Oleh: Damai Hari Lubis – Pengamat KUHP (Kebijakan Umum Hukum dan Politik)
Entah siapa yang pertama kali kepikiran mematungkan Jokowi di Tanah Karo. Barangkali orang yang merasa terlalu berutang budi, atau mungkin juga orang yang ingin cepat-cepat mengabadikan seseorang sebelum rakyat terlanjur lupa, atau sebelum citra beliau terjun bebas dari langit elektabilitas ke palung Mariana sejarah bangsa.
Tapi yang jelas, patung itu sekarang berdiri. Gagah? Mungkin. Mirip? Waduh, ini yang jadi soal.
Patungnya konon dikerjakan oleh seniman lokal, memakai dana swadaya masyarakat enam desa dan tiga dusun. Dana yang dikumpulkan itu tidak tanggung-tanggung: Rp 2,5 miliar! Itu belum termasuk sumbangan Rp 500 juta dari menantu Jokowi, Bobby Nasution, yang sepertinya ingin memastikan patung mertuanya tidak cuma berdiri, tapi berdiri dengan gaya.
Dan begitu patungnya dibuka selubung kainnya, rakyat pun bertanya-tanya dalam hati: “Ini Jokowi, apa hasil cetak 3D dari tokoh pewayangan?”
Wajahnya seperti ingin tersenyum, tapi malah terlihat seperti sedang menahan encok. Matanya tajam, tapi bukan tajam pemimpin visioner. Lebih mirip tatapan orang yang baru sadar kalau rekening negara jebol tapi masih pura-pura tenang. Rambutnya klimis, tapi tidak menyampaikan wibawa—lebih seperti habis pakai pomade warung sebelah.
Yang ajaib, setelah muncul kabar bahwa Jokowi sedang sakit, konon karena alergi yang bikin gatal-gatal, beberapa warga malah bilang, “Lho, lha kok sekarang malah mirip!” Nah lho! Jangan-jangan sang pematung memang diberkahi kemampuan meramal. Atau barangkali, patung itu bukan bermaksud menggambarkan Jokowi saat gagah di podium, tapi Jokowi yang sedang bergulat dengan karma politiknya.
Ini bukan soal magis atau mistis, Bung. Tapi soal selera dan logika. Sejak kapan pemimpin yang masih menjabat dipatungkan? Biasanya, orang kita membuat patung setelah tokoh tersebut tiada, atau setidaknya sudah pensiun dan berjarak dari godaan kekuasaan. Kalau dipatungkan sekarang, bukankah itu seperti mengunci narasi sejarah sebelum waktunya?
Dan kita tahu, sejarah bangsa ini punya hobi buruk: mematungkan orang ketika dipuja, lalu menghancurkan patung itu ketika disesali.
Jadi, ngapain juga Jokowi dipatungkan? Apakah ini bentuk penghormatan, atau justru pengawetan agar rakyat tidak lupa siapa yang membangun jalan, walau yang belum dibangun lebih banyak daripada yang sudah? Ataukah ini upaya membungkus warisan kekuasaan dengan beton dan semen agar kritik tak bisa menembus?
Kalau hanya karena membangun jalan 37 kilometer, lalu dibuatkan patung, maka sopir truk yang menempuh jarak ratusan kilometer sehari juga layak dipatungkan. Setidaknya, mereka tak pernah janji-janji palsu tiap kampanye.
Akhir kata, saya tak tahu apakah patung itu mirip Jokowi atau tidak. Tapi yang jelas, semakin lama saya memandang patung itu, saya merasa sedang menatap wajah bangsa ini: kelihatan kalem di luar, tapi menyimpan kekacauan di dalam.























