• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Dari Jalanan ke Kursi Kekuasaan: Ketika Aktivis Menjadi Peredam Demokrasi

Ali Syarief by Ali Syarief
May 15, 2026
in Feature, Tokoh/Figur
0
Dari Jalanan ke Kursi Kekuasaan: Ketika Aktivis Menjadi Peredam Demokrasi
Share on FacebookShare on Twitter

FusilatNews – Dulu mereka berdiri di barisan paling depan. Berteriak lantang melawan ketidakadilan, mengutuk oligarki, menuding penguasa sebagai musuh rakyat. Mereka adalah wajah perlawanan, simbol keberanian moral, dan harapan publik bahwa kekuasaan harus selalu diawasi. Namun sejarah politik Indonesia berkali-kali menunjukkan satu kenyataan pahit: banyak aktivis berubah ketika masuk ke dalam lingkar kekuasaan. Mereka yang dahulu menggigit, kini justru menjadi tameng kekuasaan itu sendiri.

Di era pemerintahan Prabowo Subianto, fenomena ini tampak makin terang. Satu per satu, aktivis, oposisi, dan tokoh yang sebelumnya dikenal kritis terhadap negara kini direkrut masuk kabinet, lembaga negara, hingga perusahaan pelat merah. Nama terbaru adalah Mohammad Jumhur Hidayat yang dilantik sebagai Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup.

Sebelum Jumhur, publik sudah menyaksikan sejumlah nama lain mendapat tempat di pemerintahan: Budiman Sudjatmiko, Andi Arief, Agus Jabo, hingga Nezar Patria. Sebagian pernah berada di kubu oposisi, sebagian dikenal sebagai pengkritik keras kekuasaan, dan sebagian lain membangun reputasi melalui perjuangan jalanan serta idealisme demokrasi.

Tentu tidak ada larangan moral bagi aktivis untuk masuk pemerintahan. Justru secara teoritis, kehadiran mereka seharusnya menjadi energi korektif dari dalam sistem. Aktivis dianggap membawa sensitivitas terhadap penderitaan rakyat, keberanian melawan penyalahgunaan kekuasaan, serta kesadaran bahwa negara harus tunduk pada kepentingan publik. Mereka diharapkan menjadi pengingat bahwa kekuasaan bukan tujuan, melainkan alat pengabdian.

Sayangnya, kenyataan sering bergerak ke arah sebaliknya.

Begitu masuk ke dalam struktur kekuasaan, banyak aktivis kehilangan daya kritisnya. Mereka seperti kerupuk yang terkena angin: melempem. Suara keras yang dulu menggema di jalanan berubah menjadi bisikan hati-hati di ruang rapat. Bahkan sebagian berubah menjadi pembela fanatik rezim, seolah lupa bahwa dulu mereka hidup dari tradisi kritik terhadap kekuasaan.

Yang lebih ironis, sebagian eks-aktivis justru tampak alergi terhadap kritik. Mereka yang dahulu menuduh penguasa antidemokrasi kini menggunakan logika serupa untuk membungkam lawan. Seakan jabatan telah mengubah orientasi perjuangan: dari membela rakyat menjadi menjaga kursi.

Ada banyak kemungkinan mengapa itu terjadi. Kekuasaan memang punya daya jinak yang luar biasa. Ia mampu mengubah idealisme menjadi kompromi, keberanian menjadi kalkulasi, dan perlawanan menjadi kenyamanan. Jabatan, fasilitas negara, akses ekonomi, hingga kedekatan dengan pusat kekuasaan perlahan menciptakan ketergantungan psikologis. Orang yang sudah menikmati ruang VIP kekuasaan biasanya tak lagi nyaman berdiri di tengah demonstran.

Dalam konteks pengangkatan Jumhur Hidayat, publik pun wajar bertanya: apakah ini murni kebutuhan pemerintahan atau bagian dari strategi politik meredam oposisi sosial?

Sebagai tokoh buruh yang punya pengaruh kuat, penunjukan Jumhur sulit dilepaskan dari momentum Hari Buruh Internasional dan meningkatnya potensi tekanan kelompok pekerja terhadap pemerintah. Memasukkan tokoh gerakan ke dalam kabinet sering kali bukan hanya soal kapasitas, tetapi juga metode penjinakan. Negara tidak perlu membungkam oposisi dengan kekerasan bila oposisi itu bisa dirangkul dan dijadikan bagian dari kekuasaan.

