• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Pilkada Langsung dan Pilkada Melalui DPRD: Dua Jalan, Satu Masalah

Ali Syarief by Ali Syarief
January 10, 2026
in Feature, Pilkada
0
Wacana Penundaan Pemilu, Klaim soal “Big Data” yang Dinilai Manipulatif dan Sumir

Ilustrasi Pilkada 2024 (Istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

Perdebatan tentang sistem pemilihan kepala daerah kembali memanas. Sebagian ingin mempertahankan pilkada langsung sebagaimana diatur setelah UUD 1945 Perubahan. Sebagian lain mendorong kembali ke pilkada melalui DPRD sebagaimana praktik sebelum reformasi, yang berakar pada tafsir UUD 1945 sebelum amandemen. Ironisnya, kegaduhan ini seolah lupa pada satu fakta penting: kedua sistem itu pernah kita jalankan, dan keduanya sama-sama tidak pernah benar-benar memuaskan.

Pilkada langsung lahir dengan semangat demokratisasi. Rakyat diberi hak memilih pemimpinnya sendiri. Namun dalam praktiknya, biaya politik membengkak luar biasa. Kontestasi berubah menjadi industri mahal yang membuka ruang lebar bagi politik uang, mobilisasi birokrasi, penyalahgunaan bansos, hingga intervensi kekuasaan pusat. Pemerintah yang seharusnya netral justru kerap menjadi pemain. Demokrasi prosedural berjalan, tetapi keadilan elektoral sering tertinggal.

Di sisi lain, pilkada melalui DPRD juga pernah kita rasakan. Kritik utamanya adalah tertutupnya proses dari partisipasi rakyat langsung. Namun sistem ini memiliki keunggulan yang kini kembali dilirik: lebih hemat biaya negara, lebih ringkas secara administratif, dan lebih sesuai dengan budaya musyawarah yang sejak awal menjadi roh sistem ketatanegaraan Indonesia.

Masalahnya, penolakan terhadap pilkada DPRD hari ini bukan semata soal demokrasi. Ada faktor lain yang jarang diakui secara jujur: hilangnya kenyamanan para pemburu rente politik. Industri konsultan politik, broker suara, cukong pendanaan, hingga jaringan logistik kampanye akan kehilangan ladang besar jika kontestasi massal dikurangi. Maka kegaduhan yang terjadi sering kali bukan demi rakyat, tetapi demi ekosistem ekonomi politik yang selama ini hidup dari pilkada langsung.

Namun pertanyaan mendasarnya tetap sama: apakah mengganti sistem akan otomatis menghilangkan kecurangan?

Jawabannya: tidak.

Sebab problem sesungguhnya bukan semata pada mekanisme pemilihan, melainkan pada watak kekuasaan itu sendiri. Selama konstitusi — baik UUD 1945 Asli maupun UUD 1945 Perubahan — dijalankan oleh elite yang bersedia menyalahgunakan wewenang, maka kecurangan akan terus menemukan jalannya. Sistem boleh berubah, tetapi moral kekuasaan yang sama akan melahirkan masalah yang serupa.

Di titik inilah peringatan Prof. Soepomo menjadi sangat relevan. Dalam Rapat Besar PPKI tanggal 15 Juli 1945, ia berkata:

“Jikalau pemerintah akan berbuat sewenang-wenang, walaupun sudah ada jaminan dalam konstitusi, maka jaminan itu tidak akan ada artinya.”

Kalimat ini adalah peringatan lintas zaman. Konstitusi sebaik apa pun tidak akan berarti jika kekuasaan tidak dikendalikan oleh etika, hukum, dan kesadaran akan batas. Kita boleh berdebat tentang pilkada langsung atau pilkada DPRD. Namun tanpa pembenahan watak kekuasaan, perdebatan itu hanya akan menjadi kegaduhan tanpa guna.

