• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Pola Sambutan Rismon oleh Gibran End Game vs Eggi Sudjana-DHL: Beda Kelas

fusilat by fusilat
March 16, 2026
in Feature, Tokoh/Figur
0
Pola Sambutan Rismon oleh Gibran End Game vs Eggi Sudjana-DHL: Beda Kelas
Share on FacebookShare on Twitter

FusilatNews – Di negeri yang gemar menonton drama politik seperti menonton sinetron sore—lengkap dengan adegan slow motion dan musik latar dramatis—cara seorang tokoh disambut kadang lebih menarik daripada isi pembicaraannya. Publik sering membaca simbol dari hal-hal kecil: siapa yang disalami dulu, siapa yang diantar sampai pagar, bahkan siapa yang memanggul bingkisan.

Di titik inilah muncul perbandingan yang ramai dibicarakan: pola sambutan terhadap Rismon dibandingkan dengan sambutan terhadap Eggi Sudjana dan DHL.

Cerita yang beredar di ruang publik—baik di media kaca, YouTube, maupun portal berita—menyebutkan bahwa ketika Eggi Sudjana dan DHL datang secara terpisah menemui Presiden Jokowi pada waktu yang berbeda, sambutannya terasa cukup hangat. Jokowi disebut bangkit dari kursinya, menyambut dengan salaman, bahkan mengantar tamunya sampai ke pintu pagar ketika mereka pulang. Sebuah gestur yang dalam budaya politik Indonesia sering dimaknai sebagai bentuk penghormatan personal.

Sementara itu, dalam episode lain yang lebih baru, publik melihat adegan yang berbeda ketika Rismon datang bersama kuasa hukumnya. Sambutannya terlihat lebih formal, lebih singkat, dan tentu saja—seperti biasa dalam politik modern—kamera sudah siap di berbagai sudut. Ada pula bingkisan parcel yang ikut muncul dalam narasi visual tersebut.

Di sinilah warganet mulai memainkan imajinasinya.

Sebagian orang membacanya sebagai perbedaan kelas pertemuan. Bukan kelas sosial tentu saja, melainkan kelas dramaturgi politik. Kalau pertemuan Eggi dan DHL dulu terasa seperti adegan ruang tamu yang tenang—dua tamu datang, tuan rumah berdiri, lalu mengantar sampai pagar—pertemuan Rismon lebih mirip adegan yang sudah dikemas untuk publikasi.

Dan di era digital, paket visual memang sering lebih penting daripada isi dialog.

Namun sisi lain dari cerita ini juga menarik.

Ada yang melihat fenomena ini sebagai bentuk apresiasi kepada Rismon—setidaknya ia berhasil menciptakan peristiwa yang membuat publik kembali berbicara. Di negeri yang kadang lebih gemar menghujat daripada meneliti, lebih suka berandai-andai daripada merawat argumen, sebuah drama kecil saja sudah cukup untuk menjadi bahan diskusi nasional selama berhari-hari.

Pertanyaannya kemudian muncul: apakah Rismon akan merapat ke barisan Eggi atau kepada sosok yang ia sendiri sebut sebagai “tulangnya”, DHL?

Publik tampaknya belum melihat tanda-tanda itu. Karakter Eggi Sudjana dan DHL selama ini dikenal memiliki jalur perjuangan yang cukup panjang, dengan gaya garis komando yang khas. Karena itu banyak pengamat politik pinggir warung kopi berpendapat—dengan nada setengah bercanda—bahwa mereka mungkin tidak mudah menerima model “sekutu dadakan”.

Dalam dunia aktivisme, umur perjuangan sering dihitung seperti masa kerja pegawai negeri: ada yang sudah puluhan tahun, ada yang baru ikut apel pagi.

Di titik ini, perbandingan pun semakin ramai.

Eggi Sudjana dikenal sebagai figur yang telah puluhan tahun berada di panggung advokasi politik. DHL juga sudah belasan tahun berkutat dalam berbagai polemik hukum dan politik. Sedangkan Rismon, bagi sebagian orang, dianggap sebagai figur yang baru muncul di bab terbaru cerita.

Perbedaan lain yang sering disorot publik adalah soal sikap.

Dalam berbagai pernyataan publik sebelumnya, Eggi dan DHL dikenal konsisten tidak menyampaikan permintaan maaf secara formal terkait polemik yang mereka suarakan. Sementara Rismon sendiri pernah menyatakan permintaan maaf kepada Jokowi melalui kanal YouTube, bahkan menyebut karya tulisnya perlu dianulir.

