Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Devide et impera. Pecahlah dan kuasailah!
Siasat licik yang diterapkan Belanda saat menjajah Indonesia itu ternyata hingga kini masih menjadi senjata ampuh untuk mengadu domba rakyat. Kali ini dalam urusan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang merupakan program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto-Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Rakyat dicoba diadu domba. Betapa tidak?
Di mana ada aksi demonstrasi massa menentang MBG, di situ pula ada aksi tandingan dari massa yang diduga dibayar yang mendukung program MBG.
Aksi tandingan dukung MBG ini marak terjadi di Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia. Kebanyakan melibatkan perempuan dewasa. The power of emak-emak.
Di Medan, Sumatera Utara, misalnya, aksi unjuk rasa mendukung MBG didukung oleh Gubernur Sumut Bobby Nasution. Menantu Presiden ke-7 RI Joko Widodo ini bahkan menyambut dan menemui langsung para demonstran. Entah logika semacam apa yang mereka pakai.
Bahwa MBG banyak dikorupsi? Mereka tak perduli.
Akibat program MBG itu, kemudian banyak anggaran program yang lebih penting diamputasi? Mereka juga tak peduli. Yang penting, MBG jalan terus.
Padahal, dari kajian kesehatan, MBG jelas salah sasaran. Kalau yang dijadikan tujuan adalah mengatasi stunting atau gagal tumbuh kembang anak, mestinya hal itu dilakukan sejak anak-anak berusia 0 tahun. Ini yang jadi sasaran, kok anak-anak yang sudah bersekolah? Terlambat sudah dan MBG tak akan berpengaruh terhadap stunting.
Ketika masuk musim libur sekolah dan MBG diliburkan tiga minggu, mengapa yang protes justru para pengusaha pengelola dapur MBG?
Kalau tidak diliburkan, apakah anak-anak juga tidak boleh libur? Atau kalau pun libur tetapi tetap harus ke sekolah untuk ambil MBG?
Lantas, hanya demi MBG mengapa rakyat harus diadu domba?
Lalu siapa yang mengadu domba rakyat dengan mengerahkan para demonstran yang diduga berbayar?
Siapa lagi kalau bukan mereka yang berkepentingan dengan tetap berjalannya MBG?
Kasihan rakyat kalau harus diadu domba. Jangankan rakyat awam, mahasiswa atau tepatnya mahasiswa saja banyak yang tidak tahu kalau ditanya mereka berdemo untuk apa. Apa tujuan mereka berdemo?

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)






















