• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Aya Aya Wae

Promethean Shame dalam Politik Dinasti: Ketika Jokowi Tumbang oleh Ciptaannya Sendiri

Ali Syarief by Ali Syarief
July 13, 2025
in Aya Aya Wae, Feature, Tokoh/Figur
0
Gibran Syah Secara Legal (Hans Kelsen) dan Akan Rubuh Karena Tidak Legitimate (Max Weber)
Share on FacebookShare on Twitter

Dalam mitologi Yunani, Prometheus mencuri api dari para dewa dan memberikannya kepada manusia, menjadikan manusia sebagai makhluk berdaya cipta. Namun dalam tafsir modern filsuf Günther Anders, kisah itu berubah tragis: manusia modern merasa malu dan rendah diri terhadap ciptaan-ciptaannya sendiri, karena teknologi dan mesin telah melampaui kemampuan penciptanya. Inilah yang disebut sebagai Promethean shame.

Tapi bagaimana jika konsep ini dibawa keluar dari ranah teknologi, dan diterapkan dalam lanskap politik kontemporer Indonesia? Bagaimana jika ciptaan itu bukanlah mesin atau algoritma, melainkan seorang anak—tepatnya, anak presiden—yang dilahirkan dan dibesarkan bukan hanya secara biologis, tetapi secara politis?

Kasus Jokowi dan Gibran adalah cerminan paling kasatmata dari Promethean shame dalam versi kekuasaan. Jokowi, seorang presiden yang dahulu dielu-elukan sebagai antitesis dari oligarki dan dinasti politik, justru bertransformasi menjadi arsitek dari kekuasaan keluarga yang ia sendiri dulu tentang. Ia menciptakan ruang, melicinkan jalan, dan membuka konstitusi demi mendorong anak kandungnya, Gibran Rakabuming Raka, menjadi wakil presiden di usia yang bahkan belum matang secara pengalaman, apalagi kebijakan.

Fenomena ini bisa dibaca sebagai Promethean gesture—upaya seorang pemimpin “memberi api” kekuasaan kepada anaknya. Tapi alih-alih membanggakan, yang muncul justru keraguan, kecanggungan, bahkan rasa malu kolektif. Publik menyaksikan bagaimana prosesnya penuh manipulasi hukum, kooptasi lembaga yudisial, hingga kooptasi opini publik. Dalam bahasa Anders: kita takjub pada kemampuan manusia mencipta (atau dalam hal ini, merekayasa), tapi sekaligus terperangkap dalam rasa malu terhadap hasil rekayasa itu.

Dan kini, seperti Prometheus yang dirantai di tebing karena memberi kekuasaan pada manusia, Jokowi pun perlahan menghadapi dilema dari ciptaannya sendiri. Ia telah membuka gerbang bagi Gibran, tapi juga sekaligus membuka luka kolektif: kehancuran batas-batas etika kekuasaan, matinya meritokrasi, dan bangkitnya politik keluarga yang tak lagi malu-malu.

Pertanyaannya kini bukan hanya: “Apakah Gibran layak?”, tetapi lebih dalam: “Apakah Jokowi sedang mengalami Promethean shame—rasa malu karena sadar telah menciptakan monster politik yang akan mengguncang legitimasi warisannya sendiri?”

Fenomena ini memberi kita pelajaran yang getir: ketika kekuasaan dijadikan warisan, bukan amanat; ketika politik diubah menjadi proyek pribadi, bukan pengabdian publik—maka pemimpin bukan hanya menghadapi kritik dari luar, tetapi juga rasa malu dari dalam. Bukan dari rakyat, tapi dari nurani yang terlambat menyadari bahwa apa yang diciptakannya telah merusak tatanan yang dulu ia jaga.

Jokowi, sang tukang kayu yang pernah menantang istana, kini menjadi arsitek dari istana warisan. Dan Gibran, sang ciptaan politik, bisa jadi menjadi simbol dari Promethean shame terbesar dalam sejarah demokrasi pasca-reformasi.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

China: Seperti Apa Rumah Sakit AI Itu?

Next Post

Keanehan di Antara Dua Sosok Figur yang Memporakporandakan Peradaban Manusia Dunia

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Feature

Ketika Akhlak Melahirkan Syariah

May 16, 2026
Feature

Dari Mulyono Terbitlah Mulyadi

May 16, 2026
Akhlak Dedi Mulyadi: Masih Akhlak Bupati
daerah

Kinerja KDM Dinilai Buruk, DPRD Jabar Sodorkan 83 Catatan Keras untuk Pemprov

May 15, 2026
Next Post
Trump : Netanyahu Tidak Siap Menghadapi Serangan Hamas

Keanehan di Antara Dua Sosok Figur yang Memporakporandakan Peradaban Manusia Dunia

27 Tersangka  Tindak Pidana Terorisme  Ditangkap Densus 88 Di Tiga Wilayah

Polri Ajukan Tambahan Anggaran Rp63,4 Triliun untuk 2026, Naik 58 Persen dari Pagu Indikatif

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Putusan MK tentang Presidential Threshold adalah Tragedi Demokrasi
Feature

Film Itu Karya Fiksi, Prof Yusril!

by Karyudi Sutajah Putra
May 15, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Menteri Koordinator Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi...

Read more
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

May 13, 2026
Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

May 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Ketika Akhlak Melahirkan Syariah

May 16, 2026

Dari Mulyono Terbitlah Mulyadi

May 16, 2026
Akhlak Dedi Mulyadi: Masih Akhlak Bupati

Kinerja KDM Dinilai Buruk, DPRD Jabar Sodorkan 83 Catatan Keras untuk Pemprov

May 15, 2026
Trump Temui Xi di Beijing, China Tegaskan Peringatan Keras Soal Taiwan

Trump Temui Xi di Beijing, China Tegaskan Peringatan Keras Soal Taiwan

May 15, 2026
KAHMI Dukung Iran, Singgung Dukungan Prabowo terhadap BoP

KAHMI Dukung Iran, Singgung Dukungan Prabowo terhadap BoP

May 15, 2026
“Bacot” KSAD dan Akrobat Regulasi di Balik Pangkat Sang Ajudan

“Bacot” KSAD dan Akrobat Regulasi di Balik Pangkat Sang Ajudan

May 15, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Ketika Akhlak Melahirkan Syariah

May 16, 2026

Dari Mulyono Terbitlah Mulyadi

May 16, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...