Tak perlu lagi berpura-pura kaget. Tak perlu pula berharap pada drama perpisahan yang tak pernah direncanakan. Prabowo dan Jokowi itu setubuh—dalam arti politik paling telanjang: satu tubuh kekuasaan, satu aliran kepentingan, satu denyut yang saling menghidupi. Upaya memisahkan keduanya sama naifnya dengan berharap matahari terbit dari barat.
Narasi konflik, perbedaan gaya, atau jarak emosional yang kerap diproduksi hanyalah kosmetik politik. Di permukaan boleh berbeda mimik, namun di kedalaman mereka menyatu. Jokowi membangun sistem, Prabowo mewarisinya. Jokowi menanam, Prabowo memanen. Tidak ada diskontinuitas, yang ada hanyalah regenerasi kekuasaan.
Karena itu, jangan bermimpi bisa mengadilinya.
Mengadili siapa? Jokowi? Prabowo? Keduanya telah terikat dalam satu ekosistem yang saling melindungi. Kekuasaan tidak bekerja secara tunggal; ia bekerja sebagai jaringan. Dan jaringan itu kini sudah terlalu rapat untuk ditembus oleh harapan normatif bernama “penegakan hukum”. Ketika sistem dibangun untuk saling mengamankan, maka keadilan akan selalu datang terlambat—atau tidak pernah datang sama sekali.
Lebih keliru lagi jika ada yang berpikir: “Jokowi sudah ditinggal penguasa.”
Tidak. Ia tidak ditinggal. Ia berubah bentuk.
Penguasa tidak selalu harus duduk di kursi formal. Dalam politik modern, pengaruh justru paling kuat ketika ia bekerja dari balik layar—melalui loyalis, kebijakan berkelanjutan, dan figur penerus yang telah disiapkan. Dalam skema ini, Prabowo bukan antitesis Jokowi, melainkan kelanjutan biologisnya. Itulah makna “setubuh” yang sesungguhnya: bukan romantika, melainkan simbiosis kekuasaan.
Maka harapan bahwa Prabowo akan menjadi algojo bagi dosa-dosa Jokowi adalah ilusi yang sengaja dipelihara agar publik tetap jinak. Mustahil seseorang mengadili rahim yang melahirkannya secara politik. Yang mungkin terjadi hanyalah pengaburan, penundaan, atau pengalihan isu—bukan pertanggungjawaban.
Esai ini bukan soal suka atau tidak suka. Ini soal membaca realitas apa adanya. Politik tidak bergerak oleh moral, tetapi oleh kepentingan dan kesinambungan kekuasaan. Selama dua hal itu masih bertemu, jangan berharap ada perpisahan. Jangan berharap ada pengadilan. Dan jangan percaya dongeng bahwa sang penguasa telah kehilangan cengkeramannya.
Karena faktanya sederhana:
mereka masih satu tubuh—dan tubuh itu masih berkuasa.
























