Fusilatnews – Orang bodoh itu aneh. Kalau dia lapar, bisa saja yang dia cari bukan nasi, tapi bendera. Kalau dia haus, bukan air yang dia minum, tapi janji. Kalau dia kehilangan sepatu, jangan-jangan dia malah membeli tongkat. Pokoknya tak bisa ditebak seperti jalan semut yang mendadak berbelok ke ujung meja padahal makanan ada di bawah.
Orang cerdik tentu sulit ditebak. Tapi orang bodoh? Lebih sulit lagi. Kalau orang cerdik itu main catur, orang bodoh main dadu. Nasib dan langkahnya bukan ditentukan oleh strategi, tapi oleh keberanian sembrono yang tak berakar dari logika apa pun. Ia bisa mendukung calon yang menindasnya, bisa bersorak untuk pemimpin yang mengambil makannya, bisa juga memuji bangunan tinggi padahal atap rumahnya sendiri bocor.
Itulah mengapa dalam politik, orang bodoh adalah kekuatan paling menggetarkan. Bukan karena mereka tahu apa yang mereka lakukan, tapi karena mereka tidak tahu dan tak bisa diperkirakan apa yang akan mereka lakukan. Hari ini ia memuja, besok mencaci. Hari ini ia turun ke jalan, besok tidur di emperan. Hatinya mudah dibakar, kepalanya mudah dibohongi.
Tapi jangan salah. Justru karena kebodohannya itulah, ia sering menjadi alat. Ia bisa dijadikan pagar, dijadikan sorak-sorai, dijadikan jumlah, dijadikan bukti suara rakyat. Ia percaya pada spanduk, pada toa, pada kaus oblong bertuliskan jargon. Lalu ia merasa telah menentukan nasib bangsa dengan memilih berdasarkan gambar yang warnanya paling mencolok.
Namun, dalam kebodohannya, kadang ada sesuatu yang suci. Ibarat bayi yang tertawa melihat pelangi tanpa tahu itu hanya bias cahaya, orang bodoh tertawa melihat kampanye dan mengira semua janji akan ditepati. Mereka tidak sinis, tidak skeptis, tidak membangun teori konspirasi. Mereka hanya percaya.
Anehnya, orang-orang pintar malah sering keliru. Mereka hitung angka, buat peta kekuasaan, analisis survei, lalu kalah. Sebab satu hal yang mereka lupakan: orang bodoh itu tidak bisa diprediksi. Mereka bisa menang karena angka, tapi bisa kalah karena nasi bungkus di gang sempit yang lebih berarti daripada visi-misi di gedung mewah.
Dalam dunia yang terlalu banyak menyembah kecerdasan, kadang kita lupa bahwa kebodohan massal jauh lebih efektif daripada kecerdasan tunggal. Satu profesor mungkin bisa mengubah buku pelajaran. Tapi seribu orang bodoh bisa mengubah arah negara.
Lantas, kita harus bagaimana? Jangan mengejek. Jangan juga merasa lebih tinggi. Karena siapa tahu, pada suatu pagi yang cerah, kita juga sedang menjadi bagian dari mereka—yang memutuskan tanpa alasan, memilih tanpa pertimbangan, dan bersorak tanpa mengerti untuk siapa.
Sebab kebodohan itu bukan tentang tak punya ilmu, tapi tentang berhenti berpikir. Dan jika itu sudah menjadi kebiasaan, maka bukan lagi soal pendidikan, tapi soal watak.
Dan watak itu—saudara-saudaraku—lebih sulit diubah daripada nasib bangsa.
























