• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Menjadi Bangsa Pemenang

Karyudi Sutajah Putra by Karyudi Sutajah Putra
May 31, 2023
in Feature
0
Memosisikan TNI Sedikit Lebih Maju
Share on FacebookShare on Twitter


Oleh: Mujamin

Jakarta – Lewat laga yang sungguh dramatis, sengit, taruhan gengsi, kerja keras, adu strategi, tak ada kompromi permainan total garuda muda. Dibumbui riuh membahananya teriakan semangat dari para suporter memerahkan stadion. Sesekali nyanyian, yel-yel mengekspresikan semangat keindonesiaan membuat kompetisi menjadi semakin meriah. Semua itu demi untuk yang dinanti kembali, dan akhirnya timnas sepakbola kita didaulat medali emas SEA Games.

Pastinya atas prestasi ini disambut gemuruh apresiasi, bangga, haru, senang bukan kepalang, dan semua sama sekali tidak mengherankan euforia terasa pada masing-masing dada warga bangsa Indonesia. Senantiasa memang sudah lazim demikian! Ya benar, terbasuh sudah dahaga setelah 32 tahun bangsa puasa juara timnas sepakbola di level kawasan.

Kemenangan timnas sepakbola terutama penting sekali karena Indonesia punya alasan pasar populasi besar pecinta sepakbola. Meski sebenarnya multi cabang olahraga lain yang juga perlu menumbuhkan rasa solidaritas. Di antaranya misalkan badminton yang membawa pulang 5 emas, 3 perak, 3 perunggu.

Namun apa yang dapat kita petik dari gelar prestasi keseluruhan menggembirakan merah-putih memenangkan SEA Games? Perayaan besar, larut dalam histeria dengan melupakan atau mengabaikan insiden baku-hantam, hanya itu? Tentu saja tidak, momentum ini harus berkontribusi positif, trigger yang membuat mental bangsa semakin bernyali ke depan. Tidak lagi minder atau demam panggung seolah-olah dari bangsa-bangsa lain lebih superior.

Berharap pula juara ini menjadi hadiah sebuah reputasi sejarah yang dapat membuahkan kesadaran kepada semua hal. Seperti ekspresi kesadaran serupa ketika misalkan sebaliknya sedang ada perkara-perkara bangsa yang pelik, menyedihkan, merisaukan hati dan/atau yang memprihatinkan.

Atmosfernya tidak hanya puja-puji, prestasi bola itu harus semakin menumbuhkan spiritualitas nasionalisme. Yakni nasionalisme yang mendenyutkan, diarahkah sebagai sarana yang semakin memperkuat ikatan persatuan dan kesatuan kita. Kendati betapa di tengah kenyataan perbedaan keberagaman latar suku, adat istiadat, budaya, agama, ras, golongan atau aliran preferensi politik!

Selanjutnya, prestasi luar biasa ini harus semakin menumbuhkan spiritualitas nasionalisme pada seluruh bidang-bidang kehidupan lainnya. Tetapi bukan nasionalisme simbolik yang wanginya mudah lenyap, hilang seharian saja, nasionalisme yang matang pagi mentah sore. Nasionalisme dangkal yang berkutat pada polemik spektrum ideologis, kelas populasi mayoritas-minoritas, masih seputar kepentingan atau kedudukan dalam kekuasaan.

Bukan juga nasionalisme kolonial yang bawa obsesi pertentangan rasisme sektarian. Mengapa begitu pentingnya membangun spirit penguatan kesadaran nasionalisme? Sebab kita ingin Indonesia menjadi bangsa pemenang, mendapatkan prestasi masa depan yang lebih pamor prestise daripada sekedar hanya menjuarai sebidak saja.

Titik Pijak

Kita mau Indonesia masa datang yang berkeadaban, sejahtera, adil makmur secara sosial ekonomi. Membangun bangsa kelas dunia, negeri yang maju berilmu, canggih secara teknologi, tangguh, kuat mentalnya dan seterusnya? Skema pijaknya mulai dari penguatan paradigma, mindset, mental nasionalisme.

Konsep menjadi bangsa pemenang adalah menciptakan prestasi, merawat serta menjaganya secara berkesinambungan, kemudian menancapkannya sebagai pakem filosofi yang mendarah daging, tertanamkan, tidak mengubahnya kendati rezim berganti rezim.

Termasuk meluruskan konvoi kemenangan, bukan sketsa agenda panggung politik bagi petinggi atau elite, tak ingin menyaksikan mereka yang bertindak pragmatis saling klaim, merasa secara langsung terlibat proaktif padahal terpisahkan aturan.

Selain pemain, orang pertama yang layak diakui mendapat apresiasi adalah pelatih. Sebab istimewanya ia, semua yang kita saksikan sekarang adalah hasil dari penerapan sistem total football diajarkan atau di bawah asuhan dan racikannya. Cara-cara, pola, atau gaya lama sudah seharusnya kita tinggalkan. Sebagaimana juga mengubah strategi cara bermain di tim sepakbola yang acap rentan-rapuh.

Peran moral, peran sosial, peran intelektual (politik gagasan) bahwa kebutuhan pada tiap-tiap pergulatan politik haruslah disertai gagasan akan pemahaman keindonesiaan. Perhelatan politik yang menghiasi perjalanan menuju Indonesia modern adalah memilih nahkoda yang membawa tawaran bagi perbaikan bangsa. Pemimpin yang bukan sekadar menjalankan rutinitas pekerjaan rumah, melainkan mengerjakan pekerjaan sejarah.

