Jakarta – FusilatNews – Pelukis atau seniman pada umumnya terkadang memiliki kemampuan futuristik seperti futurolog atau bahkan ahli nujum yang mampu membaca isi pikiran seseorang, bahkan mengidentifikasi tanda-tanda zaman. Tak terkecuali pelukis seperti Kembang Sepatu.
Pelukis kelahiran Pemalang, Jawa Tengah, Oktober 1972 ini kali ini mencoba membaca isi pikiran Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Bacaan Kembang Sepatu atas isi pikiran Jokowi itu ia tuangkan dalam sebuah lukisan karya terbarunya (2026) berjudul, “Anomali” (80 x 100 cm).
Tergambar dalam lukisan itu seekor Gajah sedang bertarung melawan seekor Banteng. “Indonesia sedang bertarung melawan dirinya sendiri,” kata Kembang Sepatu saat dihubungi, Minggu (28/6/2026), mencoba menjelaskan makna lukisannya tersebut.
Tak biasanya, dalam lukisan ini, Gajahnya bertaring (gading) tiga batang. Mungkin karena itulah lukisan tersebut diberi judul “Anomali”.
Lantas, apa makna sesungguhnya dari tiga gading itu? Hanya pelukisnya yang tahu.
Itu makna secara umum lukisan “Anomali” tersebut. Secara spesifik, barangkali maknanya bisa ditafsirkan sebagai pertarungan antara partai politik berlambang Gajah, yakni Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dengan parpol berlambang Banteng, yakni Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Apalagi lukisan ini kebetulan tercipta saat Jokowi, yang kini dikabarkan sudah menjadi Ketua Dewan Pembina PSI, melakukan safari politik ke sejumlah provinsi di Indonesia dalam rangka membesarkan PSI seperti yang pernah dia janjikan, yang akan bekerja mati-matian, siang-malam, demi membesarkan PSI. Jokowi memulai safari politiknya dengan mengunjungi Provinsi Lampung mulai Jumat (26/6/2026).
Sebab itu, salah satu dari tiga gading pada Gajah tersebut mungkin saja dimaksudkan sebagai faktor Jokowi, ayahanda dari Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep. Dua gading lainnya adalah Kaesang dan kakandanya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Lampung adalah kandang Banteng, sebutan untuk wilayah yang dimenangi PDIP di samping Jawa Tengah. Ibaratnya, Gajah langsung menusuk jantung Banteng.
Masuk akal bila sasaran utama Jokowi di Lampung itu adalah PDIP. Jokowi ingin menggusur dominasi PDIP dan menjadikan Lampung sebagai kandang Gajah di Pemilu 2029.
Jokowi sudah terlebih dulu menginstruksikan agar Jawa Tengah dijadikan kandang Gajah.
Jokowi yang pernah dipecat PDIP gegara mendukung Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, anak sulungnya di Pemilihan Presiden 2024 lalu sepertinya memang menyimpan dendam kesumat kepada PDIP.
Jokowi pun mengubah energi negatif dendam kesumat itu menjadi energi positif kemenangan dengan mencoba mengalahkan PDIP di Pemilu 2029 mendatang antara lain melalui safari politiknya kali ini.
Karena ada nuansa dendam kesumat itulah maka cara Jokowi menyerang PDIP adalah dengan pertarungan “head to head”, Gajah melawan Banteng, seperti tergambar dalam lukisan Kembang Sepatu.
Hal ini berbeda dengan cara Jokowi melawan parpol lain, Partai Nasdem misalnya, yang ia gembosi dari luar dengan merekrut kader-kader parpol pimpinan Surya Paloh itu. Apalagi benteng pertahanan PDIP cukup kokoh, sehingga tidak mudah digembosi dari luar.
Sebagai pemenang Pemilu 2024 atau juara bertahan, tentu posisi PDIP lebih berat daripada PSI sang penantang. Sebab itu, dalam lukisan Kembang Sepatu, Banteng dilukiskan lebih kecil badannya ketimbang badan Gajah. Dan faktanya memang tubuh Gajah lebih besar daripada Banteng.
Ihwal Jokowi menjadikan PDIP sebagai target untuk dikalahkan pada Pemilu 2029 juga tersirat dari prosesi adat saat wong Solo ini menerima gelar adat “Baginda Pemuka Bangsa” dari lima kerajaan adat di Rumah Adat Kedaton Keagungan di Kota Bandar Lampung, Sabtu (27/6/2026).
Dalam prosesi itu, Jokowi mengenakan pakaian raja dan duduk di kursi kehormatan sambil kedua kakimya menginjak kepala Kerbau. Diketahui, Kerbau satu spesies dengan Banteng dan Sapi (Bovidae).
Tafsir liar pun berkembang. Antara lain Jokowi menginjak kepala PDIP. Lalu siapa kepala PDIP? Semua orang sudah tahu.
Sebagai orang Jawa, Jokowi memang sudah terbiasa menggunakan politik simbol. Kali ini PDIP dan ketua umumnya yang jadi sasaran akhir. Benarkah?























