By Paman BED
Ketika Sebuah Ungkapan Menjadi Cara Berpikir
Dalam percakapan sehari-hari masyarakat Sunda, kita sering mendengar dua ungkapan sederhana: “Kumaha engke” dan “Engke kumaha.”
Sekilas keduanya tampak sama—hanya permainan posisi kata. Namun jika dicermati lebih dalam, dua kalimat ini mencerminkan dua cara berpikir yang sangat berbeda dalam menghadapi masa depan.
“Kumaha engke?” berarti “bagaimana nanti?”
Nada kalimat ini biasanya muncul setelah keputusan diambil. Seolah tindakan sudah berjalan, sementara konsekuensinya dipikirkan belakangan.
Sebaliknya, “Engke kumaha?” berarti “nanti bagaimana?”
Pertanyaan ini justru muncul sebelum tindakan dilakukan. Ia menuntut perhitungan, analisis, dan perencanaan.
Dua kalimat sederhana ini sesungguhnya menggambarkan dua pendekatan klasik dalam kehidupan maupun dalam dunia bisnis:
Risk taker — bertindak dahulu, risiko dipikirkan kemudian.
Risk management — memikirkan risiko terlebih dahulu sebelum bertindak.
Di dunia modern, pendekatan kedua menjadi fondasi berbagai disiplin ilmu: manajemen strategis, audit, tata kelola perusahaan, hingga kebijakan publik.
Namun menariknya, kebijaksanaan seperti ini sebenarnya telah lama diajarkan dalam tradisi spiritual dan agama.
Antara Keberanian dan Kehati-hatian
Dalam banyak organisasi, keberanian mengambil risiko sering dianggap sebagai ciri pemimpin yang visioner.
Tanpa keberanian, tidak ada inovasi.
Tanpa keberanian, tidak ada lompatan besar.
Namun sejarah juga menunjukkan sisi lain:
banyak kegagalan besar justru lahir dari keberanian yang tidak diimbangi dengan perhitungan.
Misalnya:
proyek yang terlalu ambisius,
investasi tanpa kajian kelayakan,
keputusan strategis tanpa mitigasi risiko.
Semua itu sering dimulai dengan satu kalimat sederhana:
“Jalankan saja dulu… nanti kita lihat.”
Itulah semangat “Kumaha engke.”
Sebaliknya, organisasi yang sehat biasanya memulai langkahnya dengan pertanyaan:
Apa risiko dari proyek ini?
Apa dampaknya jika gagal?
Bagaimana mitigasinya?
Apakah manfaatnya sepadan dengan risikonya?
Inilah semangat “Engke kumaha.”
Dalam dunia manajemen modern, pendekatan ini dikenal sebagai:
risk assessment
risk mitigation
risk governance
Permainan Kata yang Menggambarkan Cara Berpikir
Fenomena seperti ini sebenarnya sering muncul dalam permainan kata di bahasa Indonesia.
Misalnya:
“Ada apanya?”
versus
“Apa adanya.”
Yang pertama bersifat eksploratif—penuh rasa ingin tahu, bahkan berani mengambil risiko.
Yang kedua lebih stabil—menerima realitas dan cenderung berhati-hati.
Contoh lain:
“Siapa saya?”
versus
“Saya siapa!”
Kalimat pertama bersifat reflektif.
Kalimat kedua lebih impulsif.
Perbedaan kecil dalam susunan kata sering kali mencerminkan perbedaan besar dalam cara berpikir.
Dan pada akhirnya, cara berpikir itulah yang menentukan kualitas keputusan manusia.
Risk Management dalam Perspektif Al-Qur’an
Menariknya, prinsip kehati-hatian yang menjadi dasar risk management modern sebenarnya telah lama diajarkan dalam Al-Qur’an.
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”
(QS. Al-Hasyr: 18)
Ayat ini mengandung prinsip manajemen yang sangat mendalam:
setiap tindakan hari ini harus mempertimbangkan konsekuensinya di masa depan.
Dalam bahasa manajemen modern, ini adalah forward-looking risk assessment.
Al-Qur’an juga memberi contoh nyata tentang pentingnya perencanaan jangka panjang melalui kisah Nabi Yusuf ketika mengelola potensi krisis pangan di Mesir.
Allah berfirman:
“Supaya kamu bercocok tanam tujuh tahun sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan.”
(QS. Yusuf: 47)
Ini adalah contoh klasik manajemen risiko strategis:
menyimpan cadangan pada masa surplus untuk menghadapi masa krisis.
Hadits tentang Ikhtiar dan Manajemen Risiko
Prinsip kehati-hatian ini juga ditegaskan dalam sebuah hadits yang sangat terkenal.
Suatu ketika seorang Arab Badui bertanya kepada Nabi Muhammad ﷺ:
“Apakah aku harus mengikat untaku atau bertawakal kepada Allah?”
Rasulullah ﷺ menjawab:
“Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah.”
(HR. Tirmidzi)
Jawaban ini sederhana tetapi sarat makna.
