FusilatNews – Di negeri yang gemar menonton drama politik seperti menonton sinetron sore—lengkap dengan adegan slow motion dan musik latar dramatis—cara seorang tokoh disambut kadang lebih menarik daripada isi pembicaraannya. Publik sering membaca simbol dari hal-hal kecil: siapa yang disalami dulu, siapa yang diantar sampai pagar, bahkan siapa yang memanggul bingkisan.
Di titik inilah muncul perbandingan yang ramai dibicarakan: pola sambutan terhadap Rismon dibandingkan dengan sambutan terhadap Eggi Sudjana dan DHL.
Cerita yang beredar di ruang publik—baik di media kaca, YouTube, maupun portal berita—menyebutkan bahwa ketika Eggi Sudjana dan DHL datang secara terpisah menemui Presiden Jokowi pada waktu yang berbeda, sambutannya terasa cukup hangat. Jokowi disebut bangkit dari kursinya, menyambut dengan salaman, bahkan mengantar tamunya sampai ke pintu pagar ketika mereka pulang. Sebuah gestur yang dalam budaya politik Indonesia sering dimaknai sebagai bentuk penghormatan personal.
Sementara itu, dalam episode lain yang lebih baru, publik melihat adegan yang berbeda ketika Rismon datang bersama kuasa hukumnya. Sambutannya terlihat lebih formal, lebih singkat, dan tentu saja—seperti biasa dalam politik modern—kamera sudah siap di berbagai sudut. Ada pula bingkisan parcel yang ikut muncul dalam narasi visual tersebut.
Di sinilah warganet mulai memainkan imajinasinya.
Sebagian orang membacanya sebagai perbedaan kelas pertemuan. Bukan kelas sosial tentu saja, melainkan kelas dramaturgi politik. Kalau pertemuan Eggi dan DHL dulu terasa seperti adegan ruang tamu yang tenang—dua tamu datang, tuan rumah berdiri, lalu mengantar sampai pagar—pertemuan Rismon lebih mirip adegan yang sudah dikemas untuk publikasi.
Dan di era digital, paket visual memang sering lebih penting daripada isi dialog.
Namun sisi lain dari cerita ini juga menarik.
Ada yang melihat fenomena ini sebagai bentuk apresiasi kepada Rismon—setidaknya ia berhasil menciptakan peristiwa yang membuat publik kembali berbicara. Di negeri yang kadang lebih gemar menghujat daripada meneliti, lebih suka berandai-andai daripada merawat argumen, sebuah drama kecil saja sudah cukup untuk menjadi bahan diskusi nasional selama berhari-hari.
Pertanyaannya kemudian muncul: apakah Rismon akan merapat ke barisan Eggi atau kepada sosok yang ia sendiri sebut sebagai “tulangnya”, DHL?
Publik tampaknya belum melihat tanda-tanda itu. Karakter Eggi Sudjana dan DHL selama ini dikenal memiliki jalur perjuangan yang cukup panjang, dengan gaya garis komando yang khas. Karena itu banyak pengamat politik pinggir warung kopi berpendapat—dengan nada setengah bercanda—bahwa mereka mungkin tidak mudah menerima model “sekutu dadakan”.
Dalam dunia aktivisme, umur perjuangan sering dihitung seperti masa kerja pegawai negeri: ada yang sudah puluhan tahun, ada yang baru ikut apel pagi.
Di titik ini, perbandingan pun semakin ramai.
Eggi Sudjana dikenal sebagai figur yang telah puluhan tahun berada di panggung advokasi politik. DHL juga sudah belasan tahun berkutat dalam berbagai polemik hukum dan politik. Sedangkan Rismon, bagi sebagian orang, dianggap sebagai figur yang baru muncul di bab terbaru cerita.
Perbedaan lain yang sering disorot publik adalah soal sikap.
Dalam berbagai pernyataan publik sebelumnya, Eggi dan DHL dikenal konsisten tidak menyampaikan permintaan maaf secara formal terkait polemik yang mereka suarakan. Sementara Rismon sendiri pernah menyatakan permintaan maaf kepada Jokowi melalui kanal YouTube, bahkan menyebut karya tulisnya perlu dianulir.
Peristiwa itu kemudian diikuti dengan momen pemberian parcel dari pihak Gibran yang terekam kamera dan viral di media sosial. Di internet, tentu saja, semua bisa berubah menjadi metafora.
Ada yang mengibaratkannya seperti adegan dokumenter alam: seekor hewan gurun menemukan tulang kering di tengah panas matahari. Bukan penghinaan—lebih tepatnya humor khas netizen yang memang tidak pernah kehabisan analogi.
Namun jika dilihat lebih jauh, perbedaan ini mungkin memang menunjukkan dua jalur cerita yang berbeda.
Jokowi tentu bukan pemain baru dalam membaca peta aktor politik. Ia tahu siapa yang sudah puluhan tahun menjadi aktivis, siapa yang baru muncul di bab terbaru. Dalam politik, pengalaman seringkali membuat seseorang tampak lebih “bertaji”, bahkan setelah tidak lagi memegang jabatan.
Sedangkan figur baru biasanya masih mencari posisi—kadang dengan suara keras, kadang dengan langkah yang belum stabil.
Lalu bagaimana dengan Rismon sekarang?
Tidak banyak yang tahu pasti. Setelah polemik itu, keberadaannya di ruang publik terasa lebih sunyi. Ada yang berseloroh ia mungkin sedang mengalami “jet lag politik”—sejenis barotrauma akibat turbulensi opini publik.
Dalam dunia politik Indonesia, fenomena seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Banyak tokoh muncul dengan ledakan besar, lalu menghilang sejenak untuk menata napas.
Dan seperti biasa, publik akan terus menonton.
Karena di negeri ini, politik sering kali bukan hanya soal kekuasaan—tetapi juga soal panggung, simbol, dan tentu saja… cara seseorang disambut di ruang tamu.

























