• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Lemahnya “Iman” Brian Ketika Kampus Dimata-matai

Karyudi Sutajah Putra by Karyudi Sutajah Putra
May 4, 2025
in Feature, Pojok KSP
0
Lemahnya “Iman” Brian Ketika Kampus Dimata-matai
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)

Jakarta – Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim)

Analog, ketika banyak kampus atau perguruan tinggi coba dimata-matai, baik oleh tentara atau pun polisi, ternyata Brian Yuliarto hanya bisa berharap kampus dapat menjaga independensinya.

Artinya, sikap Menteri Pendidikan Tinggi, Sain dan Teknologi (Mendikti Saintek) itu mencerminkan “selemah-lemahnya iman”. Ia tak berdaya menghadapi masuknya militer dan polisi ke dalam kampus.

Memang, masuknya militer dan polisi ke kampus merupakan urusan rektor. Namun, menteri punya bobot hak suara yang cukup kuat dalam mengangkat atau memberhentikan seorang rektor. Jika senat punya 65% hak suara, maka menteri punya 35% hak suara dalam memilih rektor.

Mendikti Saintek pun sebenarnya bisa berbuat lebih banyak ketika kampus coba dimata-matai tentara atau polisi. Bisa dengan tangannya melalui tanda tangan instruksi atau perintah tertulis, bisa pula dengan lisannya melalui perintah verbal kepada rektor untuk menolak masuknya tentara atau polisi ke dalam kampus.

Alhasil, ketika Brian sekadar bisa berharap dengan hati, tak bisa bertindak lebih tegas dengan tangannya atau lisannya, maka itulah selemah-lemahnya ‘iman” yang dia miliki.

Bahkan Brian terkesan permisif terhadap masuknya tentara ke dalam kampus. Brian pernah mengatakan, kampus adalah tempat terbuka bagi siapa pun yang hendak bekerja sama atau pun mengisi materi, termasuk untuk TNI.

Masuknya tentara atau polisi ke dalam kampus berpotensi mencederai kebebasan akademik yang dijamin dan dilindungi Undang-Undang (UU) No 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.

TNI, mestinya fokus menjalankan tugas pokok dan fungsinya sesuai amanat UU No 34 Tahun 2004 yang diperbarui dengan UU No 3 Tahun 2025 tentang Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan UU
UU No 23 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara. Dalam kedua UU itu, TNI merupakan alat pertahanan negara.

Diberitakan, Mendikti Saintek Brian Yuliarto berharap perguruan tinggi dapat menegakkan marwah sebagai tempat independen. Hal itu disampaikan Brian saat berdialog dengan ratusan mahasiswa yang menggelar aksi di depan Kantor Kemendikti Saintek, Senayan, Jakarta, Jumat (2/5/2025), seperti dilansir media-media.

Dalam aksi demonstrasi memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2025 itu, para mahasiswa menuntut sejumlah hal, termasuk penolakan militerisme di lingkungan pendidikan dan kawasan kampus.

Diketahui, sejumlah kampus memang seperti dimata-matai militer dan polisi. Termasuk Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, dan Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Semarang, Jawa Tengah.

Diberitakan, Komandan Distrik Militer (Dandim) 0508/Depok Kolonel Infanteri Imam Widhiarto mendatangi acara konsolidasi mahasiswa UI. Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Brigjen Kristomei Sianturi menjelaskan bahwa kedatangan Kol Inf Imam Widhiarto ke kampus UI, Rabu (16/4/2025) malam, itu lantaran dia diundang oleh seorang mahasiswa berinisial F dan Kepala Bagian Pengamanan (Kabagpam) UI berinisial AR.

Hingga kini kedatangan militer atau tentara ke kampus UI itu masih menyisakan polemik. Termasuk di kalangan internal mahasiswa UI sendiri.

Diberitakan pula, seorang anggota Polda Jateng berinisial E sempat disandera oleh sekelompok mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) Semarang saat aksi demonstrasi memperingati Hari Buruh Internasional (May Day) di Kota Semarang, Kamis (1/4/2025) malam. Anggota yang mengenakan pakaian hitam dan diketahui sebagai anggota intelijen Polda Jateng itu disandera lantaran berada di tengah kerumunan aksi massa.

Dikutip dari Kompas.com, 21 April 2025, sedikitnya ada 5 peristiwa TNI masuk kampus yang terjadi sejak Maret 2025.

Pertama, terjadi pertemuan pada 24 Maret 2025 antara Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) dan Kodim 0701 Banyumas, Jateng, yang dilatarbelakangi aksi protes RUU TNI pada 21 Maret 2025.

Awalnya, pihak Rektorat Unsoed memanggil fungsionaris BEM setelah mereka menyelenggarakan aksi menolak RUU TNI pada 21 Maret 2025. Pihak Rektorat meminta BEM berdialog dengan Kodim Banyumas. BEM awalnya menolak karena tidak ada surat resmi dari TNI, namun toh pertemuan tetap terlaksana.

Menurut BEM Unsoed, pertemuan itu ternyata dipakai militer untuk menekan mahasiswa memberikan klarifikasi dan permintaan maaf atas aksi yang telah terjadi.

Peristiwa kedua terjadi pada 25 Maret 2025, di mana mahasiswa Papua mengaku merasa terancam dengan beredarnya surat dari Kodim 1707/Merauke yang dikirimkan kepada Sekretariat Daerah Merauke untuk meminta data mahasiswa.

Ketiga, pengumuman kerja sama antara TNI dan Universitas Udayana, Bali. Meski perjanjian itu diteken oleh Rektor Universitas Udayana I Ketut Sudarsana dan Panglima Kodam IX/Udayana Muhammad Zamroni atas nama Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pada 5 Maret 2025 di Denpasar, informasi tersebut menjadi sorotan pada 26 Maret 2025.

Peristiwa keempat adalah kedatangan anggota TNI dalam diskusi bertema “Fasisme Mengancam Kampus: Bayang-bayang Militer bagi Kebebasan Akademik,” di UIN Walisongo, Semarang, 14 April 2025.

Laporan dari Amnesty Internasional Indonesia menyebut, anggota TNI itu menanyakan identitas pribadi para panitia diskusi secara rinci, mulai dari nama, tempat tinggal, dan jenjang semester.

Peristiwa kelima ialah kedatangan Dandim Depok ke acara konsolidasi mahasiswa UI itu.

NKK/BKK

Fenomena masuknya tentara ke lingkungan kampus ini mengingatkan kita pada kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) atau Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK) yang pernah diberlakukan rezim Orde Baru.

NKK/BKK adalah kebijakan pemerintah Orde Baru yang bertujuan untuk mengembalikan marwah akademik dan mengurangi pengaruh politik dalam kehidupan kampus. Kebijakan ini diluncurkan pada tahun 1977-1978 oleh Menteri Pendidikan saat itu, Daoed Joesoef.

NKK/BKK bertujuan untuk membuat mahasiswa fokus pada aktivitas akademik dan mengurangi keterlibatan mereka dalam urusan politik.

Kebijakan ini muncul setelah adanya protes mahasiswa terhadap kebijakan pemerintah, termasuk ditetapkannya Soeharto sebagai Presiden untuk ketiga kalinya. Rezim Orde Baru ingin meredam kritik mahasiswa dan mengontrol aktivitas mereka.

Apakah fenomena masuknya tentara ke kampus sekarang ini menjadi pertanda akan diterapkannya kembali kebijakan NKK/BKK oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang berlatar belakang militer meskipun dengan nomenklatur lain?

Kapuspen TNI Brigjen Kristomei Sianturi, Kamis (24/4/2025), menyatakan tidak ada perintah bagi prajurit TNI untuk bertindak represif dan mengintimidasi pihak kampus, termasuk mahasiswa, apalagi mencampuri urusan internal kampus.

Adapun isu negatif terkait TNI masuk kampus, katanya, merupakan masalah yang dibesar-besarkan. Sebab, tegasnya, TNI tidak mempunyai permasalahan dengan mahasiswa maupun pihak kampus. Nah, lho!

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Ijazah Presiden: Antara Hak Pribadi dan Hak Publik

Next Post

Kontroversi  Donald Trump setelah Unggah Foto Dirinya Sebagai Paus di Medsos

Karyudi Sutajah Putra

Karyudi Sutajah Putra

Related Posts

Menguji Klaim Fahri Hamzah atas Kinerja Ekonomi Prabowo
Feature

Menguji Klaim Fahri Hamzah atas Kinerja Ekonomi Prabowo

April 18, 2026
Ketika Kritik Dipidanakan, Demokrasi Sedang Diuji (dengan Kasus Ubedilah dan Saiful Mujani)
Feature

Ketika Kritik Dipidanakan, Demokrasi Sedang Diuji (dengan Kasus Ubedilah dan Saiful Mujani)

April 18, 2026
Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang
Feature

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

April 17, 2026
Next Post
Kontroversi  Donald Trump setelah Unggah Foto Dirinya Sebagai Paus di Medsos

Kontroversi  Donald Trump setelah Unggah Foto Dirinya Sebagai Paus di Medsos

Eropa peringati Hari Kemenangan  Bersama Trump Dalam Pikiran Mereka

Eropa peringati Hari Kemenangan Bersama Trump Dalam Pikiran Mereka

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia
News

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

by fusilat
April 17, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Awal minggu ini beredar sejumlah laporan media internasional yang mengungkap adanya upaya Amerika Serikat (AS) untuk memperoleh akses...

Read more
Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

April 15, 2026
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

April 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Menguji Klaim Fahri Hamzah atas Kinerja Ekonomi Prabowo

Menguji Klaim Fahri Hamzah atas Kinerja Ekonomi Prabowo

April 18, 2026
Mobil Listrik Tak Lagi Otomatis Bebas Pajak, Pemerintah Terapkan Skema Baru

Mobil Listrik Tak Lagi Otomatis Bebas Pajak, Pemerintah Terapkan Skema Baru

April 18, 2026
Gelombang Migrasi Politik ke PSI Menguat, NasDem Terkikis—Isu Merger dengan Gerindra Mencuat

Gelombang Migrasi Politik ke PSI Menguat, NasDem Terkikis—Isu Merger dengan Gerindra Mencuat

April 18, 2026
Ketika Kritik Dipidanakan, Demokrasi Sedang Diuji (dengan Kasus Ubedilah dan Saiful Mujani)

Ketika Kritik Dipidanakan, Demokrasi Sedang Diuji (dengan Kasus Ubedilah dan Saiful Mujani)

April 18, 2026
Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

April 17, 2026
Pilkada Jakarta Selesai, Inisial S atau Kaesang?

PSI Klaim ‘Borong’ Kader NasDem, Nama-nama Disimpan: Manuver Senyap atau Sinyal Perang Politik?

April 17, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Menguji Klaim Fahri Hamzah atas Kinerja Ekonomi Prabowo

Menguji Klaim Fahri Hamzah atas Kinerja Ekonomi Prabowo

April 18, 2026
Mobil Listrik Tak Lagi Otomatis Bebas Pajak, Pemerintah Terapkan Skema Baru

Mobil Listrik Tak Lagi Otomatis Bebas Pajak, Pemerintah Terapkan Skema Baru

April 18, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist