• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Trauma Bonding Demokrasi (Ketika Rakyat Terus Memaafkan Pemimpin yang Terus Mengecewakannya)

fusilat by fusilat
June 28, 2026
in Feature, Politik
0
Trauma Bonding Demokrasi (Ketika Rakyat Terus Memaafkan Pemimpin yang Terus Mengecewakannya)
Share on FacebookShare on Twitter

By Paman BED

Beberapa hari terakhir, perhatian publik tersedot oleh sebuah kasus yang menyayat hati.
Seorang perempuan menjadi korban penyiksaan berat yang dilakukan oleh pacarnya sendiri. Kekerasan yang dialaminya bukan sekadar tamparan atau pukulan. Bibir korban bahkan sempat digunting. Peristiwa yang diancam dengan hukuman pidana berat itu mengguncang nurani masyarakat.

Namun, ada satu pertanyaan yang jauh lebih mengusik daripada luka fisiknya.
Mengapa korban tidak pergi?
Mengapa seseorang tetap bertahan bersama orang yang berulang kali menyakitinya?
Banyak orang mungkin spontan menjawab, “Karena cinta.”
Sebagian lagi mungkin berkata, “Karena lemah.”
Padahal, psikologi memberikan penjelasan yang jauh lebih kompleks.

Di dalam ilmu psikologi, dikenal istilah trauma bonding.
Trauma bonding adalah ikatan emosional yang terbentuk melalui siklus kekerasan yang diselingi dengan kasih sayang.
* Pelaku menyakiti,
* lalu meminta maaf.
* Pelaku menghina,
* lalu bersikap romantis.
* Pelaku melakukan kekerasan,
* lalu berjanji akan berubah.
* Korban kembali percaya.
* Korban kembali berharap.
* Korban kembali bertahan.
* Lalu siklus itu dimulai lagi
Tidak lama kemudian, kekerasan itu terulang.
Siklus tersebut terus berputar.
Harapan berganti luka.
Luka berganti harapan.
Semakin lama, korban bukan hanya terikat kepada pelaku, tetapi juga terikat kepada harapan bahwa suatu hari pelaku benar-benar akan berubah.

Ironisnya, harapan itulah yang justru berubah menjadi penjara.
Namun kisah tersebut hanyalah pintu masuk menuju persoalan yang jauh lebih besar.
Bukan lagi hubungan antara dua orang.
Melainkan hubungan antara pemimpin dan rakyat.

Bukankah pola yang hampir sama sering muncul dalam setiap musim pemilu?
Sebelum terpilih, seorang calon pemimpin tampil penuh keramahan.
Ia mendengar keluhan rakyat.
Ia turun ke pasar.
Ia menemui petani.
Ia mengunjungi nelayan.
Ia berbicara tentang keadilan.
Ia menjanjikan lapangan pekerjaan.
Ia berjanji memberantas korupsi.
Ia berjanji memperbaiki ekonomi.
Semua terdengar indah.
Semua tampak meyakinkan.
Lalu rakyat memberikan mandat.
Namun setelah kekuasaan berada di tangan, kenyataan tidak selalu berjalan seindah janji.

Sebagian pemimpin mulai melupakan komitmennya.
Korupsi tetap berlangsung.
Nepotisme berganti wajah.

Kebijakan lebih sering menguntungkan kelompok tertentu daripada kepentingan rakyat banyak.
Kritik mulai dipandang sebagai ancaman, bukan sebagai koreksi.
Kepercayaan perlahan berubah menjadi kekecewaan.

Namun menjelang pemilu berikutnya…
Senyum kembali hadir.
Janji kembali diucapkan.
Harapan kembali ditawarkan.
Narasi perubahan kembali diperdengarkan.
Sebagian rakyat kembali percaya.
Sebagian kembali berharap.
Sebagian kembali memilih orang yang sama.
Apakah kondisi ini benar-benar trauma bonding?

Secara ilmiah, tentu tidak sepenuhnya sama.
Trauma bonding adalah konsep psikologi yang menjelaskan hubungan interpersonal yang abusif, sedangkan pilihan politik dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari identitas, ideologi, kondisi ekonomi, kualitas informasi, hingga ketersediaan alternatif calon.

Namun sebagai sebuah analogi, polanya patut direnungkan.
Harapan yang terus dipelihara dapat membuat seseorang mengabaikan pengalaman pahit.
Janji yang terus diulang dapat mengalahkan ingatan terhadap kenyataan.

Demokrasi sejatinya tidak hanya dibangun di atas hak memilih.
Demokrasi juga dibangun di atas kemampuan mengingat.
Rakyat yang mudah lupa akan mudah dipermainkan.
Sebaliknya, rakyat yang memiliki memori politik akan menilai pemimpin bukan dari pidato kampanyenya, melainkan dari rekam jejaknya.

Di dunia bisnis terdapat prinsip yang sederhana.
Past performance is one of the best predictors of future performance.
Kinerja masa lalu memang tidak menjamin masa depan.

Namun, kinerja masa lalu merupakan petunjuk paling rasional untuk memperkirakan apa yang mungkin terjadi di masa depan.

Prinsip tersebut digunakan ketika memilih karyawan.
Digunakan ketika mengangkat direktur.
Digunakan ketika menunjuk auditor.
Digunakan ketika memilih mitra bisnis.
Lalu mengapa ketika memilih pemimpin negara, justru rekam jejak sering dikalahkan oleh janji baru?

Di sinilah letak pelajaran terbesarnya.
Kasus kekerasan yang sedang menjadi perhatian publik bukan hanya mengajarkan tentang bahaya hubungan yang tidak sehat.
Kasus itu juga mengingatkan bahwa harapan yang tidak disertai evaluasi dapat berubah menjadi jebakan.
Baik dalam hubungan pribadi maupun dalam kehidupan berbangsa, kasih sayang tanpa akal sehat akan melahirkan luka yang berulang.

Memaafkan adalah kebajikan.
Memberikan kesempatan kedua juga merupakan kebajikan.
Namun memberikan kesempatan yang sama berulang kali tanpa belajar dari pengalaman bukan lagi kebajikan.
Itu adalah cara paling mudah untuk mengabadikan kekecewaan.
Demokrasi tidak membutuhkan rakyat yang mudah terpesona oleh janji.
Demokrasi membutuhkan rakyat yang mampu membedakan antara penyesalan yang tulus dan sandiwara yang berulang.

Kesimpulan
Trauma bonding menunjukkan bahwa manusia dapat terjebak dalam siklus harapan dan kekecewaan yang terus berulang. Sebagai analogi dalam kehidupan politik, fenomena ini mengingatkan bahwa demokrasi akan kehilangan daya koreksinya apabila rakyat lebih mudah mengingat janji daripada mengingat kinerja. Pemimpin boleh berganti narasi, tetapi rakyat tidak boleh kehilangan ingatan.

Pada akhirnya, kualitas demokrasi tidak hanya ditentukan oleh kualitas pemimpinnya, tetapi juga oleh kualitas ingatan rakyatnya.

Saran
Sudah saatnya budaya politik bergeser dari politik janji menuju politik rekam jejak. Setiap pemilih perlu membiasakan diri mengevaluasi integritas, konsistensi, dan hasil nyata yang telah dicapai oleh seorang pemimpin sebelum kembali memberikan mandat.

Demokrasi yang matang bukan lahir dari rakyat yang mudah berharap, melainkan dari rakyat yang mampu belajar dari pengalaman, berpikir kritis, dan berani mengambil keputusan berdasarkan fakta, bukan sekadar retorika.

Karena pada akhirnya, setiap bangsa tidak selalu dipimpin oleh pemimpin yang paling hebat, tetapi sering kali dipimpin oleh pemimpin yang berhasil lolos dari ingatan kolektif rakyatnya.

