By Paman BED
Ada satu pemandangan yang hampir semua orang pernah lihat di rumah makan.
Seseorang tidak sengaja menyenggol meja.
Meja bergoyang.
Gelas bergetar.
Piring bergeser.
Sendok beradu dan menimbulkan suara gaduh.
Sebagian orang langsung menoleh kepada orang yang menyenggol meja.
Mereka menganggap dialah penyebab seluruh kekacauan.
Padahal ada satu pertanyaan yang sering terlambat diajukan.
Mengapa meja itu begitu mudah berguncang?
Bukankah meja yang kokoh seharusnya mampu menahan senggolan kecil tanpa membuat seluruh isi di atasnya nyaris berjatuhan?
Pertanyaan sederhana itu terasa relevan ketika belakangan muncul berbagai percakapan mengenai fenomena yang oleh sebagian pelaku pasar disebut sebagai “Sell Indonesia”.
Berbagai komentar analis, laporan lembaga keuangan, hingga diskusi investor regional memunculkan kekhawatiran bahwa sebagian modal global mulai mengurangi eksposurnya terhadap aset-aset Indonesia.
Sebagian pihak kemudian bereaksi.
Ada yang marah.
Ada yang menganggapnya sebagai bentuk tekanan psikologis dari luar negeri.
Ada yang menuduh adanya permainan narasi.
Ada pula yang menilai semua itu hanyalah spekulasi pasar yang dibesar-besarkan.
Namun sesungguhnya, persoalan yang lebih menarik bukanlah siapa yang berbicara.
Melainkan mengapa suara itu mampu menimbulkan kegaduhan.
Dalam dunia investasi, sentimen memang memiliki kekuatan.
Sebuah laporan analis dapat memengaruhi pasar.
Sebuah komentar ekonom dapat menggerakkan harga saham.
Sebuah pernyataan pejabat dapat memengaruhi nilai tukar.
Tetapi sentimen hanya ibarat tangan yang menyenggol meja.
Sentimen bukanlah kaki meja itu sendiri.
Kekuatan sesungguhnya terletak pada fundamental.
Karena itu, ketika muncul narasi “Sell Indonesia”, ada baiknya kita tidak berhenti pada pertanyaan siapa yang menyenggol meja.
Yang jauh lebih penting adalah memeriksa kondisi kaki mejanya.
Apakah masih kokoh?
Apakah masih seimbang?
Ataukah sebenarnya sudah lama mengalami retakan yang belum diperbaiki?
Dalam ekonomi, kaki meja itu bernama sektor riil.
Ia bukan indeks saham.
Bukan pula nilai tukar.
Sektor riil adalah pabrik yang beroperasi.
Petani yang memproduksi pangan.
Nelayan yang melaut.
Usaha kecil yang berkembang.
Lapangan kerja yang bertambah.
Produktivitas yang meningkat.
Pendapatan masyarakat yang naik.
Di situlah sesungguhnya kekuatan ekonomi dibangun.
Pasar keuangan hanyalah cermin.
Yang dicerminkan adalah kondisi sektor riil.
Karena itu, ketika investor mulai mempertanyakan Indonesia, sesungguhnya mereka tidak hanya melihat angka pertumbuhan ekonomi.
Mereka juga melihat kualitas pertumbuhan tersebut.
Mereka bertanya apakah pertumbuhan itu lahir dari peningkatan produktivitas.
Apakah industrialisasi semakin kuat.
Apakah hilirisasi benar-benar menciptakan rantai nilai baru.
Apakah investasi yang masuk menghasilkan lapangan kerja berkualitas.
Apakah daya beli masyarakat terus membaik.
Dan yang tidak kalah penting, apakah tata kelola ekonomi berjalan secara konsisten dan dapat diprediksi.
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana.
Namun justru di sanalah kepercayaan dibangun.
Investor tidak hanya membeli aset.
Investor membeli harapan.
Mereka membeli keyakinan tentang masa depan.
Ketika keyakinan itu kuat, modal datang bahkan sebelum hasilnya terlihat.
Sebaliknya, ketika keyakinan mulai goyah, modal sering pergi sebelum masalahnya benar-benar muncul.
Itulah sebabnya pasar sering tampak berlebihan.
Tetapi pasar memiliki satu kebiasaan yang sulit diabaikan.
Pasar selalu mencoba membaca masa depan.
Di sinilah diskusi mengenai sektor riil menjadi penting.
Selama bertahun-tahun Indonesia menikmati pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil di kisaran lima persen.
Banyak negara tentu iri terhadap capaian tersebut.
Namun stabilitas pertumbuhan tidak selalu identik dengan transformasi ekonomi.
Investor global biasanya mencari sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar angka pertumbuhan.
Mereka ingin melihat peningkatan produktivitas.
Mereka ingin melihat sektor manufaktur yang semakin kompetitif.
Mereka ingin melihat ekspor bernilai tambah yang semakin besar.
Mereka ingin melihat kelas menengah yang semakin kuat.
Mereka ingin melihat bahwa pertumbuhan hari ini benar-benar menciptakan fondasi yang lebih kuat untuk masa depan.
Di sinilah tantangan Indonesia masih terlihat.
Kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto belum kembali menjadi mesin pertumbuhan dominan seperti yang pernah terjadi pada masa industrialisasi awal.
Produktivitas tenaga kerja masih menghadapi tantangan.
Ketergantungan terhadap komoditas masih cukup tinggi.
Sementara sebagian hasil pembangunan infrastruktur dan hilirisasi masih memerlukan waktu untuk menghasilkan dampak ekonomi yang lebih luas kepada masyarakat.
