Pada zaman Orde Baru, ada satu hiburan rakyat yang sangat dinanti warga desa: layar tancap. Sebuah layar putih dibentangkan di lapangan, kabel-kabel ditarik dari gardu seadanya, proyektor meraung-raung, lalu warga berdatangan membawa tikar, anak-anak berlarian, pedagang gorengan panen pembeli. Malam pun berubah menjadi pesta rakyat kecil.
Kala itu, Departemen Penerangan Republik Indonesia menjadikan layar tancap bukan sekadar hiburan. Ia adalah alat komunikasi politik negara. Sebelum film diputar, rakyat disuguhi pesan-pesan pembangunan, program KB, swasembada pangan, transmigrasi, hingga glorifikasi stabilitas nasional. Negara hadir melalui gambar bergerak. Sementara pihak swasta ikut membonceng: memasang iklan rokok, sabun, hingga produk-produk konsumsi. Rakyat dihibur, negara menyosialisasikan program, swasta mencari keuntungan. Semua memperoleh panggung masing-masing.
Tetapi, layar tancap pada akhirnya bukan hanya soal film. Ia adalah ruang berkumpul. Tempat rakyat menemukan perasaan bersama di tengah hidup yang serba terbatas.
Kini zaman berubah. Bioskop menjamur di kota-kota kecil. Televisi digital masuk ke kamar-kamar. Film bisa ditonton lewat telepon genggam. Namun anehnya, budaya berkumpul untuk menonton bersama tidak mati. Ia hanya berganti rupa. Namanya sekarang: nonton bareng atau nobar.
Fenomena ini menarik. Sebab inti dari nobar sesungguhnya bukan karena orang tak mampu membeli tiket bioskop. Banyak peserta nobar justru bisa saja menonton sendiri di rumah. Tetapi manusia, sejak dahulu, memang makhluk emosional yang membutuhkan rasa kebersamaan. Ada energi sosial yang tidak bisa digantikan oleh layar pribadi.
Karena itu, pertandingan sepak bola menjadi ritual baru rakyat modern. Orang rela berdesakan di warung kopi, halaman kantor desa, kafe, bahkan di jalanan hanya untuk menyaksikan klub atau tim nasional favoritnya bermain. Teriakan gol terasa lebih nikmat ketika diteriakkan bersama-sama. Kekalahan terasa lebih ringan ketika dipikul berjamaah.
Tetapi sekarang, muncul fenomena yang lebih jauh dari sekadar hiburan olahraga. Yang ramai justru nobar “Pesta Babi”.
Di titik inilah, nobar mengalami metamorfosis sosial-politik. Ia bukan lagi sekadar aktivitas hiburan kolektif, melainkan gejala psikologis publik. Ada kegelisahan yang sedang mencari saluran. Ada kesadaran yang mulai menemukan bentuknya.
Fenomena nobar “Pesta Babi” menjadi semacam simbol diam-diam bahwa rakyat mulai membaca keadaan. Film itu tidak hanya ditonton sebagai karya visual, tetapi juga sebagai cermin sosial. Penonton menangkap pesan moral, sindiran, bahkan kemarahan terhadap cara negara dikelola. Dalam ruang gelap pemutaran, orang-orang menemukan keberanian kolektif untuk merasakan hal yang sama: kecewa, curiga, atau muak.
Dan di sinilah kekuasaan biasanya mulai gelisah.
Sebab rezim mana pun pada dasarnya tidak terlalu takut pada kritik individu. Kekuasaan justru takut ketika emosi sosial bertemu dalam ruang bersama. Ketika orang tertawa pada adegan yang sama, marah pada simbol yang sama, lalu pulang membawa kesimpulan yang sama. Dari sanalah kesadaran politik sering lahir.
Mungkin itu sebabnya muncul sikap pelarangan terhadap nobar dan pemutaran film tersebut. Ironis sekali. Dahulu, negara Orde Baru menggunakan layar tancap untuk menyebarkan pesan kekuasaan. Kini, ketika layar dipakai rakyat untuk membaca kekuasaan, justru dianggap ancaman.
Padahal sejarah selalu menunjukkan: melarang tontonan tidak pernah benar-benar membunuh pikiran. Ia justru sering memperbesar rasa ingin tahu. Sesuatu yang biasa saja bisa berubah menjadi fenomenal ketika dibungkam. Larangan kadang menjadi promosi paling efektif.
Rakyat Indonesia memang unik. Mereka mungkin diam di ruang formal, tetapi berbicara lantang lewat budaya populer. Dari warung kopi, meme, musik, sepak bola, hingga film. Dan penguasa yang gagal membaca tanda-tanda kebudayaan biasanya terlambat memahami perubahan suasana batin masyarakatnya sendiri.
Layar tancap dahulu adalah alat negara untuk membentuk kesadaran rakyat. Nobar hari ini perlahan berubah menjadi alat rakyat untuk menilai negara.
Dan barangkali, di situlah sesungguhnya kegaduhan itu bermula.
























