Fusilatnews – Setelah gencatan senjata antara Iran dan Israel diumumkan dengan suara berat—seperti seseorang yang akhirnya menyerah bukan karena keikhlasan, tapi karena keletihan—Gaza tetap tidak bernafas lega. Ada jeda di medan perang besar, tapi tidak ada jeda di Gaza. Api yang seharusnya padam dari barat justru menyala di selatan.
Ketika dua negara yang saling mengancam dengan rudal dan amarah itu menghentikan sejenak pekik perangnya, kita berharap yang paling ringkih di antara mereka—rakyat biasa, anak-anak, perempuan, tua renta di Gaza—ikut mendapat ruang untuk bernafas. Tapi harapan, seperti biasa di Timur Tengah, adalah sesuatu yang mudah patah.
Israel, negara yang lahir dari trauma dan sejarah pengusiran, tampaknya tak mampu keluar dari bayang-bayang rasa takutnya sendiri. Dan rasa takut, jika dibiarkan bertahun-tahun, berubah menjadi dendam yang menyaru sebagai kebijakan keamanan. Maka, setelah perang besar dengan Iran dihentikan, mulailah perang kecil tanpa henti ke Gaza—yang sesungguhnya tak kecil. Perang yang tanpa malu mengklaim nyawa demi nyawa seolah-olah mereka bukan manusia, tetapi statistik.
Gaza seakan menjadi altar tempat dendam dipersembahkan. Kota yang padat dan miskin itu terus digempur, seperti sasaran yang tidak pernah cukup hancur. Tidak ada pasukan Garda Revolusi Iran di situ, tidak ada senjata nuklir, hanya ada pengungsi, rumah sakit yang porak-poranda, dan anak-anak yang tumbuh tanpa tahu apa itu pagi yang damai.
Maka kata “genosida” pun terdengar. Disuarakan tak lagi hanya dari para aktivis jalanan, tapi dari para pemimpin dunia. Pedro Sánchez dari Spanyol, misalnya, dengan suara yang nyaris putus asa menyebut Gaza kini dalam “situasi katastrofik genosida.” Ia bahkan mendesak Uni Eropa untuk segera memutus kerja sama dengan Israel. Tapi suara itu—meski lantang—seringkali berakhir seperti gema: terdengar keras, tapi tak berdaya mengubah realitas.
Goethe pernah berkata, “Tidak ada yang lebih mengerikan dari ketidakadilan yang dilakukan atas nama keadilan.” Dan itulah yang terjadi: Israel membasmi demi alasan pertahanan. Ironi itu kini tinggal darah dan debu. Dunia menyebutnya “pembalasan”, Israel menyebutnya “hukum”. Tapi di mata seorang ibu di Gaza yang menggendong bayinya yang kaku, tak ada istilah teknis: yang ada hanya kehilangan.
Di masa seperti ini, kita dituntut bukan untuk memilih pihak, tapi untuk melihat manusia. Untuk menyadari bahwa tidak semua yang diam itu netral, dan tidak semua yang berteriak itu radikal. Bahwa mengutuk pembantaian bukan soal keberpihakan politik, melainkan keberpihakan nurani.
Gencatan senjata antara Iran dan Israel barangkali akan dikenang sebagai titik tenang dalam ketegangan regional. Tapi untuk Gaza, tidak ada perjanjian, tidak ada perjanjian damai, dan tidak ada diam. Hanya suara yang terus meledak, dan dendam yang tak pernah selesai dilunasi.
Dan dunia, seperti biasa, berdiri di antara dua pilihan: lupa, atau bersaksi.
























