FusilatNews – Anak-anak dari keluarga termiskin di negara-negara berpendapatan rendah terbukti paling diuntungkan dari kebijakan pajak rokok yang tinggi. Sebuah analisis baru yang dipublikasikan di jurnal The Lancet Public Health menunjukkan bahwa lebih dari seperempat juta kematian anak di bawah usia lima tahun dapat dicegah setiap tahunnya jika negara-negara ini menaikkan pajak rokok hingga mencapai 75 persen dari harga eceran, sebagaimana direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Angka itu bukan kecil: 281 ribu jiwa balita—setara 6 persen dari total 4,7 juta kematian anak di 94 negara yang diteliti pada 2021—bisa diselamatkan hanya lewat intervensi fiskal yang tegas terhadap produk tembakau. Sekitar 74 ribu kematian di antaranya terjadi di kelompok keluarga termiskin.
Paparan asap rokok bukan sekadar gangguan ringan. Ia memperburuk asma, merusak fungsi paru-paru anak-anak, dan meningkatkan risiko sindrom kematian bayi mendadak (SIDS). Bahkan sebelum bayi dilahirkan, kandungan asap rokok sudah menebar ancaman—dari kelahiran prematur hingga berat badan rendah.
Namun, hanya 10 dari 94 negara yang menerapkan pajak rokok sesuai ambang batas WHO. Di negara-negara sisanya, potensi untuk menyelamatkan nyawa masih terbengkalai. Padahal, menurut Márta Radó, penulis senior studi sekaligus profesor di Karolinska Institute, “jalur dari pajak tembakau menuju kesehatan anak memang rumit, tapi jelas terbukti melindungi mereka yang paling rentan.”
Kebijakan ini juga menyentuh isu ketimpangan. Dalam studi tersebut, efek protektif dari pajak rokok lebih terasa di kalangan berpenghasilan rendah dibandingkan mereka yang lebih kaya. Artinya, kebijakan ini bukan hanya menyelamatkan nyawa, tapi juga mempersempit jurang ketidakadilan dalam kesehatan.
Meski begitu, para ahli mengingatkan bahwa pajak rokok bukanlah solusi tunggal. “Kenaikan pajak bisa berdampak, tapi itu bukan tongkat sihir,” kata Dr. Andrew Agbaje, epidemiolog klinis dari Universitas Finlandia Timur yang tidak terlibat dalam studi.
Ia menekankan bahwa faktor-faktor seperti penyakit menular tetap menjadi penyumbang besar kematian balita di negara-negara miskin. Namun, ia tidak menampik bahwa pengendalian tembakau bisa menambah lapis perlindungan—tak hanya di masa kanak-kanak, tapi juga dalam jangka panjang.
Masalahnya, apakah negara-negara siap menindaklanjuti? “Jika kita berhasil menaikkan pajak, apakah kita punya mekanisme untuk mencegah anak-anak menjadi perokok di masa depan?” kata Agbaje. Sebab jika tidak, kerusakan yang coba dicegah sejak dini justru bisa berulang dalam siklus baru.





















