Oleh: Nazaruddin
Arsitektur perdamaian Timur Tengah yang selama puluhan tahun ditopang oleh hegemoni Amerika Serikat kini berada di titik nadir. Gagasan Board of Peace (BoP)—sebuah inisiatif transaksional era Donald Trump yang menjanjikan stabilitas melalui normalisasi hubungan diplomatik dan ekonomi—kini tampak rapuh, ibarat bangunan pasir yang tersapu gelombang sejarah.
Perang terbuka antara Iran dan poros Amerika–Israel memaksa dunia menghadapi realitas baru yang jauh melampaui sekadar reposisi diplomasi. Ini adalah momen disrupsi geopolitik—ketika fondasi lama runtuh, sementara tatanan baru belum sepenuhnya terbentuk.
Skenario Kemenangan Iran dan Ambruknya “Petrodollar”
Jika skenario ini terwujud, dunia akan menyaksikan keruntuhan drastis pengaruh Amerika Serikat di Timur Tengah. Mengacu pada tesis Prof. Jiang Xueqin, kemenangan Iran tidak hanya bersifat militer, melainkan sistemik—mengguncang struktur ekonomi dan politik global.
Disrupsi Ekonomi Amerika Serikat
Iran berpotensi melumpuhkan stabilitas negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi, yang selama ini menjadi pilar sistem petrodollar. Gangguan pada produksi dan distribusi minyak akan memutus aliran kapital Arab ke pasar finansial Amerika. Efek berantainya adalah tekanan hebat terhadap likuiditas dan stabilitas ekonomi domestik AS—sebuah krisis yang tidak lagi bersifat siklikal, tetapi struktural.Kerentanan Eksistensial Israel
Tanpa payung keamanan dan dukungan logistik Amerika yang melemah, Israel menghadapi tekanan eksistensial. Dalam lanskap regional yang berubah, negara tersebut berpotensi terisolasi secara strategis, dikelilingi oleh kekuatan yang tidak lagi terikat pada konfigurasi lama.Kebangkitan Pax Islamica
Iran dapat memanfaatkan akumulasi kemarahan publik di negara-negara Sunni terhadap rezim yang dianggap pro-Washington. Dalam skenario ini, Iran tampil bukan hanya sebagai kekuatan militer, tetapi sebagai katalisator politik—mendorong lahirnya tatanan baru yang melampaui sekat sektarian.
Pax Islamica menjadi konsep sentral: sebuah integrasi politik, ekonomi, dan ideologi dunia Islam di bawah pengaruh Iran. Ini bukan sekadar aliansi, melainkan upaya rekonstruksi peradaban dalam skala kawasan.Nasib BoP
Dalam konfigurasi ini, BoP kehilangan relevansi total. Amerika Serikat tidak lagi memiliki daya tawar. Proses perdamaian Palestina bergeser dari kerangka bilateral-transaksional menuju mekanisme multilateral, dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan kekuatan regional—terutama Iran—sebagai aktor kunci.
Skenario Perang Tanpa Pemenang dan Kemandirian Arab
Jika konflik berujung pada kehancuran bersama (mutual destruction), maka tidak ada pihak yang benar-benar menang. Namun, Amerika Serikat tetap akan kehilangan sebagian besar pengaruh strategisnya di kawasan.
Evaluasi Total Negara-Negara Arab
Arab Saudi dan negara-negara Teluk akan melakukan refleksi strategis. Ketergantungan pada perlindungan Amerika terbukti sebagai investasi geopolitik yang gagal. Dalam situasi ini, Iran tidak lagi diposisikan sebagai ancaman utama, melainkan sebagai mitra potensial untuk menjaga stabilitas regional.Kemandirian Diplomasi
Negara-negara Arab dan Muslim akan bergerak menuju kebijakan luar negeri yang lebih otonom dan seimbang. Era “kepatuhan strategis” terhadap Washington berakhir, digantikan oleh pendekatan multipolar yang lebih pragmatis.Nasib BoP
BoP kehilangan daya paksa. Tanpa legitimasi kekuatan Amerika sebagai “penjamin keamanan global”, inisiatif tersebut berubah menjadi dokumen tanpa gigi. Penyelesaian konflik Palestina kembali ke forum internasional, dengan PBB sebagai arena utama negosiasi.
Menanti Epilog Sejarah Timur Tengah
Runtuhnya dominasi Amerika Serikat menandai berakhirnya era di mana perdamaian dapat “dibeli” melalui transaksi politik dan ekonomi di meja diplomasi. Timur Tengah kini berada di persimpangan sejarah—antara rekonstruksi atau fragmentasi.
Pertanyaan mendasarnya: tatanan apa yang akan menggantikan sistem lama?
Apakah kawasan ini akan melebur dalam format Pax Islamica—sebuah tatanan teosentris di bawah pengaruh Iran? Ataukah justru lahir format baru yang lebih kolektif, di mana negara-negara Arab membangun kedaulatan bersama tanpa dikte kekuatan asing, namun tetap harus bernegosiasi dengan realitas kekuatan Iran?
Satu hal yang pasti: mandat perdamaian, khususnya bagi Palestina, tidak lagi akan datang dari Washington. Ia akan bergeser ke meja Perserikatan Bangsa-Bangsa—sebuah panggung global yang kini semakin dipengaruhi oleh pergeseran gravitasi kekuatan dari Barat ke Timur.

Oleh: Nazaruddin























