Depok, FusilatNews — Hubungan antara Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) kembali ditegaskan sebagai dua entitas yang tidak terpisahkan dalam proses kaderisasi dan pengabdian di lingkungan perguruan tinggi. Dalam berbagai kesempatan, keduanya diibaratkan sebagai satu kesatuan yang saling menguatkan, di mana keberadaan KAHMI sangat bergantung pada keberlanjutan HMI sebagai sumber kader.
Konsep “korps” yang melekat pada KAHMI dimaknai sebagai solidaritas kolektif yang kuat. Analogi yang disampaikan menyebutkan bahwa ketika satu bagian mengalami tekanan, seluruh bagian lainnya turut merasakan. Dalam konteks ini, HMI disebut sebagai “mata air” bagi KAHMI, sehingga keduanya dipandang integral dan saling membutuhkan dalam menjaga kesinambungan organisasi.
Secara historis, keberadaan HMI hampir selalu mengikuti pertumbuhan perguruan tinggi. Di berbagai kampus, terbentuk struktur organisasi mulai dari komisariat, rayon, cabang, hingga badan koordinasi. Di lingkungan Universitas Indonesia Depok, misalnya, HMI berkembang melalui Koordinator Komisariat (Korkom) yang juga menjadi model di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ekspansi organisasi kemudian menjangkau sejumlah perguruan tinggi di sekitarnya.
Perkembangan tersebut terlihat dari tumbuhnya komisariat HMI di sejumlah kampus sekitar Depok, termasuk Universitas Gunadarma, STTN, Universitas Pancasila, APP, dan Kosgoro. Sementara itu, di UIN Syarif Hidayatullah, jumlah komisariat disebut mencapai 17, didukung oleh berbagai pihak, termasuk tokoh daerah.
Pada kegiatan Halal Bihalal HMI Depok tahun 2026 yang digelar di lingkungan Pemerintah Kota Depok, acara diselenggarakan oleh Korkom HMI Universitas Indonesia bersama KAHMI Depok. Kegiatan ini dipimpin oleh Raihan dari unsur HMI dan Berli Martabaya dari KAHMI, serta disambut oleh perwakilan Kesbangpol Depok.
Dalam sambutannya, Berli Martabaya menyampaikan bahwa isu penyelenggaraan konferensi HMI di Depok telah bergulir selama lebih dari 30 tahun, sejak periode 1998–2000. Ia juga menyinggung kontribusi sejumlah tokoh, termasuk Akbar Tanjung, dalam dinamika organisasi.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa mahasiswa yang aktif dalam kegiatan ekstra kampus seperti HMI memiliki peluang besar menjadi pemimpin di masa depan. Hal ini dikarenakan mereka terlatih dalam manajemen persidangan, jaringan organisasi, serta kepemimpinan, sejalan dengan tujuan HMI untuk membentuk insan akademis, pencipta, dan pengabdi yang bernafaskan Islam.
Sementara itu, Ketua Umum HMI Cabang Depok, Rihandi, melaporkan sejumlah program yang telah dilaksanakan, antara lain pelantikan kepengurusan, rapat pleno, serta pelatihan keterampilan kerja dan penanggulangan bencana. Selain itu, HMI Depok juga menginisiasi kegiatan rutin seperti pemeriksaan kesehatan mingguan di depan Polres Depok, pelatihan pengurusan jenazah, serta penyusunan buku 30 tahun HMI Cabang Depok.
Di sisi lain, KAHMI melalui Himpunan Pengusaha KAHMI (HIPKA) turut berupaya menjawab kebutuhan kewirausahaan para anggotanya. Organisasi ini diharapkan mampu menyeimbangkan karakter politik kader HMI dengan penguatan ekonomi alumni.
Namun demikian, kegiatan tersebut juga diwarnai catatan kritis. Orasi ilmiah yang disampaikan oleh Damayanti dari Forum Alumni HMI-Wati (FORHATI) disebut menuai respons beragam, terutama terkait kurangnya ruang klarifikasi atau tabayun dalam forum tersebut.
Kegiatan ini menegaskan kembali peran strategis HMI dan KAHMI dalam membangun ekosistem kaderisasi di perguruan tinggi, sekaligus menjaga kesinambungan kontribusi alumni dalam berbagai sektor kehidupan masyarakat.




















