Oleh: Entang Sastraatmadja
Iklim ekstrem harus diwaspadai secara serius. Dampaknya tidak hanya bersifat sementara, tetapi bisa meluas dan berkepanjangan. Bencana alam, kekeringan, perubahan pola cuaca yang tidak menentu, hingga ancaman terhadap kesehatan masyarakat adalah sebagian dari konsekuensi yang dapat muncul.
Ketika iklim berubah secara ekstrem, sektor yang pertama kali merasakan dampaknya adalah pertanian, ketersediaan air, serta stabilitas kehidupan masyarakat. Tidak hanya itu, iklim ekstrem juga dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang besar dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Karena itu, kesiapsiagaan dan kewaspadaan menjadi kunci untuk mengurangi risiko serta dampak yang mungkin timbul.
Belum lama ini, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa musim kemarau tahun 2026 berpotensi datang lebih awal di banyak wilayah Indonesia dan berlangsung lebih panjang dibandingkan dengan kondisi normal. Bahkan, sebagian besar wilayah diperkirakan akan mengalami musim kemarau yang lebih kering dari rata-rata klimatologis.
Peringatan ini tentu tidak boleh dianggap sepele. Kemarau yang datang lebih awal dan berlangsung lebih lama bisa berdampak besar pada ketahanan pangan, ketersediaan air, hingga meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan.
Isu utama yang melatarbelakangi meningkatnya iklim ekstrem saat ini adalah perubahan iklim global. Perubahan ini menyebabkan meningkatnya frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem seperti banjir, kekeringan, badai, serta gelombang panas.
Perubahan iklim tersebut dipicu oleh meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer, terutama karbon dioksida. Peningkatan ini sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia, seperti pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, serta aktivitas industri yang tidak ramah lingkungan.
Dampak perubahan iklim sudah dirasakan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Fenomena cuaca ekstrem seperti banjir, kekeringan, badai, dan gelombang panas semakin sering terjadi. Selain itu, kenaikan permukaan air laut mulai mengancam wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
Perubahan iklim juga menimbulkan gangguan terhadap ekosistem yang dapat mengancam keanekaragaman hayati serta keseimbangan lingkungan. Jika kondisi ini terus berlangsung tanpa upaya penanganan yang serius, maka kerusakan lingkungan akan semakin sulit dikendalikan.
Lebih jauh lagi, perubahan iklim juga menimbulkan dampak sosial dan ekonomi yang tidak kecil. Dampak tersebut antara lain:
Pertama, kerusakan infrastruktur.
Bencana alam seperti banjir, badai, dan kekeringan dapat merusak jalan, jembatan, serta berbagai fasilitas publik yang berdampak langsung pada aktivitas ekonomi masyarakat.
Kedua, menurunnya produktivitas.
Perubahan iklim dapat mengganggu sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat. Akibatnya, pendapatan masyarakat menurun dan ketahanan pangan terancam.
Ketiga, munculnya migrasi iklim.
Bencana yang berulang dapat memaksa masyarakat meninggalkan tempat tinggalnya. Fenomena ini berpotensi menimbulkan pengungsi iklim yang kemudian memberi tekanan tambahan pada daerah tujuan.
Keempat, ancaman terhadap kesehatan masyarakat.
Perubahan iklim dapat meningkatkan risiko penyebaran berbagai penyakit seperti malaria dan demam berdarah, serta memperburuk kondisi kesehatan mental masyarakat yang terdampak bencana.
Kelima, hilangnya keanekaragaman hayati.
Perubahan iklim dapat mengancam berbagai spesies flora dan fauna yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Menghadapi tantangan besar ini, upaya penanganan perubahan iklim tidak bisa dilakukan secara parsial. Diperlukan kerja sama global yang kuat dan berkelanjutan. Beberapa langkah kolaborasi internasional yang telah dilakukan antara lain melalui Perjanjian Paris tahun 2015, yang bertujuan menahan kenaikan suhu global di bawah 2 derajat Celsius dan mengupayakan agar tidak melebihi 1,5 derajat Celsius.
Selain itu, negara-negara maju juga berkomitmen untuk menyediakan pendanaan internasional sebesar USD 100 miliar per tahun untuk membantu negara berkembang dalam menjalankan aksi mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
Kolaborasi global juga dilakukan melalui pengembangan teknologi hijau, seperti energi surya, energi angin, serta kendaraan listrik yang lebih ramah lingkungan. Di sisi lain, kemitraan multilateral antara negara, lembaga swadaya masyarakat, dan sektor swasta juga terus diperkuat untuk meningkatkan kesadaran dan aksi nyata menghadapi perubahan iklim.
Namun demikian, upaya teknologis saja tidak cukup. Edukasi global tentang perubahan iklim menjadi faktor yang sangat penting. Edukasi ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat dunia tentang apa itu perubahan iklim, bagaimana dampaknya terhadap kehidupan manusia, serta apa yang dapat dilakukan untuk menguranginya.
Edukasi yang efektif dapat mendorong perubahan perilaku masyarakat menjadi lebih ramah lingkungan, meningkatkan partisipasi publik dalam aksi iklim, serta membangun kesadaran global bahwa krisis iklim adalah tanggung jawab bersama.
Berbagai bentuk edukasi dapat dilakukan melalui kampanye media sosial, program pendidikan lingkungan di sekolah, pelatihan dan workshop aksi iklim, hingga konferensi internasional tentang perubahan iklim.
Yang tidak kalah penting, edukasi ini juga dapat meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi dan mengurangi risiko bencana alam yang berkaitan dengan perubahan iklim.
Perlu dipahami bahwa edukasi iklim merupakan proses panjang yang pada akhirnya bermuara pada perubahan perilaku masyarakat dalam memperlakukan lingkungan secara lebih bijaksana.
Indonesia sendiri juga berperan aktif dalam berbagai upaya kolaborasi dan edukasi global. Salah satunya melalui Muhammadiyah Climate Center yang berkontribusi dalam berbagai program penyelamatan Bumi dari krisis iklim.
Selain itu, Indonesia juga terus meningkatkan komitmen dalam menurunkan emisi gas rumah kaca melalui target Nationally Determined Contribution (NDC) sebagai bagian dari komitmen global untuk menghadapi perubahan iklim.
Pada akhirnya, menghadapi iklim ekstrem bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan masa depan peradaban manusia. Tanpa kesadaran bersama dan tindakan nyata, ancaman krisis iklim bisa menjadi bencana yang jauh lebih besar bagi generasi mendatang.
(Penulis, Anggota Dewan Pakar DPN HKTI)

Oleh: Entang Sastraatmadja