Maka yang seharusnya menjadi fokus bukan sekadar memilih sistem, melainkan bagaimana memastikan kekuasaan tidak liar, bagaimana institusi pengawas kuat, bagaimana hukum berdiri tegak, dan bagaimana rakyat tidak hanya menjadi pemilih lima tahunan, tetapi pengawas permanen atas mandat yang mereka berikan.

Jika itu tidak dilakukan, maka benar kata Soepomo: jaminan konstitusi hanya akan menjadi teks indah di atas kertas — sementara praktik kekuasaan berjalan sesuka penguasa.


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

MENGHAPUS POST-TRUTH DEMOKRASI DENGAN DEMOKRASI PANCASILA

Next Post

Ishhadu bi Anna Muslim: Nasihat untuk Eggi Sudjana di Persimpangan Sikap

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

PARADOKS PRABOWO: Kekuasaan Di Atas Rakyat
Economy

PARADOKS PRABOWO: Kekuasaan Di Atas Rakyat

February 27, 2026
Jokowi & Prabowo, Keniscayaan yang “Mempercepat” Kehancuran
Economy

Jokowi & Prabowo, Keniscayaan yang “Mempercepat” Kehancuran

February 27, 2026
Gaza, Board of Peace, dan Standar Ganda Diplomasi “Transaksional” Indonesia
Feature

Gaza, Board of Peace, dan Standar Ganda Diplomasi “Transaksional” Indonesia

February 27, 2026
Next Post
Setelah Lembong di Penjara Anies Menyusul?

Ishhadu bi Anna Muslim: Nasihat untuk Eggi Sudjana di Persimpangan Sikap

KUHP Baru dan Nikah Siri: Sah Secara Agama, Bisa Dipidana Secara Negara?

KUHP Baru dan Nikah Siri: Sah Secara Agama, Bisa Dipidana Secara Negara?

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiyo Tantang Prabowo: Timun vs Durian
Feature

Tiyo Tantang Prabowo: Timun vs Durian

by Karyudi Sutajah Putra
February 25, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Aku tak bisa membayangkan bila ini benar-benar...

Read more
Hitam-Putih Wajah Prabowo

Hitam-Putih Wajah Prabowo

February 24, 2026
Badut-badut Politik

Badut-badut Politik

February 23, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
PARADOKS PRABOWO: Kekuasaan Di Atas Rakyat

PARADOKS PRABOWO: Kekuasaan Di Atas Rakyat

February 27, 2026
10 Jenazah Korban Longsor Cisarua Dimakamkan Massal Tanpa Identitas

10 Jenazah Korban Longsor Cisarua Dimakamkan Massal Tanpa Identitas

February 27, 2026
Jokowi & Prabowo, Keniscayaan yang “Mempercepat” Kehancuran

Jokowi & Prabowo, Keniscayaan yang “Mempercepat” Kehancuran

February 27, 2026
Gaza, Board of Peace, dan Standar Ganda Diplomasi “Transaksional” Indonesia

Gaza, Board of Peace, dan Standar Ganda Diplomasi “Transaksional” Indonesia

February 27, 2026
AOTS: Online Seminar (Subsidized Program)

“AOTS E-Newsletter” is published by the Association for Overseas Technical Cooperation and Sustainable Partnerships (AOTS)

February 27, 2026
Mas Wowo – Jangan Seperti Cowboy, Masuk Kota Hanya Bikin Onar

Prabowo Mulai Tinggalkan Gibran? Ibarat Orang Buta yang Tiba-tiba Matanya Awas Lagi

February 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

PARADOKS PRABOWO: Kekuasaan Di Atas Rakyat

PARADOKS PRABOWO: Kekuasaan Di Atas Rakyat

February 27, 2026
10 Jenazah Korban Longsor Cisarua Dimakamkan Massal Tanpa Identitas

10 Jenazah Korban Longsor Cisarua Dimakamkan Massal Tanpa Identitas

February 27, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...