Saya teringat perjalanan-perjalanan saya ke Tanjung Puting, sebuah tempat di mana alam berbicara melalui gemerisik dedaunan, suara bekantan, dan tatapan buaya yang menghuni tepian sungai. Dulu, hutan di sana begitu lebat, bagai benteng hijau yang tak tergoyahkan. Kini, yang tersisa hanyalah kesunyian dan kehampaan. Pohon-pohon yang dulunya menjulang tinggi kini hanya menjadi saksi bisu kehancuran. Sepanjang kali, tersisa pohon-pohon kurus, berdiri seperti penonton yang menyaksikan akhir pertunjukan kehidupan.
Hutan Tanjung Puting dahulu adalah panggung megah tempat bekantan memainkan atraksi alami mereka. Di sungai yang jernih, buaya berjemur, tak terganggu. Saat malam tiba, jika Anda menyorotkan lampu dari speed boat, matanya yang merah akan memantul, seakan mereka berkata, “Ini rumah kami.” Kini, sungai itu berubah keruh, dan buaya pun jarang terlihat. Kemana mereka pergi? Mungkin, seperti hutan itu sendiri, mereka perlahan hilang, terhapus oleh kerakusan manusia.
Dalam sebuah percakapan yang membekas di hati saya, Prof. Biruté Galdikas memberi tahu saya sesuatu yang sederhana tapi menyayat: “Pak Ali, lihat pohon ulin ini. Tingginya belum sampai setengah meter, tapi tahukah Bapak, berapa umurnya?” Saya hanya diam. Lalu dia menjawab sendiri, “Enam tahun.” Enam tahun untuk sebatang pohon kecil, dan butuh ratusan tahun untuk menjadi raksasa hutan. Tapi berapa detik yang kita perlukan untuk menebangnya?
Di gubuk kecil yang kami datangi, ada tiga kelelawar kecil bergantung. “Pak Ali, tahu kenapa mereka di sini?” tanya Prof. Biruté. Saya hanya menggeleng. “Karena pohon rumah mereka sudah tidak ada.” Kelelawar ini, yang dianggap sepele, sebenarnya adalah penjaga hutan. Mereka menyemai biji-biji untuk menumbuhkan pohon-pohon baru. Ketika pohon-pohon itu hilang, tugas alami mereka pun terhenti.
Dan ketika hutan benar-benar sirna, apa yang akan terjadi pada kita, manusia?
Hutan adalah paru-paru dunia, tetapi juga hati dan jiwa kehidupan. Saat kita merusaknya, kita bukan hanya kehilangan pohon-pohon dan hewan-hewan. Kita kehilangan udara bersih untuk bernapas, air jernih untuk diminum, dan tanah subur untuk bercocok tanam. Banjir akan menjadi tamu yang tak pernah diundang, membawa lumpur dan kesedihan. Kekeringan akan melanda, dan dunia akan menjadi lebih panas, seolah-olah bumi sedang demam tinggi.
Tanpa hutan, kehidupan manusia akan menjadi rapuh. Kita mungkin bertahan dengan teknologi, tetapi jiwa kita akan kosong. Anak cucu kita akan hidup di dunia tanpa suara burung, tanpa teduhnya pohon, dan tanpa dongeng tentang buaya yang matanya merah di sungai.
Hutan bukan hanya seonggok pohon. Ia adalah kehidupan itu sendiri, menjalin manusia, hewan, dan tumbuhan dalam sebuah simfoni yang tak tergantikan. Jika kita terus membiarkan hutan kita lenyap, maka sesungguhnya kita sedang menggali liang kubur bagi peradaban kita sendiri.
Hutan adalah cerminan siapa kita. Jika kita merusaknya, maka sesungguhnya kita sedang menghancurkan diri kita sendiri. Apakah kita ingin dikenal sebagai generasi yang mewariskan kehampaan? Ataukah generasi yang menyelamatkan harapan? Jawabannya ada pada kita semua.




















