Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Mungkin merasa terdesak oleh lawan-lawan politiknya. Setelah defensif (bertahan), Prabowo Subianto kini mulai ofensif (menyerang). Mungkin Presiden RI itu terinspirasi Sun Tzu (544-496 SM), filsuf, jenderal dan ahli strategi perang asal Tiongkok kuno, bahwa pertahanan terbaik adalah menyerang. Ia mulai panik.
Ya, dalam sejumlah pidatonya, Prabowo nyaris selalu menyelipkan kalimat provokatif yang menyerang lawan-lawan politiknya.
Dalam pidatonya di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026) misalnya, Prabowo menyuruh kabur para pengkritiknya ke Yaman. Ia juga menyebut intelektual yang menipu rakyat, terkait stigma “Indonesia Gelap”.
Tidak itu saja. Terhadap para pengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG), Prabowo menyebut mereka ketakutan jika MBG berhasil.
Entah mengapa Prabowo menyuruh para pengkritiknya yang menyebut Indonesia gelap untuk kabur ke Yaman. Bukan ke Jordania seperti dirinya usai dipecat dari dinas militer karena dugaan keterlibatannya dalam kasus penculikan aktivis tahun 1997-1998.
Bukan pula ke Arab Saudi seperti RS, sekutu politiknya, ketika sedang berperkara dengan hukum terkait karantina kesehatan Covid-19 lalu.
Atau mungkin Prabowo menyebut Yaman karena RS, sekutu politiknya itu berasal dari negeri di jazirah Arab itu?
Kita tidak tahu pasti. Yang jelas, kritik terhadap kinerja pemerintahannya makin hari makin kencang. Apalagi soal MBG.
Faktanya, MBG memang bisa dikatakan tidak bermanfaat. Banyak anak sekolah yang menolak mengonsumsi menu MBG, sehingga banyak yang mubazir.
MBG juga banyak mendatangkan mudarat. Lihat saja, sudah berapa banyak yang keracunan akibat MBG.
MBG juga diduga menjadi lahan basah korupsi. Ada pula yang menyebut MBG singkatan dari Maling Berkedok Gizi.
Harga Naik, Presiden Turun
Prabowo makin terdesak karena nilai tukar rupiah cenderung terus menurun. Apa pun kebijaka yang telah dilakukan pemerintah. Bahkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang semula dielu-elukan sebagai “the rising star” kini tak ada apa-apanya lagi.
Harga sembako juga terus naik seiring langkah pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak nonsubsidi. Biasanya, jika harga sembako naik, maka Presiden justru turun. Mungkin inilah yang ditakutkan Prabowo sehingga ia panik dan kemudian menyerang kanan-kiri dengan jurus dewa mabuk.
Sebagai seorang pemimpin, apalagi kepala negara, tak layak Prabowo melontarkan pernyataan-pernyataan provokatif yang menyerang pihak lawan. Presiden itu merangkul, bukan memukul.
Tapi baiklah, mungkin Prabowo memang sedang panik. Apalagi banyak pengkritiknya yang meminta dia digulingkan. Saiful Mujani dan Islah Bahrawi, misalnya.
Alhasil, ketika kini Prabowo panik dan banyak melontarkan pernyataan provokatif yang menyerang lawan-lawan politiknya, barangkali itulah cara dia bertahan.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)

















