. Dunia ini benar-benar seperti sirkus besar—dan kita semua adalah penontonnya, tertawa dalam kebingungan, menangis dalam keterpaksaan.
Akhir Kata: Kita yang Waras Adalah Minoritas
Mungkin kita tidak bisa melawan kekuasaan mereka. Tapi kita bisa menuliskan. Kita bisa bersaksi. Kita bisa menjadi lilin kecil yang menolak mati di tengah gelapnya kepalsuan global.
Karena kalau Netanyahu dan Trump bisa dinominasikan untuk perdamaian, maka jangan salahkan kami bila suatu saat nanti, kami mencalonkan badut kampung sebagai rektor universitas, dan maling ayam sebagai Menteri Kehakiman.
Toh, sekarang segalanya sudah menjadi mungkin—di dunia yang tidak lagi waras.
























