• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Kehadiran Gibran – Bangsa ini Sedang Menyia-nyiakan Kesempatan Emas untuk Tumbuh Dewasa

Tragedi Peradaban

Ali Syarief by Ali Syarief
May 2, 2025
in Feature, Politik
0
Kehadiran Gibran – Bangsa ini Sedang Menyia-nyiakan Kesempatan Emas untuk Tumbuh Dewasa
Share on FacebookShare on Twitter

Dari semua aspek, kehadiran Gibran Rakabuming Raka di panggung politik Indonesia—baik sebagai Wali Kota Solo maupun sebagai Wakil Presiden terpilih—adalah isyarat menyakitkan tentang bagaimana sejarah sebuah bangsa bisa berbelok arah, bukan menuju kemajuan, tapi kemunduran. Ia bukan sekadar fenomena politik, melainkan gejala dari peradaban yang menolak belajar, menolak dewasa, dan enggan menatap masa depan secara waras.

Mari kita mulai dari premis dasarnya: Gibran bukan sosok yang tumbuh dari jalan panjang pengabdian, bukan pula politisi yang dibesarkan oleh waktu dan pengalaman. Ia meloncat ke dalam sistem politik bukan sebagai hasil seleksi alami demokrasi, tetapi sebagai putra presiden yang disodorkan kepada publik lewat pintu istimewa. Semua tahu jalan itu dibukakan oleh Mahkamah Konstitusi yang dipaksa menyembah kekuasaan, memelintir konstitusi, dan memalukan akal sehat.

Ia mungkin sopan, berpenampilan rapi, dan jarang membuat gaduh. Tapi politik bukan urusan kosmetik. Kepemimpinan publik adalah soal kapabilitas, gagasan, dan keberanian berpihak pada nilai. Dalam ukuran itu, Gibran nihil. Kiprahnya di Solo lebih banyak menjadi perpanjangan tangan narasi ayahnya ketimbang cermin kepribadiannya sendiri. Tidak ada lompatan inovatif, tidak ada visi besar, dan tidak ada gebrakan moral yang mencerminkan sosok pemimpin yang matang. Hanya ada kehendak kekuasaan yang dipoles sebagai prestasi.

Naiknya ke kursi wakil presiden adalah titik balik yang menyedihkan. Ia bukan semata simbol dari kegagalan meritokrasi, tapi penanda bahwa bangsa ini belum selesai dengan masa lalunya: feodalisme, patronase, dan politik warisan. Dalam sistem demokrasi yang sehat, seseorang naik ke tampuk kekuasaan karena kualitasnya, bukan karena ia anak siapa. Tapi di negeri ini, trah menjadi lebih penting dari arah.

Ironi ini makin getir ketika kita menyaksikan bagaimana lembaga-lembaga negara seolah bergiliran menyusutkan wibawa demi melapangkan jalan bagi ambisi kekuasaan keluarga. Komisi Pemilihan Umum yang tumpul, Mahkamah Konstitusi yang kehilangan martabat, dan media-media arus utama yang lebih sibuk membingkai Gibran sebagai “anak muda masa depan” ketimbang menyuarakan keresahan publik.

Maka tak berlebihan jika kita menyebut momen ini sebagai sejarah buruk. Ia bukan sekadar kesalahan prosedural, melainkan kemunduran substansial. Kita sedang melihat bangsa ini menyia-nyiakan kesempatan emas untuk dewasa, untuk memilih dengan sadar, dan untuk membangun peradaban politik yang lebih sehat. Sebaliknya, kita justru memilih mundur: kembali pada kultur politik dinasti, pada logika kekuasaan sebagai warisan, bukan pengabdian.

Apa yang lebih menyedihkan dari bangsa yang sudah tahu itu salah, tapi tetap membiarkannya terjadi?

Sejarah akan mencatat Gibran bukan hanya sebagai anak presiden yang jadi wakil presiden, tapi sebagai representasi zaman ketika demokrasi dikompromikan, akal sehat dikhianati, dan rakyat dibius dengan narasi kemajuan semu. Dalam jangka panjang, ia bisa menjadi pengingat pahit bahwa suatu masa, bangsa ini pernah percaya bahwa kemajuan bisa diwariskan begitu saja.

Dan itu, adalah tragedi peradaban.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Mengkritisi Istilah “Partisipasi” dalam Pendidikan – Masyarakat Bukan Objek, Tapi Subjek

Next Post

Obat penurun berat badan seperti Wegovy dapat membantu mengatasi kondisi Liver serius yang tidak memiliki obat mujarab

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP
Birokrasi

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Birokrasi

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia
Cross Cultural

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
Next Post
Obat penurun berat badan seperti Wegovy dapat membantu mengatasi kondisi Liver serius yang tidak memiliki obat mujarab

Obat penurun berat badan seperti Wegovy dapat membantu mengatasi kondisi Liver serius yang tidak memiliki obat mujarab

Menaikkan Cukai Rokok Dapat Menyelamatkan 281.000 Nyawa Anak Setahun

Menaikkan Cukai Rokok Dapat Menyelamatkan 281.000 Nyawa Anak Setahun

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiga Oknum TNI AD Penyiksa Sampai Mati Imam Masykur Dituntut Hukuman Mati
Birokrasi

Bukan Revitalisasi, Tapi Darurat Reformasi TNI

by Karyudi Sutajah Putra
March 26, 2026
0

Jakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasurlah menyatakan proses revitalisasi internal menjadi hal penting dilakukan dalam...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

TNI Sabotase Penegakan Hukum

March 19, 2026
Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

March 18, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026
Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

March 28, 2026

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...