• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Ketamakan Spiritual Haji

fusilat by fusilat
June 6, 2024
in Feature, Spiritual
0
Ketamakan Spiritual Haji
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Marbot Musala

Karyudi Sutajah Putra

Jakarta – Jika ada orang suka makan dan setelah kenyang tetap mau makan lagi dan lagi, bahkan sampai mengambil jatah makanan orang lain, itu kemaruk, serakah atau tamak namanya.

Jika ada orang kaya-raya tapi tetap tak puas menumpuk harta lagi dan lagi, bahkan sampai mengambil harta orang lain, itu juga kemaruk, serakah atau tamak namanya.

Analog, jika ada seseorang yang sudah menunaikan ibadah haji tapi mau menunaikan ibadah haji lagi dan lagi, bahkan dengan mengambil hak berhaji orang lain, apakah itu bisa disebut tamak?

Jika bisa, lantas, ketamakan semacam apa namanya? Ada yang menyebutnya ketamakan spiritual. Ya, ketamakan spiritual.

Bagi yang sudah berhaji tapi ingin berhaji lagi dan lagi, galibnya motifnya tidak lagi soal melaksanakan rukun Islam ke lima, karena kewajiban berhaji bagi Muslim yang mampu adalah sekali seumur hidup, tapi ingin mendapatkan pengalaman batin bahkan kepuasan spiritual yang tiada duanya kecuali di Makkah-Madinah, dua kota suci umat Islam.

Demi kepuasan spiritual itu, mereka rela melakukan apa saja, temasuk misalnya menggunakan visa non-haji atau bahkan visa haji palsu supaya bisa berhaji.

Diberitakan, dalam sepekan terakhir ini setidaknya ada 61 warga negara Indonesia (WNI) ditangkap di Arab Saudi. Penyebabnya, mereka memalsukan visa haji.

Rinciannya, Sabtu (1/6/2024), 37 WNI ditangkap aparat setempat di Madinah karena visa non-haji.

Empat hari sebelumnya atau tepatnya Selasa (28/5/2024), sebanyak 24 WNI diamankan aparat keamanan di Miqat Masjid Bir Ali, Madinah.

Puluhan WNI itu dilarang masuk Makkah karena menggunakan visa ziarah untuk berhaji.

Mayoritas dari 61 WNI yang ditangkap di Arab Saudi itu berasal dari Sulawesi Selatan.

Tidak itu saja. Saat ini ada sekitar 100 ribu WNI yang sedang menjalankan ibadah umrah dan tak kunjung pulang-pulang juga ke Tanah Air karena diduga ingin sekaligus melaksanakan ibadah haji yang puncaknya adalah wukuf di Arafah.

Pemerintah Arab Saudi memberi tenggat waktu bagi jemaah umrah dari seluruh dunia untuk meninggalkan negara itu paling lambat hari Kamis (6/6/2024) ini.

Berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah, terdapat dua jenis visa haji yang legal, yaitu visa haji kuota Indonesia (kuota haji reguler dan haji khusus) dan visa haji Mujamalah (undangan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi).

Tahun 2024 ini, kuota haji Indonesia sebanyak 221.000 jemaah. Indonesia juga mendapat 20.000 tambahan kuota, sehingga total kuota haji Indonesia pada operasional 1445 H/2024 M ini adalah 241.000 jemaah.

Mengapa banyak Muslim WNI berhaji? Tentu saja untuk melaksanakan rukun Islam ke lima. Sebab itu, bagi Muslim yang merasa mampu, mereka akan pergi berhaji. Haji memang diwajibkan bagi Muslim yang mampu. Mampu secara mental, fisik dan materi.

Mengapa mereka yang hendak berhaji rela melakukan apa saja, termasuk menggunakan visa palsu, gelang palsu dan identitas palsu?

Bagi yang belum pernah berhaji, mungkin mereka frustrasi menunggu antrean. Sulawesi Selatan, misalnya, daftar tunggu atau “waiting list” haji mencapai 47 tahun.

