Mari kita mulai dengan mengambil contoh dari sunatullah, yaitu ketika binatang sakit. Ia akan kehilangan nafsu makan, adalah respons alami yang umum terjadi. Ada beberapa alasan mengapa binatang cenderung menolak makan saat sakit:
- Perasaan Tidak Nyaman: Sakit dapat menyebabkan ketidaknyamanan atau rasa sakit pada tubuh binatang, yang membuat mereka kehilangan nafsu makan. Seperti manusia, mereka mungkin merasa lemah, tidak enak badan, atau bahkan mengalami nyeri, yang membuat mereka enggan untuk makan.
- Penurunan Energi: Ketika binatang sakit, tubuh mereka fokus untuk melawan penyakit atau mengatasi kondisi yang menyebabkan sakit. Hal ini membutuhkan banyak energi, dan tubuh mereka mungkin memprioritaskan penggunaan energi untuk memperbaiki diri daripada mencerna makanan baru. Sebagai hasilnya, binatang bisa kehilangan nafsu makan karena energi mereka terfokus pada pemulihan.
- Gangguan Pencernaan: Beberapa penyakit dapat menyebabkan gangguan pencernaan, seperti mual atau diare, yang membuat binatang tidak nyaman atau tidak ingin makan. Rasa mual atau tidak enak badan juga bisa menyebabkan penurunan nafsu makan.
- Perubahan pada Indra Penciuman atau Pengecapan: Penyakit tertentu bisa menyebabkan perubahan pada indra penciuman atau pengecapan binatang. Ini bisa menyebabkan mereka kehilangan minat pada makanan, karena mereka tidak lagi menemukan makanan menarik atau menggugah selera.
- Depresi atau Stres: Binatang juga bisa mengalami stres atau depresi ketika sakit, terutama jika mereka mengalami isolasi atau ketidaknyamanan akibat kondisi kesehatan mereka. Stres atau depresi ini bisa menyebabkan penurunan nafsu makan.
Pertanyaan adalah, mengapa terjadi seperti tersebut?
Ya, dalam konteks tertentu, ketidakmampuan atau penolakan binatang untuk makan juga bisa dilihat sebagai bagian dari proses penyembuhan atau pemulihan yang disebut dengan “puasa penyembuhan” atau “puasa terapeutik”. Dalam beberapa kasus, ketika binatang sakit atau mengalami kondisi kesehatan tertentu, tubuh mereka dapat menggunakan energi yang biasanya digunakan untuk mencerna makanan untuk memperbaiki diri atau melawan penyakit.
Puasa penyembuhan adalah fenomena yang diamati pada berbagai jenis binatang di alam liar. Binatang kadang-kadang secara alami mengurangi atau menghentikan asupan makanan ketika mereka sakit atau terluka. Ini diyakini memberikan tubuh mereka kesempatan untuk berkonsentrasi sepenuhnya pada proses penyembuhan.
Selain itu, dalam praktik medis tertentu, puasa terapeutik kadang-kadang direkomendasikan sebagai bagian dari strategi perawatan untuk mempercepat proses penyembuhan atau membantu tubuh melawan penyakit tertentu. Dalam kasus ini, ketidakmampuan atau penolakan binatang untuk makan bisa dianggap sebagai bagian dari upaya alami tubuh untuk menyembuhkan diri.
Namun, penting untuk diingat bahwa ketidakmampuan atau penolakan makan juga bisa menjadi tanda penyakit atau kondisi kesehatan yang lebih serius.
Keterangan hadist;
“Summu tashihu” yang berarti “Berpuasalah, supaya kamu menjadi sehat.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan juga oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab-kitab hadis Shahih mereka.
Hadis ini mengajarkan tentang manfaat kesehatan yang bisa diperoleh dari ibadah puasa. Selain mendapatkan pahala spiritual, puasa juga memiliki manfaat kesehatan fisik yang besar. Puasa membantu membersihkan tubuh dari racun, meningkatkan metabolisme, meningkatkan daya tahan tubuh, dan memperbaiki sistem pencernaan.
Dengan demikian, puasa tidak hanya memberi manfaat spiritual, tetapi juga membawa manfaat kesehatan bagi pelakunya. Oleh karena itu, hadis ini mengajarkan pentingnya menjaga kesehatan tubuh melalui ibadah puasa.
Ya, puasa dapat memiliki efek terapeutik atau penyembuhan pada tubuh dalam beberapa hal. Beberapa manfaat terapeutik puasa yang telah diamati dan didokumentasikan meliputi:
- Detoksifikasi: Puasa dapat membantu tubuh membersihkan diri dari racun dan limbah yang terakumulasi dalam tubuh. Dengan memberi istirahat pada sistem pencernaan, tubuh memiliki kesempatan untuk membuang toksin melalui proses detoksifikasi alami.
- Pemulihan Sistem Pencernaan: Puasa sementara dapat membantu meredakan gangguan pencernaan seperti perut kembung, konstipasi, dan asam lambung yang berlebihan. Ini memberikan waktu bagi sistem pencernaan untuk beristirahat dan pulih.
- Penurunan Berat Badan: Puasa dapat menjadi metode efektif untuk menurunkan berat badan dengan cara mengurangi asupan kalori secara keseluruhan. Selain itu, puasa intermiten telah terbukti membantu meningkatkan metabolisme dan membakar lemak.
- Peningkatan Sensitivitas Insulin: Puasa dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin, yang penting untuk pengaturan gula darah dan pencegahan diabetes tipe 2.
- Peningkatan Kesehatan Jantung: Puasa dapat membantu menurunkan faktor risiko penyakit jantung seperti tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tinggi, dan peradangan.
- Penurunan Peradangan: Puasa telah terbukti memiliki efek antiinflamasi pada tubuh, yang dapat membantu meredakan gejala peradangan kronis seperti arthritis dan penyakit autoimun.
Namun, penting untuk diingat bahwa puasa harus dilakukan dengan bijaksana dan di bawah pengawasan yang tepat, terutama bagi individu dengan kondisi kesehatan tertentu atau yang sedang menjalani pengobatan tertentu. Selalu konsultasikan dengan profesional kesehatan sebelum memulai program puasa atau perubahan signifikan dalam pola makan Anda.




