Mengikat unta adalah manajemen risiko.
Bertawakal adalah dimensi spiritualnya.
Agama tidak pernah mengajarkan kepasrahan tanpa usaha.
Risiko Dunia dan Risiko Akhirat
Namun ada satu hal menarik dalam praktik manajemen modern.
Hampir semua literatur manajemen risiko berbicara tentang:
risiko bisnis
risiko finansial
risiko operasional
risiko reputasi
Semua berkaitan dengan dunia.
Jarang sekali yang membicarakan risiko akhirat.
Seolah-olah manajemen risiko berhenti pada kerugian materi, bukan kerugian spiritual.
Padahal Al-Qur’an justru mengingatkan bahwa kerugian terbesar manusia bukanlah kerugian bisnis, melainkan kerugian di akhirat.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang rugi adalah mereka yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat.”
(QS. Az-Zumar: 15)
Karena itu Rasulullah ﷺ pernah menjelaskan siapa sebenarnya orang yang paling cerdas.
Seorang sahabat Ansar bertanya:
“Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?”
Rasulullah ﷺ menjawab:
“Yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.”
(HR. Ibnu Majah no. 4259)
Hadits ini memberikan perspektif yang sangat mendalam.
Dalam bahasa manajemen modern, kecerdasan bukan sekadar kemampuan membaca peluang keuntungan.
Kecerdasan sejati adalah kemampuan mengelola risiko terbesar kehidupan: risiko akhirat.
Jika dianalogikan dengan konsep manajemen:
Dosa adalah risk exposure
Taubat adalah risk mitigation
Takwa adalah risk governance
Dengan kata lain, kehidupan manusia sesungguhnya adalah sebuah perjalanan manajemen risiko spiritual.
Penutup: Pertanyaan untuk Kita Semua
Pada akhirnya, hidup manusia selalu berada di antara dua kalimat itu:
Kumaha engke
atau
Engke kumaha
Yang satu bergerak dulu lalu berpikir.
Yang satu berpikir dulu sebelum bergerak.
Dunia mungkin masih memberi kesempatan memperbaiki kesalahan.
Proyek bisa diperbaiki.
Kerugian bisa diganti.
Kesalahan bisa dikoreksi.
Namun akhirat tidak.
Karena itu mungkin pertanyaan yang paling penting bukan lagi sekadar:
“Bagaimana nanti?”
Tetapi:
“Nanti di hadapan Allah, bagaimana?”
Jika pertanyaan itu selalu hadir sebelum kita mengambil keputusan, mungkin banyak risiko kehidupan yang dapat kita hindari.
Dan mungkin, banyak langkah kita akan menjadi lebih bijaksana.
Karena pada akhirnya, kecerdasan sejati bukan hanya tentang mampu merencanakan masa depan dunia, tetapi juga mampu mempersiapkan diri untuk kehidupan setelahnya.
Kesimpulan dan Saran
Ungkapan sederhana “Kumaha engke” dan “Engke kumaha” mencerminkan dua pendekatan fundamental dalam pengambilan keputusan: keberanian mengambil risiko dan kehati-hatian dalam mengelola risiko.
Dalam kehidupan maupun organisasi, keseimbangan antara keduanya sangat penting.
Keberanian tanpa perhitungan dapat menimbulkan kegagalan, sementara kehati-hatian tanpa keberanian dapat menghambat kemajuan.
Islam sendiri telah lama mengajarkan prinsip manajemen risiko melalui konsep ikhtiar, perencanaan, dan tawakal. Bahkan Al-Qur’an dan hadits mengingatkan bahwa risiko terbesar manusia bukan hanya kerugian dunia, tetapi kerugian akhirat akibat melanggar aturan Allah.
Karena itu beberapa hal patut menjadi refleksi bersama:
Biasakan berpikir “Engke kumaha” sebelum bertindak.
Integrasikan manajemen risiko dunia dengan kesadaran risiko akhirat.
Bangun budaya perencanaan, evaluasi, dan akuntabilitas dalam setiap keputusan.
Dengan demikian keberanian melangkah tetap ada, tetapi selalu berada dalam koridor kebijaksanaan.
Dan mungkin, di situlah makna terdalam dari kecerdasan yang diajarkan Rasulullah ﷺ:
bukan hanya pandai mengelola risiko dunia, tetapi juga bijak mempersiapkan diri untuk kehidupan setelahnya.
Referensi
Al-Qur’an, Surah Al-Hasyr ayat 18
Al-Qur’an, Surah Yusuf ayat 47–49
Al-Qur’an, Surah Az-Zumar ayat 15
Hadits Riwayat Tirmidzi: “Ikatlah untamu kemudian bertawakallah.”
Hadits Riwayat Ibnu Majah no. 4259 tentang mukmin paling cerdas
Hopkin, Paul. Fundamentals of Risk Management. Kogan Page, 2018
ISO 31000. Risk Management Guidelines
Hillson, David. Practical Project Risk Management. Management Concepts
By Paman BED





















