Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI).

Jakarta, Fusilatnews.- – Cerita pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, analog dengan legenda Bandung Bondowoso saat membangun Candi Prambanan atau Candi Roro Jonggrang pada abad ke-9 Masehi di Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, dan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, kini.
Jika Bandung Bondowoso murka karena merasa dikhianati Roro Jonggrang lalu mengutuk putri cantik calon istrinya itu menjadi arca yang ke seribu, setelah tercipta 999 arca berkat bantuan jin, lalu Bambang “Bondowoso” Susantono murka kepada siapa sehingga mengundurkan diri?
Diberitakan, Bambang Susantono mundur dari jabatannya sebagai Kepala Otorita IKN Nusantara, menyusul pengunduran diri wakilnya, Dhony Rahajoe. Entah apa alasan keduanya mundur atau “tinggal glanggang colong playu” (meninggalkan gelanggang dan berlari diam-diam).
Menteri Sekretaris Negara Pratikno saat mengumumkan pengunduran diri Bambang dan Dhony tak menjelaskan alasan keduanya mundur. Misterius.
Sementara secara implisit Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan Bambang-Dhony tidak berani melakukan eksekusi keputusan. Padahal, semua perangkat dan peraturan perundang-undangan pendukung sudah tersedia. Terutama urusan pembebasan tanah yang menjadi problem terbesar kedua dalam pembangunan IKN setelah investasi.
Benarkah klaim “Menteri Segala Urusan” tersebut? Tetap masih misterius.
Spekulasi lain pun berkembang. Misalnya, Bambang-Dhony tak sanggup memenuhi target progres pembangunan yang kelewat tinggi dari Presiden Joko Widodo. Apalagi, tanggal 17 Agustus 2024 sudah di depan hidung, hanya sekitar dua bulan lagi. Pada peringatan ke-89 Hari Kemerdekaan RI itulah Presiden Jokowi akan menggelar upacara di IKN Nusantara.
Apakah sudah mepetnya 17 Agustus itu ia analogikan dengan fajar yang sudah menyingsing gegara Roro Jonggrang menabuh lesung dan membakar jerami sehingga ayam jantan berkokok dan Bandung Bondowoso pun gagal memenuhi target membangun seribu candi/arca sebelum fajar tiba, sebagai persyaratan menikahi Roro Jonggrang?
Mungkin. Seperti Bandung Bondowoso, Bambang-Dhony pun mungkin merasa sudah gagal memenuhi target pembangunan IKN. Atau paling tidak keduanya sudah tidak sanggup lagi untuk menyelesaikan pembangunan tahap pertama IKN sebelum 17 Agustus 2024 yang saat ini progresnya baru mencapai sekitar 80 persen.
Keduanya pun “murka” seperti Bandung Bondowoso. Dan “kemurkaan” itu mereka lampiaskan dengan “tinggal glanggang colong playu”.
Mengapa Bambang bisa sekonyol itu, padahal punya cukup kapasitas dan integritas? Apakah dia dan Dhony memang mau melakukan sabotase?
Jika dilihat “track records” atau rekam jejaknya, terlalu naif jika alasan pengunduran diri Bambang karena sabotase atau tidak sanggup memenuhi target. Bambang adalah sosok yang punya karier cukup panjang dan cemerlang baik di birokrasi pemeritahan maupun profesional dengan kapasitas dan integritas yang cukup mumpuni.
Lantas karena apa Bambang, dan juga Dhony mundur? Inilah yang patut dijelaskan secara jujur oleh pihak yang berkompeten. Jika tidak, maka spekulasi liar akan terus berkembang. Misteri pun tak akan kunjung terpecahkan.
Kini, Jokowi sudah menunjuk Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Otorita IKN Nusantara, dan Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Wakil Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Raja Juli Antoni sebagai wakilnya.
Apakah Basuki dan Raja Juli akan bisa menjadi Bandung Bondowoso yang sanggup menyelesaikan pembangunan tahap pertama IKN Nusantara hanya dalam waktu dua bulan, seperti Bandung Bondowoso yang berhasil membangun 999 arca/candi Hindu terbesar di Indonesia hanya dalam waktu satu malam?
Ataukah Basuki dan Raja Juli akan mundur juga seperti Bambang Susantono dan Dhony Rahajoe?
Kita tunggu saja tanggal mainnya sampai 17 Agustus 2024 nanti.























