• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Narasi Ekonomi Optimistis Menghadapi Resesi Global

fusilat by fusilat
December 12, 2022
in Feature
0
Narasi Ekonomi Optimistis Menghadapi Resesi Global

Gedung-gedung bertingkat sebagai pusat perekonomian di Jakarta, Kamis (29/9/2022). Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memberikan sinyal resesi ekonomi global pada 2023. Ekonomi dunia akan masuk jurang resesi seiring dengan tren kenaikan suku bunga acuan yang dilakukan sebagian besar bank sentral di dunia secara bersamaan.(KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ronny P Sasmita Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution

“Satu-satunya yang perlu kita takutkan adalah ketakutan itu sendiri,” ucap Franklin D Rosevelt dalam pidato inagurasinya bulan Maret 1933.
PERNYATAAN tersebut bukan sekadar slogan pencitraan atau “motto gegayaan” agar presiden baru dianggap keren. Namun lebih dari itu. Pernyataan tersebut adalah representasi dari spirit New Deal untuk memutar haluan psikologi masyarakat Amerika dari pesimistis menjadi optimistis. Dalam praktiknya, pernyataan tersebut adalah batu loncatan untuk membangun optimistis atas rencana kebijakan “adequate but sound money” dari FDR, yakni membangun kepercayaan diri masyarakat Amerika yang sejak Great Depression 1929 mulai menarik simpanan mereka, terutama dalam bentuk “emas” dari bank. Tak pelak, ribuan bank berada di ambang kebangkrutan karena krisis likuditas.

Ketika itu, dollar AS masih terikat pada emas sebagai underlying-nya (gold standar). Dan menjelang peralihan kekuasaan dari Herbert Hoover ke Franklin D Roosevelt, krisis perbankan sudah sangat akut. Terjadi titik balik di mana dollar AS dan emas meninggalkan sistem perbankan secara masif, tapi ekonomi riil tetap tidak bergerak karena likuiditas tersebut tidak membuahkan transaksi ekonomi. Uang dan emas yang keluar dari bank lebih banyak untuk tujuan “mencari” aman (hedging/lindung nilai) di mana emas dianggap sebagai save heaven (store of value). Yang terjadi kemudian adalah deflasi. Harga komoditas anjlok, pendapatan para petani turun tajam, lalu gagal bayar dan lahan mereka disita oleh bank, karena “velocity” uang yang beredar (dollar AS dan emas) sangat rendah di satu sisi dan permintaan atas komoditas pertanian juga sangat rendah di sisi lain.

Pasalnya, perang dunia pertama telah usai. Ekonomi Eropa sudah mulai bergerak lagi, ditambah tekanan luar biasa setelah Great Depression. Risikonya, ledakan produksi sektor pertanian Amerika selama perang dunia pertama mulai bertepuk sebelah tangan. Permintaan luar negeri atas komoditas pertanian Amerika menurun drastis. Walhasil, pembayaran internasional berupa emas kepada Amerika berkurang yang mengakibatkan cadangan emas di The Fed ikut berkurang. Kondisi ini bertemu dengan situasi domestik di mana masyarakat Amerika melakukan penarikan besar-besaran simpanan emas dari bank. Mengaitkan (pegged) mata uang kepada komoditas emas (gold standard) memang sudah dipertanyakan banyak pihak kala itu. John Maynard Keynes berdebat keras dengan Winston Churchil (Cancellor of Exchequer/Menkeu kala itu) pada 1925-an, soal apakah poundsterling sebaiknya meninggalkan standar emas atau tidak. Keynes menyarankan untuk lepas dari emas.

Namun, Churchil memilih untuk mempertahannya. Walhasil, Inggris mengalami resesi karena suplai poundsterling terbatas, mengingat cadangan emas juga terbatas. Uang beredar tak seimbang dengan perkembangan ekonomi yang ada. Kesalahan tersebut baru dikoreksi pada 1931, di mana Inggris akhirnya secara resmi keluar dari standar emas, setelah salah satu bank terbesar di Austria kolaps. Kebijakan Inggris kemudian diikuti oleh negara Eropa lainya seperti Italia dan Jerman, kecuali Perancis. Namun di Amerika, Presiden Herbert Hoover hanya bersedia mengakomodasi sebagian saran Keynes, yakni dari sisi fiskal. Walaupun proporsinya tak banyak, Hoover bersedia mengalokasikan anggaran untuk program pekejaan publik. Namun secara moneter, Hoover bersikeras untuk tidak mengikuti Inggris. Hoover sangat yakin bahwa standar emas adalah pilihan moneter terbaik untuk keluar dari Great Depression. Keteguhan Hoover membuat nasabah perbankan Amerika “nervous” memegang dollar AS alias lebih percaya diri memegang emas untuk lindung nilai dari ketidakpastian ekonomi.

