• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Prabowo;”Ilmu Islam saya kurang.” – Paradoks Pemimpin Muslim di Negeri Mayoritas Muslim

Ali Syarief by Ali Syarief
June 13, 2026
in Feature, Tokoh/Figur
0
Prabowo;”Ilmu Islam saya kurang.” –  Paradoks Pemimpin Muslim di Negeri Mayoritas Muslim
Share on FacebookShare on Twitter

Di sebuah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, muncul sebuah pertanyaan yang jarang dibahas secara terbuka: apakah seorang pemimpin tertinggi harus memiliki pemahaman agama yang mendalam, ataukah cukup memiliki kemampuan memimpin negara?

Pertanyaan itu menjadi relevan ketika Presiden Prabowo Subianto secara terbuka pernah mengakui, “Ilmu Islam saya kurang.” Dalam kesempatan lain, ia juga mengakui bahwa kemampuan membaca Al-Qurannya tidak terlalu lancar. Pengakuan seperti ini mungkin dianggap biasa dalam masyarakat yang menjunjung kejujuran. Namun ketika pengakuan tersebut datang dari seorang kepala negara yang memimpin lebih dari 240 juta umat Islam Indonesia, persoalannya menjadi jauh lebih kompleks.

Di satu sisi, kejujuran Prabowo patut dihargai. Tidak banyak tokoh politik yang bersedia mengakui keterbatasannya di hadapan publik. Pengakuan itu bahkan bisa dianggap lebih mulia daripada berpura-pura menjadi ahli agama demi meraih simpati politik. Tetapi di sisi lain, muncul kontradiksi yang sulit diabaikan.

Dalam tradisi Islam, kepemimpinan bukan sekadar urusan administrasi pemerintahan. Sejak masa para khalifah, pemimpin dipandang sebagai figur yang tidak hanya mengelola urusan dunia, tetapi juga menjadi penjaga nilai-nilai moral dan keagamaan masyarakat. Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib dikenal bukan hanya karena kemampuan politik mereka, tetapi juga karena keluasan ilmu dan kedalaman pemahaman agama mereka.

Di Indonesia, memang tidak ada syarat konstitusional bahwa presiden harus seorang ulama. Namun dalam realitas sosial, umat Islam sering berharap pemimpinnya memiliki kedekatan yang kuat dengan ajaran Islam. Harapan itu lahir bukan dari fanatisme semata, melainkan dari keyakinan bahwa kebijakan publik akan lebih bijaksana jika dibangun di atas pemahaman moral dan spiritual yang kokoh.

Di sinilah paradoks itu muncul. Bagaimana mungkin seorang yang mengakui keterbatasan ilmu Islamnya memimpin bangsa yang mayoritas penduduknya menjadikan Islam sebagai sumber nilai kehidupan? Bagaimana seorang pemimpin dapat menjadi rujukan moral ketika ia sendiri mengakui belum memiliki penguasaan yang memadai terhadap ajaran yang dianut mayoritas rakyatnya?

Pertanyaan tersebut bukanlah serangan pribadi. Ia merupakan persoalan filosofis tentang hubungan antara kepemimpinan dan legitimasi moral. Seorang direktur rumah sakit tidak harus dokter terbaik. Seorang menteri pendidikan tidak harus guru paling hebat. Namun masyarakat lazim mengharapkan adanya kompetensi substantif pada bidang yang menjadi tanggung jawabnya.

Apalagi dalam konteks Indonesia, agama tidak pernah benar-benar terpisah dari kehidupan publik. Setiap pidato kenegaraan dipenuhi simbol-simbol religius. Setiap kebijakan besar selalu diukur dengan pertimbangan moral dan etika yang banyak dipengaruhi oleh ajaran agama. Bahkan dalam momentum-momentum nasional, suara ulama dan tokoh agama sering menjadi rujukan penting bagi masyarakat.

Karena itu, ketika seorang presiden mengakui keterbatasan pemahaman agamanya, sebagian masyarakat mungkin bertanya-tanya: apakah agama bagi pemimpin hanya berfungsi sebagai identitas sosial dan instrumen persatuan bangsa, ataukah benar-benar menjadi landasan berpikir dalam mengambil keputusan?

