Pagi itu, di sebuah ruang rapat berlantai tinggi di jantung Tokyo, seorang CEO menatap saya sambil memegang buku Why Japan Matters: A Foreign Perspective. Ia membolak-balik halamannya, seolah mencari celah di antara kata-kata. Lalu, ia menatap lurus dan bertanya, “Bagaimana bisa Anda menulis buku ini dalam bahasa Inggris, padahal bahasa ibu Anda bahasa Indonesia?”
Saya hanya tersenyum. Pertanyaan itu terasa familiar. Beberapa bulan sebelumnya, seorang scholar dari Amerika menyampaikan komentar yang hampir sama. “Your English is very good,” katanya. Ucapan itu bukan sekadar pujian; saya bisa merasakan ketulusannya, dan entah mengapa, saya tahu ia ingin tahu rahasianya.
Saya menjawab mereka dengan jujur:
“Saya suka menulis. Dan watak seorang penulis adalah selalu menyisir setiap huruf, setiap kalimat, sampai tak ada yang goyah.”
Sejak awal, saya percaya menulis adalah seni merangkai kata, tapi juga pekerjaan tukang. Kita harus rajin, telaten, dan siap mengulang. Bagi saya, bahasa hanyalah alat; yang terpenting adalah jiwa yang kita tuangkan di dalamnya.
Saya tidak lahir dengan bahasa Inggris di lidah saya. Saya tumbuh dengan bahasa Indonesia, bahasa yang kaya rasa dan irama. Tapi ketika saya menulis dalam bahasa Inggris, saya membawa seluruh disiplin itu bersama saya—memastikan setiap kata punya tempat, setiap kalimat punya makna, dan setiap paragraf punya nyawa.
Kepada siapa pun yang ingin memulai menulis, inilah pelajaran yang bisa diambil:
Menulis bukan tentang seberapa banyak kosakata yang Anda hafal, atau seberapa indah bahasa yang Anda gunakan. Menulis adalah tentang keberanian menuangkan pikiran, lalu kesabaran untuk memperbaikinya. Tulis, baca ulang, perbaiki, ulangi lagi. Lakukan terus sampai kata-kata Anda berjalan tanpa tersandung.
Berikut beberapa tips sederhana yang saya gunakan saat memulai menulis:
- Mulailah dari apa yang Anda tahu dan rasakan. Tulislah dengan jujur, biarkan suara Anda sendiri yang terdengar.
- Jangan takut salah. Kesalahan adalah guru terbaik dalam menulis. Perbaiki, tapi jangan berhenti.
- Baca karya orang lain. Pelajari gaya, kosakata, dan cara mereka menyampaikan ide. Ini akan memperkaya tulisan Anda.
- Latihan rutin. Menulis sedikit setiap hari jauh lebih efektif daripada menulis banyak sekaligus tapi jarang.
- Minta feedback. Terkadang kita butuh mata lain untuk melihat kekurangan dan kelebihan tulisan kita.
Buku saya mungkin lahir dari bahasa yang bukan bahasa ibu saya. Tapi cinta saya pada menulis membuat bahasa apa pun menjadi “rumah” bagi kata-kata saya. Dan ketika sebuah tulisan lahir dari rumah yang kokoh, ia bisa melintasi batas mana pun—bahasa, negara, bahkan hati pembacanya.
Karena pada akhirnya, tulisan yang baik adalah tulisan yang hidup.
Yokohama 9/08/25