Mereka dahaga secara spiritual untuk berhaji yang penuh dengan ritual sakral. Mereka mau meraih pengalaman spiritual yang mungkin hanya sekali seumur hidup. Sebab itu maklum bila mayoritas dari 61 WNI yang ditangkap di Arab Saudi itu berasal dari Sulsel.

Namun bagi yang pernah berhaji dan ingin berhaji lagi, barangkali mereka bukan hanya dahaga spiritual melainkan juga tamak spiritual. Kepergian mereka berhaji mengambil hak kuota orang lain yang belum berhaji.

Berbeda dengan tamak makanan yang ada batasnya, yakni daya tampung perut, ketamakan spiritual ini tidak ada batasnya sebagaimana ketamakan harta.

Harta ibarat air laut, makin banyak diteguk makin membuat haus. Karena haus, maka seseorang yang kaya ingin lebih kaya lagi dan lagi. Segala cara pun dihalalkan, termasuk korupsi.

Berhaji pun demikian. Makin banyak melakukan ritual rukun haji, maka kian mendapatkan pengalaman spiritual, dan pengalaman spiritual itu tak ada batasnya.

Tak Berpahala

Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Bidang Tabligh, Dakwah Komunitas, Kepesantrenan dan Pembinaan Haji-Umrah M Saad Ibrahim berpendapat, para WNI yang memalsukan visa haji, atau berhaji tapi menggunakan visa non-haji seperti visa umrah atau visa ziarah, syarat dan rukun hajinya tetap sah, tapi tidak mendapat pahala. Bahkan bisa berdosa karena merugikan jemaah haji lainnya dengan mengurangi hak kuota mereka.

Mengapa merugikan? Karena kuota haji sudah dibatasi dan pelayanan haji pun disesuaikan dengan kuota.

Jika ada jemaah haji non-kuota, berarti mereka setidaknya menyita ruang untuk sai, thawaf, wukuf dan sebagainya yang mestinya menjadi jatah jemaah haji berkuota.

Sebab itu, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy pernah mewacanakan larangan berhaji lebih dari sekali untuk mengurangi masa tunggu haji di Indonesia. Mereka yang mau berhaji lebih dari sekali disarankan umrah saja. Namun wacana pembatasan haji cukup sekali seumur hidup ini hilang terbawa angin lalu.

Pasalnya, umrah berbeda dengan haji. Kalau haji ada wukuf di Arafah, umrah tidak. Wukuf konon merupakan puncak kepasrahan seorang hamba kepada Allah Sang Maha Pencipta.

Apalagi setelah umrah tidak dapat gelar haji atau hajjah, berbeda dengan berhaji. Itulah!

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Apa MLN Termasuk 13 Tersangka Baru Kasus DJKA yang Ditetapkan KPK?

Next Post

AS Sampaikan Penghargaan kepada Raja Maroko atas Bantuan Kemanusiaan ke Gaza

fusilat

fusilat

Related Posts

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi
Birokrasi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Feature

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?
Feature

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

April 22, 2026
Next Post
AS Sampaikan Penghargaan kepada Raja Maroko atas Bantuan Kemanusiaan ke Gaza

AS Sampaikan Penghargaan kepada Raja Maroko atas Bantuan Kemanusiaan ke Gaza

Pegy Bakal Gugat Polisi ke Pra-Peradilan Atas Penetapan Tersangka dan Penangkapannya

Kasus Pembunuhan Vina , Eky: Saksi Kunci Cabut BAP, Kuasa Hukum Bertanya - tanya

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci
daerah

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

by Karyudi Sutajah Putra
April 23, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Untuk ke-9 kalinya, Setara Institute merilis data Indeks Kota Toleran (IKT). Ada 10 kota yang masuk dalam kategori...

Read more
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

April 23, 2026
Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

April 22, 2026
Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

April 22, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...