Tantangan sosial, politik, dan ekonomi ke depan, kepada siapapun tanpa terkecuali, termasuk apapun warna partainya semuanya bertanggung jawab. Sama halnya menganggap saat berlaga dengan tim lawan, menang sebagai taruhannya.

Geliat nasionalisme harus dipelihara agar semakin subur berkecambah menjadi kewajaran dalam setiap kehidupan berbangsa. Jika tidak, kita akan terus berkecamuk dalam kemelut artifisial dan terjebak pada hal kecil yang tak berkesudahan.

Peluang hanya ada dalam rentan 13 tahun ke depan, seperti disebutkan secara terang oleh Presiden Jokowi pada pidatonya yang melengking dalam puncak acara ‘musyawarah rakyat’ lalu. Disebutkan kita harus mampu menggunakan kesempatan yang hanya sekali dalam sejarah bangsa tersebut. Menimbun banyak prestasi nasional, termasuk kuat, tabah untuk menjaga harkat dan martabatnya.

Menjauhi terlampau asyik bergelut politik kebisingan. Yang membuat pasif fungsi sosial-kemasyarakatan, dan demoralisasinya nasionalisme. Kita setuju modal bonus demografi Indonesia yang mencapai puncaknya pada 2035, membuktikan betapa Indonesia bangsa besar. Pada saat itu kita ingin mengejar kesempatan emas menjadi negara maju, target kemenangan harus jauh lebih tinggi.

Dikutip dari detik.com, Rabu 31 Mei 2023.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Menyempurnakan Pemikiran Hawking

Next Post

Nasdem : Semoga Cawe-cawe Jokowi Bukan ‘Abuse of Power”

Karyudi Sutajah Putra

Karyudi Sutajah Putra

Related Posts

China, Iran, dan Diplomasi dari Orbit: Dukungan yang Tersirat dalam Bayang-Bayang
Feature

China, Iran, dan Diplomasi dari Orbit: Dukungan yang Tersirat dalam Bayang-Bayang

April 26, 2026
Feature

KERUNTUHAN DEMOKRASI?

April 26, 2026
Apa Urgensi Melibatkan Militer dalam Rekrutmen Manajer Koperasi MP?
Economy

Apa Urgensi Melibatkan Militer dalam Rekrutmen Manajer Koperasi MP?

April 25, 2026
Next Post
Nasdem : Semoga Cawe-cawe Jokowi Bukan ‘Abuse of Power”

Nasdem : Semoga Cawe-cawe Jokowi Bukan 'Abuse of Power"

Para Ketua Umum Partai Denokrat, PKS dan Nasdem Berkumpul Bahas Masa Depan Koalisi Perubahan Untuk Persatuan.

Para Ketua Umum Partai Denokrat, PKS dan Nasdem Berkumpul Bahas Masa Depan Koalisi Perubahan Untuk Persatuan.

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa
Feature

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

by Karyudi Sutajah Putra
April 24, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Letkol Teddy Indra Wijaya kini sudah bisa...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

RPP Tugas TNI: Wujud Remiliteriasi yang Bahayakan Kehidupan Demokrasi

April 24, 2026
Jangan Lawan Parpol!

Jangan Lawan Parpol!

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Aksi Massa di Kaltim: Kemewahan Pejabat dan Politik Anggaran Jadi Pemantik Kemarahan Publik

Aksi Massa di Kaltim: Kemewahan Pejabat dan Politik Anggaran Jadi Pemantik Kemarahan Publik

April 26, 2026
China, Iran, dan Diplomasi dari Orbit: Dukungan yang Tersirat dalam Bayang-Bayang

China, Iran, dan Diplomasi dari Orbit: Dukungan yang Tersirat dalam Bayang-Bayang

April 26, 2026

KERUNTUHAN DEMOKRASI?

April 26, 2026
𝐒𝐀𝐀𝐓𝐍𝐘𝐀 𝐌𝐄𝐍𝐆𝐀𝐓𝐀𝐊𝐀𝐍: 𝟏𝟒𝟑 (𝐈 𝐍𝐄𝐄𝐃 𝐘𝐎𝐔) 𝐏𝐎𝐋𝐈𝐒𝐈

𝐒𝐀𝐀𝐓𝐍𝐘𝐀 𝐌𝐄𝐍𝐆𝐀𝐓𝐀𝐊𝐀𝐍: 𝟏𝟒𝟑 (𝐈 𝐍𝐄𝐄𝐃 𝐘𝐎𝐔) 𝐏𝐎𝐋𝐈𝐒𝐈

April 26, 2026
Apa Urgensi Melibatkan Militer dalam Rekrutmen Manajer Koperasi MP?

Apa Urgensi Melibatkan Militer dalam Rekrutmen Manajer Koperasi MP?

April 25, 2026
Mengapa Kita Hidup? Antara Ruh dan Mekanisme Tubuh

Mengapa Kita Hidup? Antara Ruh dan Mekanisme Tubuh

April 25, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Aksi Massa di Kaltim: Kemewahan Pejabat dan Politik Anggaran Jadi Pemantik Kemarahan Publik

Aksi Massa di Kaltim: Kemewahan Pejabat dan Politik Anggaran Jadi Pemantik Kemarahan Publik

April 26, 2026
China, Iran, dan Diplomasi dari Orbit: Dukungan yang Tersirat dalam Bayang-Bayang

China, Iran, dan Diplomasi dari Orbit: Dukungan yang Tersirat dalam Bayang-Bayang

April 26, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist