• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Mengapa Petani Kita Tak Pernah Jadi Penjual Beras? Saatnya Mengakhiri Kutukan Gabah!

Ir Entang Sastraatmaja by Ir Entang Sastraatmaja
November 23, 2025
in Feature, Komunitas
0
PETANI TANPA BULOG
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Entang Sastratmaja

Dalam sebuah diskusi mengenai nasib petani padi di negeri ini, muncul satu pertanyaan yang tampak sederhana tetapi sebenarnya mengandung persoalan struktural yang besar: apa yang akan terjadi jika petani mampu menjual hasil akhir usahatani padinya dalam bentuk beras, bukan lagi sebatas gabah kering panen (GKP)?

Pertanyaan ini menarik, karena begitu ia diajukan, kita seperti membuka pintu menuju ruang masalah yang selama ini luput disentuh: mengapa petani selalu berhenti di gabah? Mengapa nilai tambah hasil panen justru dinikmati pihak lain?

Jika Petani Menjual Beras

Bila petani mampu mengolah sendiri gabahnya menjadi beras, setidaknya empat hal akan langsung terlihat:

Pertama, Pendapatan Petani Naik.
Beras memiliki nilai jual jauh lebih tinggi dibanding gabah. Itu berarti petani bisa mengantongi margin yang selama ini justru dinikmati penggilingan atau pedagang.

Kedua, Kesejahteraan Petani Membaik.
Dengan pendapatan lebih besar, kemampuan petani memenuhi kebutuhan keluarga juga meningkat—sebuah lompatan yang selama puluhan tahun tak pernah benar-benar terjadi.

Ketiga, Ekonomi Lokal Menguat.
Pengolahan gabah menjadi beras membuka lapangan kerja baru, menggerakkan aktivitas ekonomi desa, dan memajukan sektor pendukung lainnya.

Keempat, Ketahanan Pangan Daerah Meningkat.
Produksi beras yang diolah di tingkat lokal akan mengurangi ketergantungan pada pemasok luar serta menjaga stabilitas harga di daerah.

Namun untuk mencapai kondisi ideal tersebut, petani membutuhkan tiga hal penting:

  • Teknologi pengolahan (mesin penggilingan yang layak),

  • Pelatihan serta pendampingan, dan

  • Akses pasar yang memungkinkan mereka menjual langsung hasil olahannya.

Mengapa Selama Ini Petani Tetap Menjual Gabah?

Realitas di lapangan berkata lain. Petani masih terjebak untuk menjual hasil panen dalam bentuk gabah karena:

  • Keterbatasan teknologi. Mayoritas tidak memiliki akses ke mesin penggilingan yang berkualitas.

  • Keterbatasan modal. Investasi mesin penggilingan—bahkan skala kecil—masih dirasa memberatkan.

  • Ketergantungan pada tengkulak. Rantai perdagangan memaksa petani menjual cepat dan murah.

  • Dukungan pemerintah yang belum memadai. Program yang ada sering kali tidak menyentuh inti persoalan: bagaimana petani bisa naik kelas dari produsen gabah menjadi produsen beras.

Padahal, jika petani menjual beras, bukan hanya pendapatan mereka yang naik: posisi tawar mereka pun akan berubah secara fundamental. Tengkulak kehilangan dominasi, mata rantai perdagangan membaik, dan petani tidak lagi menjadi pihak paling lemah dalam sistem pangan nasional.

Apa yang Mestinya Dilakukan Pemerintah?

Dalam kerangka ideal, pemerintah seharusnya hadir melalui strategi berikut:

  1. Meningkatkan kapasitas petani lewat pelatihan pengolahan dan manajemen usaha tani-beras.

  2. Menjamin harga melalui pembelian Bulog dengan HPP yang adil dan berpihak.

  3. Membangun kemitraan antara petani/Gapoktan dengan perusahaan penggilingan dan offtaker.

  4. Memperkuat infrastruktur penyimpanan, pasca panen, dan pengolahan.

  5. Mengawasi dan menegakkan standar HPP agar permainan harga di lapangan dapat diminimalisir.

Langkah-langkah ini bukan sekadar kebijakan teknis; ia menentukan apakah nilai tambah produksi padi akan dinikmati petani atau tetap mengalir ke rantai distribusi yang dominan.