Jumhur membantah anggapan tersebut. Ia mengatakan kedekatannya dengan Prabowo sudah terjalin sejak 1990-an dan namanya telah masuk bursa kabinet sejak 2024. Pernyataan itu mungkin benar. Namun dalam politik, persepsi publik tetap penting. Dan persepsi yang muncul hari ini adalah: oposisi sedang dipelihara agar tidak lagi menjadi ancaman.

Masalahnya bukan pada siapa yang diangkat, melainkan pada apa yang terjadi setelah pengangkatan itu. Publik tidak membutuhkan aktivis yang sekadar pindah ruangan dari jalanan ke kantor kementerian. Publik membutuhkan keberanian untuk tetap hidup meski telah memakai jas kekuasaan.

Sejarah Indonesia terlalu sering dipenuhi kisah tentang orang-orang yang dulu melawan penguasa, tetapi akhirnya hanya menjadi dekorasi demokrasi. Mereka masuk sistem dengan janji perubahan, namun kemudian larut menjadi bagian dari mesin kekuasaan yang dulu mereka kritik.

Dan ketika semua oposisi berhasil dirangkul, demokrasi kehilangan salah satu unsur terpentingnya: suara yang berani mengatakan “tidak” kepada penguasa.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Svara Mandiri Tampil di Jepang, Bawakan Angklung dalam Ajang Promosi Budaya Indonesia-Jepang

Next Post

Dulu Negara Menontonkan Mimpi, Kini Rakyat Menonton Kegagalan

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

“Bacot” KSAD dan Akrobat Regulasi di Balik Pangkat Sang Ajudan
Birokrasi

“Bacot” KSAD dan Akrobat Regulasi di Balik Pangkat Sang Ajudan

May 15, 2026
Dulu Negara Menontonkan Mimpi, Kini Rakyat Menonton Kegagalan
Feature

Dulu Negara Menontonkan Mimpi, Kini Rakyat Menonton Kegagalan

May 15, 2026
Putusan MK tentang Presidential Threshold adalah Tragedi Demokrasi
Feature

Film Itu Karya Fiksi, Prof Yusril!

May 15, 2026
Next Post
Dulu Negara Menontonkan Mimpi, Kini Rakyat Menonton Kegagalan

Dulu Negara Menontonkan Mimpi, Kini Rakyat Menonton Kegagalan

“Bacot” KSAD dan Akrobat Regulasi di Balik Pangkat Sang Ajudan

"Bacot" KSAD dan Akrobat Regulasi di Balik Pangkat Sang Ajudan

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Putusan MK tentang Presidential Threshold adalah Tragedi Demokrasi
Feature

Film Itu Karya Fiksi, Prof Yusril!

by Karyudi Sutajah Putra
May 15, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Menteri Koordinator Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi...

Read more
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

May 13, 2026
Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

May 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
“Bacot” KSAD dan Akrobat Regulasi di Balik Pangkat Sang Ajudan

“Bacot” KSAD dan Akrobat Regulasi di Balik Pangkat Sang Ajudan

May 15, 2026
Dulu Negara Menontonkan Mimpi, Kini Rakyat Menonton Kegagalan

Dulu Negara Menontonkan Mimpi, Kini Rakyat Menonton Kegagalan

May 15, 2026
Dari Jalanan ke Kursi Kekuasaan: Ketika Aktivis Menjadi Peredam Demokrasi

Dari Jalanan ke Kursi Kekuasaan: Ketika Aktivis Menjadi Peredam Demokrasi

May 15, 2026
Svara Mandiri Tampil di Jepang, Bawakan Angklung dalam Ajang Promosi Budaya Indonesia-Jepang

Svara Mandiri Tampil di Jepang, Bawakan Angklung dalam Ajang Promosi Budaya Indonesia-Jepang

May 15, 2026
Putusan MK tentang Presidential Threshold adalah Tragedi Demokrasi

Film Itu Karya Fiksi, Prof Yusril!

May 15, 2026

DENDA DAMAI KORUPTOR DAN INGATAN REFORMASI YANG MEMUDAR

May 14, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

“Bacot” KSAD dan Akrobat Regulasi di Balik Pangkat Sang Ajudan

“Bacot” KSAD dan Akrobat Regulasi di Balik Pangkat Sang Ajudan

May 15, 2026
Dulu Negara Menontonkan Mimpi, Kini Rakyat Menonton Kegagalan

Dulu Negara Menontonkan Mimpi, Kini Rakyat Menonton Kegagalan

May 15, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist