Oleh: Nazaruddin
Sudah terlalu lama umat Islam hidup dalam ketidakpastian yang melelahkan. Setiap tahun, kita terjebak dalam ritual yang sama: menunggu sidang isbat di depan layar televisi hanya untuk memastikan apakah esok hari kita mulai berpuasa atau merayakan Idulfitri. Bayangkan, umat dengan populasi miliaran jiwa—yang mengklaim diri sebagai pewaris peradaban agung—bahkan tak memiliki kepastian kalender untuk hari esoknya sendiri. Ini bukan semata soal teknis melihat bulan; ini adalah potret rapuhnya tatanan.
Langkah Muhammadiyah yang secara resmi mengadopsi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) mulai 1447 H (2026 M) adalah tamparan keras bagi kemapanan yang stagnan. Ini bukan sekadar urusan menggeser derajat hilal di atas ufuk. Ini adalah pernyataan politik peradaban: Islam harus berhenti menjadi “tamu asing” dalam pengelolaan waktu dunia modern yang serba presisi dan terukur.
Selama ini, kita terbelenggu oleh egosentrisme wilayah dan sekat mazhab. Seolah-olah hukum alam dan pergerakan semesta berhenti di batas garis khatulistiwa atau tembok perbatasan negara. Metode lama—termasuk Wujudul Hilal—memang berjasa di masanya. Namun ia masih terkurung dalam tempurung nasionalisme geografis. Melalui KHGT, paradigma itu dibalik secara total. Bumi dipandang sebagai satu kesatuan: matlak global. Jika syarat astronomis telah terpenuhi di belahan bumi mana pun—entah di pesisir Amerika atau pedalaman Afrika—maka seluruh dunia telah memasuki hari yang baru.
Mari jujur: peradaban besar mustahil berdiri di atas fondasi waktu yang spekulatif. Kalender adalah urat nadi kehidupan kolektif. Tanpanya, perencanaan ekonomi jangka panjang hanya menjadi angan-angan, koordinasi internasional akan tumpang tindih, dan disiplin sosial akan keropos. Jika dunia modern mampu tunduk pada presisi kalender Masehi hingga ratusan tahun ke depan, mengapa kalender Hijriah harus terus bergantung pada “keputusan menit terakhir” sebuah sidang?
Kepastian yang ditawarkan KHGT adalah modal utama untuk bersaing di panggung global. Kita harus berhenti menguras energi intelektual hanya untuk berdebat soal “kapan mulai puasa” setiap tahun. Energi itu jauh lebih berharga bila dialokasikan untuk membangun sains, teknologi, dan kesejahteraan umat. Islam yang maju adalah Islam yang mampu menyelaraskan wahyu dengan keteraturan alam yang terukur—sunnatullah.
Hari ini, 18 Februari 2026, yang bertepatan dengan 1 Ramadan 1447 H, seharusnya menjadi momentum pengingat. Kita tak boleh lagi membiarkan ego geografis dan sentimen sempit mazhab memecah ritme ibadah umat. KHGT bukan semata soal keseragaman tanggal, melainkan soal harga diri sebuah peradaban—peradaban yang ingin kembali memimpin waktu, bukan terus menjadi pengikut yang gamang di ekor zaman.

Oleh: Nazaruddin






















