• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Dari Mulyono Terbitlah Mulyadi

Pencitraan, Politik Aura, dan Kepemimpinan Era Media Sosial

fusilat by fusilat
May 16, 2026
in Feature, Science & Cultural
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : A. Hadiat

Di era media sosial, kepemimpinan tidak lagi bertumpu sepenuhnya pada gagasan, ideologi, atau kemampuan teknokratis. Politik hari ini bergerak dalam ruang yang berbeda: ruang persepsi. Yang dilihat publik seringkali lebih penting daripada apa yang benar-benar dikerjakan. Dalam konteks inilah, muncul fenomena yang dapat dibaca melalui satu benang merah: dari Mulyono lahirlah Mulyadi.

“Mulyono” di sini bukan sekadar nama kecil Jokowi yang belakangan ramai diperbincangkan publik, melainkan simbol dari sebuah model politik baru—politik kesederhanaan visual, politik kedekatan emosional, dan politik pencitraan yang dibungkus dalam aura kerakyatan. Sementara “Mulyadi” dapat dibaca sebagai representasi lanjutan dari model yang sama, yang kini menjelma dalam figur-figur kepala daerah atau pemimpin populis baru seperti Dedi Mulyadi.

Fenomena ini sesungguhnya telah dijelaskan secara menarik dalam buku Politik Aura karya Ali Syarief. Bahwa di era digital, politik tidak lagi semata-mata pertarungan program, melainkan pertarungan aura. Aura adalah citra emosional yang dibangun terus-menerus melalui media, terutama media sosial. Ia bekerja bukan pada nalar, tetapi pada rasa.

Jokowi adalah prototipe paling berhasil dari model ini. Ia hadir dengan pakaian sederhana, bahasa yang ringan, blusukan yang teatrikal, dan ekspresi tubuh yang sengaja dibangun untuk menghadirkan kesan “orang biasa.” Dalam teori komunikasi politik modern, ini disebut emotional branding—merek politik yang dibangun melalui kedekatan psikologis dengan massa.

Dan publik marjinal menjadi basis paling subur bagi politik semacam ini.

Mengapa? Karena masyarakat marjinal hidup dalam tekanan ekonomi, keterbatasan akses pendidikan, dan kelelahan menghadapi kompleksitas hidup. Dalam kondisi seperti itu, politik rasional sering kalah oleh politik emosional. Mereka tidak mencari pemimpin yang mampu menjelaskan teori makroekonomi atau geopolitik global. Mereka mencari figur yang terlihat dekat, terasa sederhana, dan tampak memahami penderitaan mereka.

Maka lahirlah era kepemimpinan visual.

Pemimpin bukan lagi dinilai dari kualitas institusi yang dibangun, tetapi dari seberapa viral videonya. Bukan dari kualitas kebijakan jangka panjang, tetapi dari seberapa sering ia muncul di beranda TikTok, Instagram, atau YouTube. Kamera menjadi alat legitimasi baru. Konten menjadi instrumen kekuasaan baru.

Di titik inilah Dedi Mulyadi menemukan momentumnya.

Ia memahami betul bahasa psikologis masyarakat media sosial. Ia hadir bukan sebagai birokrat formal, tetapi sebagai “tokoh rakyat” yang masuk ke kampung-kampung, berbicara dengan logat lokal, membantu warga miskin di depan kamera, memeluk orang kecil, menenangkan anak jalanan, hingga menghibur publik dengan gaya teatrikal Sunda yang cair dan emosional.

Politik semacam ini sangat efektif di era digital. Sebab media sosial bekerja dengan logika emosi, bukan logika akademik. Algoritma tidak menyukai kedalaman berpikir; algoritma menyukai keterkejutan, kesedihan, kemarahan, haru, dan hiburan. Karena itu, pemimpin yang mampu memainkan emosi publik akan lebih mudah mendapatkan perhatian dibandingkan dengan pemimpin yang serius membangun sistem.

Sayangnya, politik aura seringkali melahirkan paradoks.

Aura dapat menutupi substansi. Pencitraan dapat mengalahkan kenyataan. Seorang pemimpin bisa tampak sangat merakyat di media sosial, sementara kebijakannya belum tentu menyelesaikan akar persoalan rakyat. Kamera bisa merekam adegan yang memberi bantuan kepada satu keluarga miskin, tetapi kamera tidak pernah mampu menunjukkan kerusakan sistemik yang membuat jutaan keluarga tetap miskin.

Di sinilah bahaya terbesar demokrasi digital.

Masyarakat perlahan digiring untuk memilih berdasarkan rasa suka, bukan kapasitas. Berdasarkan viralitas, bukan kualitas. Politik akhirnya berubah menjadi industri hiburan. Pemimpin menjadi influencer. Kekuasaan dipasarkan layaknya konten.

Dan ketika masyarakat terlalu lama hidup dalam politik pencitraan, mereka kehilangan kemampuan membedakan antara realitas dan pertunjukan.

Padahal sejarah selalu menunjukkan: bangsa besar tidak dibangun oleh pemimpin yang pandai tampil, tetapi oleh pemimpin yang mampu membangun institusi, menegakkan keadilan, dan menciptakan peradaban berpikir.

Namun kita hidup di zaman yang berbeda. Zaman ketika suara yang paling keras sering dianggap paling benar. Zaman ketika video pendek lebih dipercaya dibanding kajian panjang. Zaman ketika kesederhanaan visual lebih laku daripada kecerdasan intelektual.

Karena itu, “dari Mulyono terbitlah Mulyadi” bukan sekadar sindiran politik. Ia adalah penanda lahirnya generasi baru kepemimpinan media sosial—kepemimpinan yang dibangun di atas aura, viralitas, dan kedekatan emosional dengan massa marjinal.

Pertanyaannya kemudian: apakah bangsa ini sedang membangun demokrasi yang matang, atau hanya sedang memproduksi selebritas politik secara massal?

Sebab jika politik terus bergerak ke arah pencitraan tanpa substansi, maka masa depan demokrasi bukan lagi ditentukan oleh kualitas pemikiran, melainkan oleh siapa yang paling piawai memainkan kamera.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Kinerja KDM Dinilai Buruk, DPRD Jabar Sodorkan 83 Catatan Keras untuk Pemprov

fusilat

fusilat

Related Posts

“Bacot” KSAD dan Akrobat Regulasi di Balik Pangkat Sang Ajudan
Birokrasi

“Bacot” KSAD dan Akrobat Regulasi di Balik Pangkat Sang Ajudan

May 15, 2026
Dulu Negara Menontonkan Mimpi, Kini Rakyat Menonton Kegagalan
Feature

Dulu Negara Menontonkan Mimpi, Kini Rakyat Menonton Kegagalan

May 15, 2026
Dari Jalanan ke Kursi Kekuasaan: Ketika Aktivis Menjadi Peredam Demokrasi
Feature

Dari Jalanan ke Kursi Kekuasaan: Ketika Aktivis Menjadi Peredam Demokrasi

May 15, 2026

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Putusan MK tentang Presidential Threshold adalah Tragedi Demokrasi
Feature

Film Itu Karya Fiksi, Prof Yusril!

by Karyudi Sutajah Putra
May 15, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Menteri Koordinator Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi...

Read more
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

May 13, 2026
Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

May 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Dari Mulyono Terbitlah Mulyadi

May 16, 2026
Akhlak Dedi Mulyadi: Masih Akhlak Bupati

Kinerja KDM Dinilai Buruk, DPRD Jabar Sodorkan 83 Catatan Keras untuk Pemprov

May 15, 2026
Trump Temui Xi di Beijing, China Tegaskan Peringatan Keras Soal Taiwan

Trump Temui Xi di Beijing, China Tegaskan Peringatan Keras Soal Taiwan

May 15, 2026
KAHMI Dukung Iran, Singgung Dukungan Prabowo terhadap BoP

KAHMI Dukung Iran, Singgung Dukungan Prabowo terhadap BoP

May 15, 2026
“Bacot” KSAD dan Akrobat Regulasi di Balik Pangkat Sang Ajudan

“Bacot” KSAD dan Akrobat Regulasi di Balik Pangkat Sang Ajudan

May 15, 2026
Dulu Negara Menontonkan Mimpi, Kini Rakyat Menonton Kegagalan

Dulu Negara Menontonkan Mimpi, Kini Rakyat Menonton Kegagalan

May 15, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Dari Mulyono Terbitlah Mulyadi

May 16, 2026
Akhlak Dedi Mulyadi: Masih Akhlak Bupati

Kinerja KDM Dinilai Buruk, DPRD Jabar Sodorkan 83 Catatan Keras untuk Pemprov

May 15, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...