Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Adakah korelasi antara ijazah dan “chaos” (kekacauan), sehingga jika selembar ijazah ditunjukkan kepada publik maka akan menimbulkan kekacauan?
Bertanyalah kepada Yakup Hasibuan, kuasa hukum Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
Sedemikian kuatkah pengaruh Jokowi, sehingga ketika ijazahnya ditunjukkan ke publik maka akan menimbulkan kekacauan, karena orang-orang lainnya mau ikut-ikutan meminta seseorang untuk menunjukkan ijazahnya kepada publik?
Bertanya pulalah kepada Yakup Hasibuan, pengacara junior yang langsung dapat order dari Jokowi diduga gegara merupakan anak dari Otto Hasibuan, Wakil Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, yang juga Ketua Umum Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi).
Ya, entah apa yang berkecamuk dalam benak Yakup Hasibuan, sehingga ia mengatakan jika ijazah Jokowi yang ia klaim asli itu ditunjukkan kepada publik maka akan menimbulkan kekacauan.
Sebab, katanya, setiap orang bisa meminta ijazah seseorang, apakah itu anggota DPR atau pun yang lainnya, ditunjukkan ke publik, dan itu bisa menimbulkan kekacauan.
Ia alpa. Jokowi adalah bekas Presiden. Sebagai bekas Presiden, Jokowi adalah seorang public figure. Kalau bukan public figure, mana ada orang yang akan peduli terhadap Jokowi?
Jadi, jangan ada asumsi ketika Jokowi menunjukkan ijazah S1-nya dari Universitas Gadjah Mada (UGM), yang dituduh Roy Suryo dan kawan-kawan palsu, lalu secara otomatis akan timbul gelombang gerakan masyarakat yang meminta ijazah-ijazah milik public figure lainnya ditunjukkan ke publik. Tidak akan.
Roy Suryo, yang mewakili kepentingan publik, minta ijazah Jokowi ditunjukkan karena ayah dari Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka itu bukanlah sosok yang tepercaya. Suami dari Iriana itu kerap melakukan kebohongan, sehingga sebuah majalah berita mingguan menjuluki dia sebagai Pinokio, boneka kayu dalam dongeng masyarakat Italia, di mana kalau dia berbohong maka akan memanjang hidungnya. Makin banyak berbohong maka akan terus bertambah panjang hidungnya.
Kebohongan Jokowi itu antara lain terkait proyek mobil nasional Esemka yang ternyata zonk.
Lalu, deretan investor asing yang ia klaim sedang antre masuk proyek Ibu Kota Negara (IKN) yang ternyata hoaks.
Jadi, mengapa publik mendesak ijazah Jokowi ditunjukkan karena ada dua faktor. Pertama, Jokowi adalah public figure. Kedua, Jokowi adalah pembohong.
Apalagi, saat mengumumkan ijazah Jokowi itu asli, Badan Reserse Kriminal Polri tidak menunjukkan ijazah itu ke publik. Akhirnya masyarakat pun dibuat penasaran. Maka wajar ketika banyak di antara kita yang mendesak agar Jokowi menunjukkan ijazahnya ke publik. Ironisnya, desakan itu direspons Yakup dengan jawaban yang konyol.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “chaos” tidak ditemukan sebagai entri resmi. Namun, kata dimaksud secara umum diartikan sebagai kekacauan, kerusuhan, atau ketidakberaturan. Kata ini lebih sering digunakan sebagai istilah serapan dari bahasa Inggris untuk menggambarkan situasi yang kacau-balau, tidak terorganisir, atau sulit dipahami.
Tapi entah apa yang dimaksud chaos oleh Yakup Hasibuan. Mungkin baju kaos. Mungkin pula saus (sambal). Kita tidak tahu pasti.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)






















