• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Paradoks Kekuasaan: Menang Berkat Bohir, Berkuasa Demi Bayar Utang Budi

fusilat by fusilat
March 7, 2026
in Feature, Politik
0
Paradoks Kekuasaan: Menang Berkat Bohir, Berkuasa Demi Bayar Utang Budi
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Malika Dwi Ana
Jakarta, 7 Maret 2026

Di tengah hiruk-pikuk demokrasi elektoral Indonesia, satu pola yang kian jelas muncul: pemimpin yang naik takhta sering kali tidak benar-benar bebas. Mereka terikat oleh “utang budi” politik—sebuah bentuk ijon kekuasaan yang membuat jabatan presiden menjadi jaminan bagi sponsor-sponsornya. Utang budi ini bukan sekadar metafor; ia menjadi logika operasional yang menggerakkan kebijakan negara, sering kali bertentangan dengan amanat Pembukaan UUD 1945 alinea ke-4: melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.Pemimpin yang menang berkat bantuan bohir (konglomerat lokal seperti Prajogo Pangestu, Anthony Salim, dan lainnya yang kerap dipanggil ke Hambalang), dukungan geopolitik asing (seperti Amerika Serikat melalui Agreement on Reciprocal Trade/ART dan Board of Peace/BoP), serta restu pendahulu (warisan utang dan koalisi gemuk era Jokowi), akan menghabiskan masa jabatannya untuk membayar cicilan utang budi tersebut. Kebijakan negara pun berubah menjadi tagihan kartu kredit abadi: bantuan diberikan di depan, pembayaran dilakukan belakangan dengan aset negara, kedaulatan, dan masa depan generasi berikutnya sebagai jaminan.

Mekanisme Utang Budi Politik
Utang budi politik terjadi ketika dukungan politik—dana kampanye, jaringan pengaruh, atau restu elektoral—diberikan dengan syarat balik yang tersirat atau tersurat. Setelah berkuasa, pemimpin “membayar” melalui:
* Alokasi proyek strategis nasional (PSN) atau anggaran besar kepada sponsor.
* Perpanjangan izin usaha atau perubahan regulasi yang menguntungkan.
* Kebijakan luar negeri yang selaras dengan kepentingan pendukung asing.

Ini bukan sekadar korupsi biasa, melainkan sistematisasi ketergantungan kekuasaan pada pihak-pihak non-publik. Hasilnya: negara kehilangan otonomi dalam membuat kebijakan yang benar-benar pro rakyat.

Contoh Pembayaran Utang Budi
– Kepada Bohir Lokal
Hilirisasi nikel dan sawit diklaim sebagai langkah anti-asing dan pro-kemandirian. Namun, produksi smelter dibatasi agar tidak mengganggu rantai pasok Amerika Serikat (sejalan dengan ART), sementara kontrak Freeport diperpanjang hingga 2061 dengan bagi hasil yang lebih “ramah” bagi ExxonMobil (55-45). Keuntungan mengalir deras ke oligarki, sementara rakyat menerima polusi, PHK massal, dan kerusakan lingkungan. Cuan tetap di tangan segelintir, bukan redistribusi bagi rakyat.
– Kepada Amerika Serikat
Penandatanganan ART pada 19 Februari 2026 menghapus tarif 99% pada produk AS (pertanian, otomotif, digital, farmasi), sementara ekspor Indonesia ke AS dikenai tarif 19% (turun dari 32%). Komitmen pembelian produk AS mencapai US$33–38 miliar (Boeing, energi, pertanian). Indonesia juga bergabung dengan Board of Peace inisiatif Trump, membayar iuran besar, dan siap mengirim pasukan perdamaian. Semua ini dikemas sebagai “win-win” dan “bebas aktif”. Namun, kedaulatan ekonomi dan politik dikorbankan demi diskon tarif yang relatif kecil. Kemenangan bagi elite AS dan importir lokal, kerugian bagi kemandirian nasional.
– Kepada Warisan Jokowi
Proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) dilanjutkan, utang jatuh tempo Rp833 triliun+ dibayar, dan koalisi gemuk dipertahankan melalui program Koperasi Merah Putih (KMP) yang memotong Dana Desa hingga 70% (Rp34,57 triliun dari Rp60,57 triliun) untuk mendanai gudang, cold storage, dan pabrik genteng. Impor 105.000 pikap/truk dari India senilai Rp24,66 triliun dilakukan meski mengancam industri otomotif lokal. Rakyat menerima genteng baru dan makan siang gratis yang kadang basi atau keracunan, sementara fondasi pendidikan dan kesehatan terkikis.

Deforestasi Papua: Pembayaran Paling Mahal
Salah satu contoh paling mencolok adalah deforestasi di Papua. Dua juta hektar hutan lindung direncanakan dibabat untuk “energy estate” berbasis sawit dan “food estate”. WALHI menyebutnya “terabas hutan lindung” tingkat tinggi yang mengancam masyarakat adat, biodiversitas, dan ekosistem air. Banjir Sumatra 2025 yang menewaskan ribuan orang hanyalah salah satu dampak serupa. Penebangan hutan dicatat sebagai pendapatan GDP, tetapi hilangnya karbon, air, dan keanekaragaman hayati tidak pernah dimasukkan sebagai penyusutan aset negara. Keuntungan mengalir ke oligarki sawit dan tambang, sementara rakyat Papua tetap miskin dan alamnya hancur. Ini adalah pembayaran utang budi kepada Bohir tambang/sawit: janji swasembada pangan, tapi hutan jadi korban.