Kontradiksi ini semakin terasa ketika di sisi lain Prabowo sering berbicara tentang pentingnya moralitas, integritas, dan nilai-nilai luhur bangsa. Nilai-nilai tersebut tentu tidak hanya berasal dari agama, tetapi dalam masyarakat Indonesia, agama merupakan salah satu sumber utama pembentukan moral publik. Ketika fondasi keilmuan agama diakui terbatas, publik berhak mempertanyakan dari mana sumber rujukan moral tersebut dibangun.

Tentu saja, ada argumen tandingan yang tidak kalah kuat. Banyak orang berpendapat bahwa tugas presiden bukan menjadi mufti, kiai, atau ulama. Presiden cukup memastikan negara berjalan baik, ekonomi tumbuh, keamanan terjaga, dan keadilan ditegakkan. Dalam pandangan ini, kemampuan membaca Al-Qur’an secara fasih bukan ukuran keberhasilan seorang kepala negara.

Namun argumen tersebut tidak sepenuhnya menghapus kontradiksi yang ada. Sebab yang dipersoalkan bukan semata-mata kefasihan membaca Al-Quran, melainkan simbol hubungan antara pemimpin dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat yang dipimpinnya.

Akhirnya, pengakuan Prabowo tentang keterbatasan ilmu Islamnya menghadirkan sebuah cermin bagi bangsa ini. Mungkin persoalan sebenarnya bukan terletak pada Prabowo semata, melainkan pada perubahan cara pandang masyarakat terhadap kepemimpinan. Apakah Indonesia masih menghendaki pemimpin yang sekaligus menjadi teladan moral dan spiritual? Ataukah bangsa ini telah bergeser menuju model kepemimpinan modern yang lebih menekankan kemampuan manajerial daripada kedalaman nilai-nilai agama?

Pertanyaan itu masih terbuka. Tetapi satu hal pasti, di negeri dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia, pengakuan seorang presiden bahwa “ilmu Islam saya kurang” akan selalu menyisakan ruang diskusi yang panjang tentang makna kepemimpinan, legitimasi moral, dan hubungan antara agama dengan kekuasaan.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

APBN Tidak Cukup Hanya Efisien, Ada Kata “Efektif”

Next Post

Antara Suara “Jual Indonesia” dan Fundamental Ekonomi (Ketika Senggolan Kecil Membuat Meja Berguncang)

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Feature

Mundurnya Gubernur Bank Indonesia

July 28, 2026
Gagal Awal – Luka dalam Grafik: Ketika Ekonomi 4,7 Persen Tak Menjawab Kebutuhan Rakyat
Feature

Orasi Prabowo: Politik Gaduh di Tengah Menurunnya Kepercayaan Publik

July 28, 2026
Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo
Feature

Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo

July 28, 2026
Next Post

Antara Suara "Jual Indonesia" dan Fundamental Ekonomi (Ketika Senggolan Kecil Membuat Meja Berguncang)

Tyo, Idrus, Prabowo – Etika, Moralitas, dan Ironi Para Pengkritik

Tyo, Idrus, Prabowo - Etika, Moralitas, dan Ironi Para Pengkritik

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Habis Nanik, Terbitlah Hotman
Feature

Habis Nanik, Terbitlah Hotman

by Karyudi Sutajah Putra
July 23, 2026
0

Jakarta - Setelah Nanik S Deyang, kini giliran pengacara kondang Hotman Paris Hutapea yang menyatakan mundur. Jika Nanik mundur dari...

Read more
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

July 11, 2026
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

July 10, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

July 29, 2026
Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

July 29, 2026
Bandung Gelap, Warga Resah: Jalan Minim Penerangan Diduga Memicu Maraknya Aksi Begal

Bandung Gelap, Warga Resah: Jalan Minim Penerangan Diduga Memicu Maraknya Aksi Begal

July 28, 2026

Mundurnya Gubernur Bank Indonesia

July 28, 2026
Prestasi Berawal dari Disiplin, UPT SMAS Datuk Ribandang Gembleng Karakter Siswa Baru

Prestasi Berawal dari Disiplin, UPT SMAS Datuk Ribandang Gembleng Karakter Siswa Baru

July 28, 2026
Gagal Awal – Luka dalam Grafik: Ketika Ekonomi 4,7 Persen Tak Menjawab Kebutuhan Rakyat

Orasi Prabowo: Politik Gaduh di Tengah Menurunnya Kepercayaan Publik

July 28, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

July 29, 2026
Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

July 29, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...