Oleh: Damai Hari Lubis — Pengamat KUHP (Kebijakan Umum Hukum dan Politik)
Patung Presiden Jokowi yang baru saja diresmikan di Tanah Karo, Sumatera Utara, sontak menjadi sorotan publik. Bukan karena keindahan artistiknya, melainkan karena wajah patung tersebut dinilai tidak mirip—atau malah terlalu mirip dengan versi Jokowi yang kini sedang diberitakan tengah sakit dengan gejala gatal-gatal akibat alergi.
Ada kemungkinan kesalahan bermula dari gambar acuan yang digunakan oleh seniman lokal pembuat patung, atau justru dari sang pematung yang kurang cermat mengeksekusi proporsi wajah. Sekilas, memang ada kemiripan, namun jika diamati lebih dalam, wajah itu terasa asing—seolah dibalut nuansa magis, seakan berasal dari dunia supranatural.
Tanah Karo, bagian dari Provinsi Sumatera Utara, dihuni masyarakat Karo—yang walau sebagian besar kini memeluk agama Nasrani dan Islam, tetap mempertahankan adat dan kepercayaan leluhur yang kental dengan unsur animisme. Tak heran jika karya seni seperti patung pun tak lepas dari dimensi spiritual yang menyelubungi makna di balik rupa.
Menurut Kompas.com, patung ini dibangun dari dana swadaya masyarakat enam desa dan tiga dusun di wilayah Liang Melas Datas (LMD) sebagai bentuk ucapan terima kasih atas pembangunan jalan sepanjang 37 kilometer oleh Jokowi. Gubernur Sumut, Bobby Nasution, juga disebut menyumbang Rp500 juta dari total anggaran Rp2,5 miliar.
Menariknya, wajah patung yang awalnya dinilai ‘tidak mirip’ kini justru dianggap “terlalu mirip” setelah beredar kabar tentang kondisi kesehatan Jokowi. Di sinilah muncul pertanyaan yang tak bisa dijawab hanya oleh logika: mungkinkah aura batin masyarakat Karo—yang masih memelihara hubungan spiritual dengan alam dan leluhur—secara tidak sadar menuntun tangan sang seniman menciptakan representasi ‘sejati’ dari sosok Jokowi?
Dalam psikologi, fenomena ini dapat dikaitkan dengan delusi magis: keyakinan bahwa pikiran atau tindakan seseorang dapat memengaruhi kenyataan secara supranatural. Tapi di luar tafsir apapun—baik rasional maupun mistis—patung ini seperti mencerminkan wajah Jokowi yang sesungguhnya: seorang pemimpin yang tampak kalem, namun menyimpan kesan kebengisan, yang kini dirundung sakit dan barangkali juga dosa kekuasaan.
Apakah patung ini gagal sebagai karya seni, atau justru berhasil mengungkap wajah batin kekuasaan?

Oleh: Damai Hari Lubis — Pengamat KUHP (Kebijakan Umum Hukum dan Politik)
