Ujian Terberat: Menjadi Rakyat Indonesia
Ujian terberat bagi rakyat Indonesia adalah menyaksikan pemimpin yang naik takhta selalu memiliki “sponsor” buhir dan kekuatan asing. Kebijakan negara pun menjadi ijon politik: bantuan diberikan di depan, pembayaran dilakukan di belakang dengan SDA, APBN, kedaulatan, dan harga diri bangsa. Rakyat hanya menerima pidato berapi-api “HEEEIII… ANTEK ASING!!!”—lalu menyaksikan pemimpinnya asyik selfie bersama Trump sambil memegang map kesepakatan yang merugikan.Memilih pemimpin independen yang tidak bergantung pada bohir adalah kebutuhan mendesak. Namun di Indonesia saat ini, itu seperti mimpi di siang bolong—suatu hal yang mustahil. Sistem politik oligarkis telah dirancang untuk melindungi kepentingan sponsor, bukan rakyat. Akibatnya, ujian kesabaran rakyat menjadi abadi: seperti sinetron FTV yang labil, penuh bluffing, dan selalu berakhir tragis bagi penonton setia—rakyat Indonesia.

Malika Dwi Ana
Jakarta, 7 Maret 2026

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Pramono: Jakarta Terbuka bagi Pendatang Usai Lebaran, Tidak Ada Operasi Yustisi

Next Post

Kumaha Engke dan Engke Kumaha (Antara Risk Taker, Risk Management, dan Risiko Akhirat)

fusilat

fusilat

Related Posts

Dunia di Ujung Tombak Nuklir: Siapa Memulai, Semua Binasa
Crime

Dunia di Ujung Tombak Nuklir: Siapa Memulai, Semua Binasa

April 15, 2026
Economy

Bisnis Hulu Citronella Oil, Margin Tergantung Variabel Volatilitas Harga Pasar dan Kualitas Produk

April 14, 2026
Feature

Cinta Dunia dan Dampaknya ​(Manajemen Risiko Akhirat)

April 14, 2026
Next Post

Kumaha Engke dan Engke Kumaha (Antara Risk Taker, Risk Management, dan Risiko Akhirat)

UMP 2026 Dipastikan Naik, Pemerintah Gunakan Formula Baru Pengupahan

Ancaman PHK Menjelang Lebaran Bayangi Pekerja

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!
Law

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

by Karyudi Sutajah Putra
April 13, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Pemberitaan sejumlah media beberapa waktu lalu ihwal pembongkaran rumah tua di kawasan cagar budaya, tepatnya di Jalan Teuku...

Read more
Jawaban Nasdem Terkait Tudingan Uang Rp 30 M  Disita KPK, Akan Digunakan Untuk Keluarga Nyaleg

Tertipu, Ahmad Sahroni Berkasus dengan KPK?

April 11, 2026
Antara Retorika dan Realita: Bisakah Prabowo Tumbangkan Outsourcing?

Padamnya Api Demokrasi di Tangan Prabowo

April 9, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Langit Kedaulatan Dipertaruhkan: Jet Tempur AS Mengintip Udara Indonesia

Langit Kedaulatan Dipertaruhkan: Jet Tempur AS Mengintip Udara Indonesia

April 15, 2026
Dunia di Ujung Tombak Nuklir: Siapa Memulai, Semua Binasa

Dunia di Ujung Tombak Nuklir: Siapa Memulai, Semua Binasa

April 15, 2026
Hari Buruh 1 Mei: Massa KSPI Jabar Gelar Demo di Jakarta Besok

May Day Disuruh Tertib, Tapi Nasib Buruh Masih di Ujung Ketidakpastian

April 15, 2026
Menteri atau Mandataris? Menguji Logika Bahlil di Balik Dalih “Menjalankan Visi Presiden”

Menteri atau Mandataris? Menguji Logika Bahlil di Balik Dalih “Menjalankan Visi Presiden”

April 15, 2026
Rabat Jadi Ibu Kota Buku Dunia UNESCO 2026, Wilson Lalengke Ucapkan Selamat!

Rabat Jadi Ibu Kota Buku Dunia UNESCO 2026, Wilson Lalengke Ucapkan Selamat!

April 15, 2026

Bisnis Hulu Citronella Oil, Margin Tergantung Variabel Volatilitas Harga Pasar dan Kualitas Produk

April 14, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Langit Kedaulatan Dipertaruhkan: Jet Tempur AS Mengintip Udara Indonesia

Langit Kedaulatan Dipertaruhkan: Jet Tempur AS Mengintip Udara Indonesia

April 15, 2026
Dunia di Ujung Tombak Nuklir: Siapa Memulai, Semua Binasa

Dunia di Ujung Tombak Nuklir: Siapa Memulai, Semua Binasa

April 15, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...