Ribuan bank tutup dan dinyatakan “insolvent” karena kehabisan likuiditas dan cadangan emas. Sementara di saat itu, akhir Februari jelang Maret 1933, Hoover sudah berstatus “lame duck.” Artinya FDR belum resmi jadi presiden alias masih sebagai “president-elect”. Secara prinsipil Hoover kurang tertarik dengan kebijakan “bank holiday” untuk mengantisipasi krisis perbankan lebih lanjut karena akan memperlihatkan kepada publik dan dunia bahwa perbankan Amerika benar-benar sedang sakit. Namun, ia bersedia mengambil langkah pahit tersebut selama dilakukan bersama dengan FDR sebagai “the president-elect.” FDR menolak karena merasa belum mempunyai wewenang untuk ikut mengumumkan kebijakan sepenting itu. FDR mendukung Hoover mengumumkannya sendiri. Menanggapi itu, Hoover menolak mengeluarkan kebijakan “bank holiday” sendiri di saat bank-bank mulai berjatuhan satu-persatu. Nah, dalam kontek itulah pernyataan Franklin Rosevelt di atas dilepaskan ke publik. FDR ingin memperkenalkan kebijakan moneter baru dengan dukungan “adequate but sound currency.” FDR mengunakan istilah diplomatis tersebut sebagai representasi atas rencana besarnya untuk melepaskan dollar AS dari standar emas dan mendorong kenaikan harga-harga komoditas pertanian agar tidak terjadi revolusi komunis di Amerika (inflasionist).

Setelah inagurasi pada 4 Maret 1933 (FDR presiden terakhir yang diinagurasi pada tanggal itu, karena selanjutnya berubah ke tanggal 20 Januari), kebijakan pertama yang diambil FDR adalah memberlakukan kebijakan “bank holiday.” Dari tanggal 5 Maret sampai 13 Maret, bank-bank tutup. Masyarakat kelabakan karena kehabisan dollar AS untuk transaksi sehari-hari. Sebagian menukar emas dengan kebutuhan sehari-hari, sebagian menggadaikannya ke pegadaian agar mendapatkan uang kas. Kebijakan bank holiday menyadarkan publik bahwa memegang emas ternyata tidak seindah yang mereka bayangkan. Saat satu per satu bank yang dianggap sehat (bank klasifikasi A) mulai dibuka tanggal 14 Maret, masyarakat pemegang emas mulai antre untuk menukar emasnya dengan dollar AS. Memang sejak Great Depression, perbankan Amerika bertumbangan. Dari total 24.000 bank sebelum krisis, sisanya hanya 14.000. Artinya, 10.000 bank dilikuidasi. Namun kepercayaan publik kepada bank dan dollar AS kembali pulih, yang membuka pintu untuk rencana “adequate but sound money” versi New Deal ke tahap selanjutnya. Bank-bank yang sehat akhirnya “back to business” satu per satu, emas kembali ke brankas bank dan sebagian besar dollar AS kembali ke peredaran ekonomi riil. Setelah standar emas benar-benar dilepaskan, negara-negara mitra dagang Amerika lebih memilih memegang dollar AS, setelah London Conference yang alot. Bagaimana mendapatkannya? Yakni dengan menukarkan emas yang mereka miliki dengan dollar AS. Tak pelak, The Fed ketiban emas dari berbagai penjuru. Di dalam negeri, dollar AS kembali beredar luas, bahkan beredar lebih banyak. Harga-harga komoditas mulai naik perlahan karena transaksi mulai terjadi di satu sisi dan nilai dollar AS terdevaluasi di sisi lain karena supply-nya mulai berlimpah, sampai dollar AS kembali dikaitkan ke harga emas setara dengan 35 dollar AS per pounce, alias dollar AS terdevaluasi lebih dari 50 persen (sebelumnya 20 dollar AS per pounce).

