Oleh M Yamin Nasution
Theory Evolusi dalam ilmu politik mengajarkan masyarakat tentang perilaku elit-elit politik, dan simpanse mengajarkan masyarakat jelata untuk pasrah dalam mendapatkan kebutuhan-kebutuhan sulit sehingga acuh tak acuh, perjuangan mati-matian untuk bertahan hidup, selamat dari perang liar antara sesama melawan sesama, di mana hal yang paling mendekati kemenangan bagi masyarakat yaitu kedamaian sementara dari adaptasi yang di lakukan, sehingga dapat berlindung di tengah badai kehidupan politik yang menjijikkan, brutal, dan pendek akal.
Hukum persaingan seharusnya tunduk pada persaingan yang sehat, serta kontribusi tokoh-tokoh besar negara, dan membawa evolusi untuk politik modern dan kemajuan nilai-nilai masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Syarat utama dan pertama seorang tokoh negara dapat menjadi Bapak/Ibu Bangsa yaitu pernah menjadi Presiden, dan tidak terikat dengan warna parsialistik partai politik manapun, secara sukarela harus melepaskan fungsionaris partai demi gelar Bapak/Ibu Bangsa, sehingga menjadi cermin politik setiap warga di seluruh negri, ucapan yang terus menerus melahirkan rasa damai disaat adanya sengketa politik dan sengketa kepentingan, seperti sengketa wilayah di Papua, Aceh, dan lainnya.
Bila merujuk pada Pasal 6 Ayat (1) UU No 7 Tahun 1978 tentang Hak Keuangan/Administratif Presiden dan Wakil Presiden serta Bekas Presiden dan Wakil Presiden, Bahwa SBY dan Megawati masih di biayai oleh rakyat, harapan begitu besar terhahap kedua tokoh ini menjadi Bapak/Ibu Bangsa, di mana setiap ucapan yang di keluarkan semata-mata hanya untuk kepentingan bangsa dan negara.
Namun, sangat di sayangkan bahwa politik yang di suguhkan dari kedua tokoh besar ini tak obahnya seperti politik “SACHETAN” yang bersifat parsialistik, dan murah harganya. Kedua tokoh ini menggunakan uang rakyat yang di sediakan oleh rakyat sesuai yang di atur oleh UU di atas, seolah-olah hanya untuk kepentingan partai politik, dinasti politik yang notabene untuk kepentingan anak keturunan semata. Kedua tokoh besar ini hanya menyebutkan kata “rakyat” di saat memakai baju kebesaran partai.
Mendekati perhelatan Pemilu 2024 kedua tokoh tersebut telah menunjukkan bahwa Bangsa ini sedang mengalami KEBANGKRUTAN POLITIK, dan kepailitan ini harus di selesaikan oleh seluruh rakyat, dengan cara meninggalkan kandidat Presiden yang menjadi petugas partai, dan kader partai, serta meninggalkan partai-partai yang mengutamakan kepentingan partai semata.


