Artinya, persoalannya bukan karena Indonesia tidak tumbuh.
Persoalannya adalah apakah pertumbuhan tersebut cukup kuat untuk menciptakan keyakinan jangka panjang.
Dalam ekonomi, kepercayaan tidak dibangun oleh angka pertumbuhan semata.
Kepercayaan dibangun oleh kualitas pertumbuhan.
Dalam konteks itu, mungkin kita perlu melihat fenomena “Sell Indonesia” secara lebih tenang.
Tidak perlu panik.
Tidak perlu pula defensif secara berlebihan.
Karena kritik dan keraguan tidak selalu merupakan ancaman.
Kadang-kadang ia justru berfungsi seperti alarm.
Dan ada satu hal yang perlu diingat.
Alarm tidak menciptakan kebakaran.
Alarm hanya memberi tahu bahwa ada sesuatu yang perlu diperiksa.
Sayangnya, dalam banyak perdebatan publik, perhatian sering kali lebih banyak tertuju pada alarm daripada sumber asapnya.
Kita sibuk memperdebatkan siapa yang membunyikan alarm.
Kita sibuk mencari motif di balik alarm.
Kita sibuk mempertanyakan kepentingan pembuat alarm.
Namun lupa memeriksa apakah memang ada sesuatu yang sedang terbakar.
Padahal tidak semua alarm berarti kebakaran.
Tetapi mematikan alarm juga bukan cara memadamkan api.
Bangsa yang percaya diri tidak sibuk memukul alarm.
Bangsa yang percaya diri memeriksa sumber asapnya.
Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih relevan bukanlah apakah investor asing menyukai Indonesia atau tidak.
Pertanyaan yang lebih relevan adalah apakah sektor riil Indonesia tumbuh cukup kuat sehingga investor sulit meninggalkan Indonesia.
Karena jika fondasi ekonomi benar-benar kuat, maka suara gaduh dari luar negeri hanya akan menjadi kebisingan sesaat.
Sebaliknya, jika fondasi belum cukup kokoh, maka setiap senggolan kecil akan terus menimbulkan kepanikan yang sama.
Sejarah ekonomi dunia berulang kali menunjukkan bahwa kepercayaan jangka panjang tidak dibangun oleh slogan.
Tidak dibangun oleh pencitraan.
Tidak dibangun oleh perdebatan media sosial.
Kepercayaan dibangun oleh produktivitas.
Oleh daya saing.
Oleh kepastian hukum.
Oleh tata kelola yang baik.
Dan terutama oleh kemampuan sebuah negara menghasilkan manfaat ekonomi yang nyata bagi rakyatnya.
Karena itu, fenomena “Sell Indonesia” sesungguhnya mungkin bukan tentang Singapura.
Bukan pula tentang investor asing.
Fenomena itu adalah sebuah cermin.
Dan seperti semua cermin, kadang-kadang yang perlu diperhatikan bukanlah cerminnya.
Melainkan bayangan yang dipantulkannya.
Kesimpulan
Fenomena “Sell Indonesia” tidak seharusnya dipahami semata-mata sebagai persoalan sentimen pasar atau narasi yang datang dari luar negeri. Sentimen hanyalah pemicu. Yang menentukan besar kecilnya dampak adalah kekuatan fundamental ekonomi yang menopangnya.
Sebagaimana meja makan yang kokoh tidak mudah terguncang oleh senggolan kecil, ekonomi yang memiliki sektor riil kuat, produktivitas tinggi, tata kelola yang baik, dan arah kebijakan yang konsisten akan lebih tahan menghadapi gejolak sentimen pasar.
Saran
Pertama, penguatan sektor riil harus tetap menjadi prioritas utama melalui peningkatan produktivitas, industrialisasi, inovasi, dan penciptaan lapangan kerja berkualitas.
Kedua, pemerintah perlu terus memperkuat kredibilitas kebijakan, kepastian regulasi, serta kualitas tata kelola agar kepercayaan investor dibangun di atas fondasi yang kokoh, bukan sekadar persepsi jangka pendek.
Ketiga, masyarakat perlu membangun budaya diskusi ekonomi yang lebih substantif. Fokus perdebatan sebaiknya tidak berhenti pada siapa yang mengkritik Indonesia, melainkan pada bagaimana memperkuat Indonesia.
Sejarah menunjukkan bahwa yang menjatuhkan sebuah bangsa bukanlah suara yang datang dari luar meja.
Yang menjatuhkannya adalah ketika kaki meja dibiarkan rapuh terlalu lama tanpa pernah diperiksa.
Referensi
* Acemoglu, D., & Robinson, J. A. (2012). Why Nations Fail: The Origins of Power, Prosperity, and Poverty. Crown Publishing.
* Porter, M. E. (1990). The Competitive Advantage of Nations. Free Press.
* North, D. C. (1990). Institutions, Institutional Change and Economic Performance. Cambridge University Press.
* Rodrik, D. (2011). The Globalization Paradox: Democracy and the Future of the World Economy. W.W. Norton.
* Krugman, P. (1994). “Competitiveness: A Dangerous Obsession.” Foreign Affairs, Vol. 73 No. 2.
* World Bank. World Development Report (berbagai edisi).
* International Monetary Fund (IMF). World Economic Outlook (berbagai edisi).
* OECD. Economic Outlook (berbagai edisi).
* Badan Pusat Statistik (BPS). Produk Domestik Bruto Indonesia Menurut Lapangan Usaha (berbagai edisi).
* Bank Indonesia. Laporan Perekonomian Indonesia (berbagai edisi).
By Paman BED




