Harga tersebut kemudian menjadi acuan pada perjanjian Bretton Wood pascaperang dunia kedua. Slogan singkat FDR terbayar sudah. Kepercayaan diri masyarakat atas bank dan dollar AS pulih. Langkah awal New Deal berjalan mulus. Dan dari sisi ekonomi, Keynesian Revolution sedang dimulai. Ya, itulah kekuatan narasi yang dibangun atas visi yang juga kuat. Sementara di sini, kita sempat menyaksikan Menteri Keuangan Sri Mulyani terkesan memilih menakut-nakuti publik. Jadi tak salah jika pernyataan Pak Jusuf Kalla bahwa “pemerintah cq Sri Mulyani jangan menakuti-nakuti publik” sangat bisa dipahami, jika dikaitkan dengan cerita di atas. Apalagi situasinya berbeda secara fundamental. Semakin sering Sri Mulyani mengatakan bahwa ekonomi Amerika memburuk, tanpa meyakinkan publik bahwa pemerintah memiliki rencana yang baik dan strategis, maka semakin banyak investor yang akan memindahkan asetnya ke safe heaven di luar negeri (capital outflow). Memang aneh, tapi itulah kenyataanya. Karena dollar AS adalah hard currency, sementara rupiah tidak. Jadi semakin dibangun persepsi negatif, semakin tinggi persepsi ketidakpastian, justru rupiah semakin ditinggalkan. Jadi wajar depresiasi rupiah cukup parah.

Dalam hemat saya, yang dibutuhkan saat ini adalah narasi tentang apa rencana Pemerintah untuk menghadapi situasi resesi global. Bukan hanya warning tak berujung. Jika memang ada, maka sampaikan dengan narasi yang optimistis dan motivatif. Mari kita hadapi bersama-sama, karena kita bisa melewati ini, misalnya. Namun harus diikuti action, bukan warning diikuti oleh warning, lalu oleh warning lagi. Yang kedua, strateginya harus jelas dan masuk akal. Ketika Liz Truss menyampaikan pidato pertamanya sebagai PM Inggris, ia menjanjikan “Bold” Strategy dan Exit Plan. Namun nyatanya isinya adalah “Tax Cut” dan ekspektasi atas “Trickel Down Effect” yang sudah lama pudar validitas resepnya. Walhasil, krisis semakin menjadi-jadi di Inggris dan ia kemudian gagal meyakinkan perlemen. Truss menjadi PM dengan masa jabatan terpendek sepanjang sejarah Inggris. Jadi saat strategi diambil, starteginya harus jelas dan rasional di satu sisi dan acceptable secara politik di sisi lain, dengan narasi yang menyemangati publik tentunya. Semoga.

Ronny P Sasmita Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Penikmat kopi yang nyambi jadi Pengamat Ekonomi

Dikutip Kompas.com, Minggu 11 Desember 2022

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Tips Menghindari Penipuan dan Kejahatan Online

Next Post

Hak Anies Dalam Ancaman

fusilat

fusilat

Related Posts

Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi
Feature

Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi

April 20, 2026
MBG: Gagasan Lama, Eksekusi Tergesa, dan Arah yang Kabur
Birokrasi

MBG: Gagasan Lama, Eksekusi Tergesa, dan Arah yang Kabur

April 20, 2026
Economy

Mengelola Risiko DSR 40%: Ketika Negara Seperti Keluarga yang Terlilit Cicilan di Tengah Dunia yang Bergejolak

April 20, 2026
Next Post
Merebak Isu Penjegalan Anies Maju Capres 2024, Ini Kata PKS

Hak Anies Dalam Ancaman

Bagaimana Dunia Arab Rayakan Kemenangan Maroko

Apakah diantara 4 Tim Yang tersisa Kesebelasan Maroko Akan Menang?

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi
Feature

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

by Karyudi Sutajah Putra
April 19, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Jusuf Kalla (JK) sudah membuka front pertempuran....

Read more
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

April 17, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi

Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi

April 20, 2026
Skandal Laptop Siluman BGN: Menguak Korupsi Ratusan Miliar Berkedok Transformasi Digital, Peruri Terlibat

Skandal Laptop Siluman BGN: Menguak Korupsi Ratusan Miliar Berkedok Transformasi Digital, Peruri Terlibat

April 20, 2026
MBG: Gagasan Lama, Eksekusi Tergesa, dan Arah yang Kabur

MBG: Gagasan Lama, Eksekusi Tergesa, dan Arah yang Kabur

April 20, 2026

Mengelola Risiko DSR 40%: Ketika Negara Seperti Keluarga yang Terlilit Cicilan di Tengah Dunia yang Bergejolak

April 20, 2026

Inspirasi Kecil di Senja itu dan Coretan Indah Ali Syarief

April 19, 2026
Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

April 19, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi

Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi

April 20, 2026
Skandal Laptop Siluman BGN: Menguak Korupsi Ratusan Miliar Berkedok Transformasi Digital, Peruri Terlibat

Skandal Laptop Siluman BGN: Menguak Korupsi Ratusan Miliar Berkedok Transformasi Digital, Peruri Terlibat

April 20, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist