Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Bestari Barus mengaku mendapat wejangan politik dari Presiden ke-7 RI Joko Widodo, yang hampir dapat dipastikan menjadi Ketua Dewan Pembina PSI, agar partainya mengawal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto-Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bukan hanya sampai 2029, melainkan juga hingga periode kedua (2029-2034).
Pernyataan tersebut ditanggapi Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dengan mengatakan, “Saat ini tahun 2026. Untuk menuju ke 2029 masih lama.”
Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan ini sepertinya tidak rela jika Gibran kembali menjadi calon wakil presiden Prabowo pada Pemilihan Presiden 2029.
Dus, apakah AHY berambisi menjadi calon wakil presiden atau bahkan calon presiden?
Setiap politikus, cita-cita tertingginya adalah menjadi presiden atau setidaknya wakil presiden. Apalagi AHY adalah ketua umum parpol. Apalagi, AHY adalah anak dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang pernah menjadi Presiden RI bahkan sampai dua periode (2004-2009 dan 2009-2014).
Lihat saja pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017 lalu, di mana AHY maju bersama Silviana Murni sebagai calon gubernur-wakil gubernur menantang Anies Baswedan-Sandiaga Uno dan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat.
Bahkan AHY rela keluar dari TNI dan menanggalkan status prajuritnya. Di sinilah ambisi kekuasaan AHY terlihat menggelagak.
Ihwal sikap AHY yang terlihat tidak rela Gibran kembali berpasangan dengan Prabowo, dari sinilah aroma persaingan politik antara AHY dan Gibran mulai terasa. Prabowo pun akan menjadi rebutan antara AHY dan Gibran, bahkan sosok lainnya di Pilpres 2029.
Akan halnya Prabowo, meskipun sempat mengklaim bahwa dirinya hanya akan maju lagi di 2029 jika pada periode pertamanya ini berhasil, diyakini mantan Menteri Pertahanan itu hanya omon-omon belaka. Faktanya nanti, dia akan maju lagi menjadi capres. Berhasil atau tidak berhasil di periode pertama ini. Bagi Prabowo, yang penting adalah menjadi presiden. Titik!
Lantas, apa indikatornya? Banyak!
Misalnya, program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Merah Putih (KMP) dan Sekolah Rakyat. Program-program populis inilah yang hendak dijadikan Prabowo sebagai basis massa pendukungnya. Ketiga program prioritas ini akan dikapitalisasi menjadi modal politik untuk Pilpres 2029.
Prabowo juga membangkitkan kembali dwifungsi TNI dan Polri untuk kepentingan dukungan politik pada Pemilu 2029. TNI dan Polri juga dilibatkan dalam program MBG dan KMP. Komando Daerah Militer (Kodam) dan Batalyon ditambah jumlahnya.
Pada saatnya nanti, TNI dan Polri akan meninggalkan netralitas dan independensinya, bahkan terjun ke lapangan untuk mengamankan calon tertentu. Persis seperti Pilpres 2024.
Lantas, dengan siapa Prabowo akan berpasangan di 2029, apakah mau tetap dengan Gibran ataukah dengan AHY atau sosok lain?
Kita tidak tahu pasti. Yang jelas, jika komposisi politik nasional masih seperti ini, tidak ada perubahan signifikan, nyaris dapat dipastikan Prabowo akan kembali berpasangan dengan Gibran.
Bagaimana kalau ternyata
Prabowo menggandeng AHY? Mungkin saja. Tapi kecenderungannya lebih besar ke Gibran. Apalagi jika nanti PSI menjadi parpol besar pada Pemilu 2029.
Jika demikan, berarti AHY cukup menunggu pinangan Prabowo saja. AHY dan SBY harus tetap menjaga hubungan baik dengan Prabowo. Sebab dengan posisi Partai Demokrat seperti sekarang, yang diprediksi akan stagnan pada Pemilu 2029, AHY dan SBY tak akan dapat berbuat lebih banyak.
Lantas, siapa sosok kuat yang layak menantang Prabowo?
Dialah Pramono Anung Wibowo, Gubernur DKI Jakarta saat ini. Jika sukses memimpin Jakarta, PDI Perjuangan diyakini akan mengusung Pramono sebagai capres di Pilpres 2029.
Sebagai pemenang Pemilu 2024, PDIP tak akan mau hanya mengajukan cawapres. PDIP akan mengajukan capres sendiri seperti pada 2024.
Apakah Pramono akan berpasangan dengan AHY atau Gibran?
Sepanjang Megawati Soekarnoputri masih menjadi Ketua Umum PDIP, nyaris tak mungkin putri Bung Karno itu akan mengusung AHY ataupun Gibran. Luka pengkhianatan yang dilakukan Jokowi dan SBY tak mungkin terhapuskan dari benak ibunya, Puan Maharani itu. Seperti itulah karakter Megawati.
Dus, untuk Pilpres 2029, sudah tersedia sedikitnya dua capres dan dua cawapres. Kecuali jika nanti Gibran hendak memotong kompas menjadi capres.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)





