Penutup: Sudah Saatnya Mengubah Wajah Pertanian Kita

Jika kita sungguh ingin meningkatkan nilai tambah agribisnis perberasan, maka solusi paling logis adalah menggeser potret petani padi dari petani gabah menjadi petani beras.
Itu berarti memberi akses, teknologi, modal, serta posisi tawar yang layak bagi mereka.
Sebab mustahil petani sejahtera bila nilai tambah terbesar hasil panennya terus dinikmati pihak lain.

(Penulis adalah Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat)

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Drama Hukum yang Mengular: Menakar Arah Kasus Laporan Jokowi

Next Post

Persahabatan: Pertemuan Dua Kesunyian yang Saling Memahami

Ir Entang Sastraatmaja

Ir Entang Sastraatmaja

Related Posts

Timnas Belanda, Selalu Saja Berbeda
Feature

Timnas Belanda, Selalu Saja Berbeda

June 15, 2026
Bangga dengan Ketololan: Negeri yang Membiakkan IP 2 dan Fobia Buku
Feature

Jokowi Akan Kembali Presiden Pasca Gibran

June 15, 2026
Feature

Membangun Mutual Dependence, Ekosistem Strategis Indonesia–China (Evaluasi Pasca “Surat Cinta” China atas Iklim Investasi Terkini di Indonesia)

June 15, 2026
Next Post
Persahabatan: Pertemuan Dua Kesunyian yang Saling Memahami

Persahabatan: Pertemuan Dua Kesunyian yang Saling Memahami

Api yang Sama di Dua Lilin: Renungan tentang Persahabatan

Api yang Sama di Dua Lilin: Renungan tentang Persahabatan

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Idrus Marham dan Kebangkrutan Moral
Feature

Idrus Marham dan Kebangkrutan Moral

by Karyudi Sutajah Putra
June 15, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Entah siapa yang memberikan hak kepada Idrus Marham, sehingga bekas...

Read more
Rakyat Melawan!

Rakyat Melawan!

June 13, 2026
TNI dan Komcad Bukan Alat Hadapi Demonstrasi Mahasiswa

TNI dan Komcad Bukan Alat Hadapi Demonstrasi Mahasiswa

June 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Timnas Belanda, Selalu Saja Berbeda

Timnas Belanda, Selalu Saja Berbeda

June 15, 2026
Bangga dengan Ketololan: Negeri yang Membiakkan IP 2 dan Fobia Buku

Jokowi Akan Kembali Presiden Pasca Gibran

June 15, 2026

Membangun Mutual Dependence, Ekosistem Strategis Indonesia–China (Evaluasi Pasca “Surat Cinta” China atas Iklim Investasi Terkini di Indonesia)

June 15, 2026

Melampaui Tesis Satjipto Rahardjo

June 15, 2026
Purbaya Yudhi Sadewa: Dari Bayang-Bayang Luhut ke Kursi Menteri Keuangan

Rumor Reshuffle Makin Kencang, Kursi Menkeu dan Gubernur BI Dikabarkan Jadi Sasaran Perombakan Prabowo

June 15, 2026
Harga BBM Naik hingga Suku Bunga Acuan Meningkat, Beban Masyarakat Kian Berat

Harga BBM Naik hingga Suku Bunga Acuan Meningkat, Beban Masyarakat Kian Berat

June 15, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Timnas Belanda, Selalu Saja Berbeda

Timnas Belanda, Selalu Saja Berbeda

June 15, 2026
Bangga dengan Ketololan: Negeri yang Membiakkan IP 2 dan Fobia Buku

Jokowi Akan Kembali Presiden Pasca Gibran

June 15, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...