Fusilatnews – Kalau kita boleh main-main dengan istilah ilmiah—seperti para pakar yang suka menyisipkan Latin agar terdengar meyakinkan—maka bolehlah kita menyebut penyakit para pemimpin masa kini sebagai syndrome vaticanus ambiguus. Bukan karena mereka doyan jalan-jalan ke Vatikan, tapi karena tutur katanya kerap seambigu ucapan kardinal dalam misa Latin: panjang, megah, berirama—namun rakyat bingung, “Ini maksudnya apa, ya?”
Penyakit ini menyerang secara halus. Tidak membuat penderitanya demam atau batuk, melainkan membuat lidah mereka berputar-putar seperti wayang kulit yang belum menemukan lakonnya. Misalnya, saat ditanya, “Pak, bagaimana kelanjutan pembangunan yang mangkrak itu?” Jawaban yang keluar bisa sepanjang jalan tol, penuh dengan kata “strategis”, “komitmen keberlanjutan”, dan “visi jangka panjang”—padahal rakyat cuma ingin tahu, jadi lanjut apa enggak?
Pemimpin yang terjangkit vaticanus ambiguus biasanya pandai memakai kata-kata yang tak bisa dibantah, tapi juga tak bisa dipahami. Mereka mengatakan “kami mendengar suara rakyat,” padahal telinganya lebih sering menempel ke meja elite politik. Mereka berkata “kami bekerja untuk kebaikan bersama,” tetapi keputusan yang lahir lebih banyak memihak kolega yang berseragam partai.
Kadang kita berpikir, barangkali mereka bicara seperti itu karena takut disalahpahami. Tapi yang lebih mungkin: mereka justru ingin disalahpahami. Dengan kata lain, makin kabur ucapan mereka, makin longgar ruang untuk menyelamatkan diri. Kalau keliru, tinggal bilang, “Itu tafsir Anda, bukan maksud saya.”
Dan inilah bahayanya: ketika ketegasan hilang dari lidah pemimpin, maka yang tumbuh bukan ketenangan, melainkan ketakutan. Rakyat jadi bertanya-tanya, ke mana arah kapal ini dibawa? Apakah ke pulau harapan, atau ke laut kekuasaan yang beriak tetapi hampa?
Tapi tentu, tidak semua pemimpin terjangkit penyakit ini. Ada juga yang bicara lugas, jujur, dan terang—walau jumlahnya mungkin bisa dihitung dengan jari tukang kayu. Selebihnya? Sibuk membuat rakyat mengartikan sendiri maksud pidato, seperti menebak-nebak mimpi semalam.
Maka kalau ada mahasiswa yang mulai skeptis, atau warga pasar yang mulai sinis, jangan langsung bilang mereka apatis. Bisa jadi mereka hanya lelah mendengar kalimat panjang tak berujung—karena bagi mereka, hidup sehari-hari sudah cukup rumit tanpa harus menerjemahkan maksud pemimpin yang berbicara seperti orakel Yunani: mendalam, namun tak menentu.
Ah, seandainya pemimpin kita mau bicara seperti petani: pendek, jelas, dan langsung ke pokok persoalan. “Lahan ini butuh pupuk, Pak.” Maka jawabnya, “Besok datang, saya antar.” Tak ada istilah sustainability, eco-agriculture, atau jargon-jargon semu lain yang lebih pantas jadi nama seminar ketimbang solusi.
Tapi, ya begitulah. Di negeri ini, kadang kejelasan dianggap ancaman. Maka lahirlah sindrom ini, pelan-pelan menyebar dari ruang pidato ke media sosial, dari ruang rapat ke siaran televisi. Dan kita, rakyat yang katanya pemilik kedaulatan, cuma bisa menonton sambil bertanya: “Sebenarnya, dia tadi ngomong apa, sih?”
Kalaupun ada obatnya, barangkali hanya satu: kejujuran. Tapi itu pun sudah jadi barang langka—bahkan lebih langka dari kartu kendali pangan. Maka sampai saat itu tiba, kita harus siap hidup berdampingan dengan vaticanus ambiguus—penyakit para pemimpin yang senang bertele-tele, padahal rakyat cuma butuh satu: kejelasan.
