Referensi
* Carnes, Patrick. (1997). The Betrayal Bond: Breaking Free of Exploitative Relationships. Health Communications.
* Dutton, Donald G., & Painter, Susan L. (1993). “Emotional Attachments in Abusive Relationships: A Test of Traumatic Bonding Theory.” Violence and Victims, Vol. 8, No. 2, hlm. 105–120.
* American Psychological Association. APA Dictionary of Psychology. Entri: “Trauma Bond.”
* Daniel Kahneman. (2011). Thinking, Fast and Slow. Farrar, Straus and Giroux.
* Karl Popper. (1945). The Open Society and Its Enemies. Routledge.
* Steven Levitsky., & Daniel Ziblatt. (2018). How Democracies Die. Crown.
* Robert Cialdini. (2021). Influence: The Psychology of Persuasion (New and Expanded Edition). Harper Business.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Jokowi Meneruskan Membangun Raja Jawa

Next Post

Ketika Kembang Sepatu Membaca Pikiran Jokowi

fusilat

fusilat

Related Posts

Jokowi Meneruskan Membangun Raja Jawa
Politik

Jokowi Meneruskan Membangun Raja Jawa

June 28, 2026
Duel PSI vs PDIP: Pertarungan Politik 2029 Resmi Dimulai
News

Duel PSI vs PDIP: Pertarungan Politik 2029 Resmi Dimulai

June 28, 2026
Feature

Mengobati Demam atau Menyembuhkan Penyakit? Refleksi tentang Satgas Mitigasi PHK dan Akar Persoalan Ekonomi Indonesia

June 28, 2026
Next Post
Ketika Kembang Sepatu Membaca Pikiran Jokowi

Ketika Kembang Sepatu Membaca Pikiran Jokowi

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Indonesia Targetkan PLTN Operasi Tahun 2032, Rusia Siap Kerja Sama
Economy

Indonesia Targetkan PLTN Operasi Tahun 2032, Rusia Siap Kerja Sama

by Karyudi Sutajah Putra
June 24, 2026
0

Jakarta - FusilatNews.-- Indonesia menargetkan pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) komersial perdananya tahun 2032. Rusia siap bekerja sama. Duta...

Read more
IPW Desak Propam Polda Metro Jaya Sidangkan Penyidik Polres Depok

Mengapa Penangkapan Roy Suryo dan Tifa Seperti Teroris? Ini Kata IPW!

June 22, 2026
Aroma Persaingan AHY-Gibran 2029 Mulai Terasa

Aroma Persaingan AHY-Gibran 2029 Mulai Terasa

June 22, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Ketika Kembang Sepatu Membaca Pikiran Jokowi

Ketika Kembang Sepatu Membaca Pikiran Jokowi

June 28, 2026
Trauma Bonding Demokrasi (Ketika Rakyat Terus Memaafkan Pemimpin yang Terus Mengecewakannya)

Trauma Bonding Demokrasi (Ketika Rakyat Terus Memaafkan Pemimpin yang Terus Mengecewakannya)

June 28, 2026
Jokowi Meneruskan Membangun Raja Jawa

Jokowi Meneruskan Membangun Raja Jawa

June 28, 2026
Duel PSI vs PDIP: Pertarungan Politik 2029 Resmi Dimulai

Duel PSI vs PDIP: Pertarungan Politik 2029 Resmi Dimulai

June 28, 2026

Mengobati Demam atau Menyembuhkan Penyakit? Refleksi tentang Satgas Mitigasi PHK dan Akar Persoalan Ekonomi Indonesia

June 28, 2026
Pertamina Diminta Antisipasi Praktik Korupsi “Rilesta” demi Menjaga Distribusi BBM Tepat Sasaran

Pertamina Diminta Antisipasi Praktik Korupsi “Rilesta” demi Menjaga Distribusi BBM Tepat Sasaran

June 28, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Ketika Kembang Sepatu Membaca Pikiran Jokowi

Ketika Kembang Sepatu Membaca Pikiran Jokowi

June 28, 2026
Trauma Bonding Demokrasi (Ketika Rakyat Terus Memaafkan Pemimpin yang Terus Mengecewakannya)

Trauma Bonding Demokrasi (Ketika Rakyat Terus Memaafkan Pemimpin yang Terus Mengecewakannya)

June 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...