Peristiwa itu kemudian diikuti dengan momen pemberian parcel dari pihak Gibran yang terekam kamera dan viral di media sosial. Di internet, tentu saja, semua bisa berubah menjadi metafora.

Ada yang mengibaratkannya seperti adegan dokumenter alam: seekor hewan gurun menemukan tulang kering di tengah panas matahari. Bukan penghinaan—lebih tepatnya humor khas netizen yang memang tidak pernah kehabisan analogi.

Namun jika dilihat lebih jauh, perbedaan ini mungkin memang menunjukkan dua jalur cerita yang berbeda.

Jokowi tentu bukan pemain baru dalam membaca peta aktor politik. Ia tahu siapa yang sudah puluhan tahun menjadi aktivis, siapa yang baru muncul di bab terbaru. Dalam politik, pengalaman seringkali membuat seseorang tampak lebih “bertaji”, bahkan setelah tidak lagi memegang jabatan.

Sedangkan figur baru biasanya masih mencari posisi—kadang dengan suara keras, kadang dengan langkah yang belum stabil.

Lalu bagaimana dengan Rismon sekarang?

Tidak banyak yang tahu pasti. Setelah polemik itu, keberadaannya di ruang publik terasa lebih sunyi. Ada yang berseloroh ia mungkin sedang mengalami “jet lag politik”—sejenis barotrauma akibat turbulensi opini publik.

Dalam dunia politik Indonesia, fenomena seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Banyak tokoh muncul dengan ledakan besar, lalu menghilang sejenak untuk menata napas.

Dan seperti biasa, publik akan terus menonton.

Karena di negeri ini, politik sering kali bukan hanya soal kekuasaan—tetapi juga soal panggung, simbol, dan tentu saja… cara seseorang disambut di ruang tamu.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Perang AS-Israel vs Iran: Bentrokan Peradaban Barat vs Islam Syiah atau Sekadar Perebutan Minyak dan Dolar?

Next Post

KEMARAU PANJANG DI DEPAN MATA: SAATNYA WASPADA IKLIM EKSTREM

fusilat

fusilat

Related Posts

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara
Feature

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

May 13, 2026
Feature

Ketika Bahasa Krama Menjadi Benteng Anti-Bullying di Sekolah Dasar Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Bullying Verbal dan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya

May 13, 2026
Feature

Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, tetapi Menyalakan Kehidupan Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Project-Based Learning dan Filosofi Urip Iku Urup di Sekolah Dasar

May 13, 2026
Next Post
KEMARAU PANJANG DI DEPAN MATA: SAATNYA WASPADA IKLIM EKSTREM

KEMARAU PANJANG DI DEPAN MATA: SAATNYA WASPADA IKLIM EKSTREM

Israel Resmi Mulai Operasi Darat di Lebanon, Konflik Timur Tengah Memanas

Israel Resmi Mulai Operasi Darat di Lebanon, Konflik Timur Tengah Memanas

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi
Birokrasi

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

by Karyudi Sutajah Putra
May 13, 2026
0

Jakarta-FusilatNews.- Koalisi Masyarakat Sipil mengecam tindakan sewenang-wenang TNI yang melarang kegiatan pemutaran film Pesta Babi di Ternate, Maluku Utara. "Pelarangan...

Read more
Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

May 13, 2026
Prabowo ” Is Finish ” 212 Tidak akan Masuk ke Lubang yang Sama

Benarkah Prabowo Pecah Kongsi dengan Rizieq Syihab?

May 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook, Jaksa Minta Bayar Uang Pengganti Rp5,6 Triliun

Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook, Jaksa Minta Bayar Uang Pengganti Rp5,6 Triliun

May 13, 2026
Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

May 13, 2026

Ketika Bahasa Krama Menjadi Benteng Anti-Bullying di Sekolah Dasar Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Bullying Verbal dan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya

May 13, 2026

Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, tetapi Menyalakan Kehidupan Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Project-Based Learning dan Filosofi Urip Iku Urup di Sekolah Dasar

May 13, 2026
Revolusi Bermula dari Film!

Revolusi Bermula dari Film!

May 13, 2026

Nikmat Sehat yang Baru Disadari Saat Hilang

May 13, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook, Jaksa Minta Bayar Uang Pengganti Rp5,6 Triliun

Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook, Jaksa Minta Bayar Uang Pengganti Rp5,6 Triliun

May 13, 2026
Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

May 13, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist