• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Politik Kekuasaan: Ambiguitas Platform Partai dalam Pilpres, Pilgub, dan Pilbup/Walikota – “PKS Mulai Selingkuh”

Ali Syarief by Ali Syarief
August 8, 2024
in Feature, Politik
0
Politik Kekuasaan: Ambiguitas Platform Partai dalam Pilpres, Pilgub, dan Pilbup/Walikota – “PKS Mulai Selingkuh”
Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta, Fusilatnews.--Dalam dunia politik Indonesia yang dinamis dan penuh kejutan, koalisi dan aliansi sering kali berubah dengan cepat, mengaburkan batas antara kawan dan lawan. Fenomena ini terlihat jelas dalam perjalanan politik Prabowo Subianto, seorang tokoh militer yang kharismatik dan mantan rival sengit Joko Widodo (Jokowi) dalam dua pemilihan presiden. Setelah bersaing ketat dalam Pilpres 2014 dan 2019, Prabowo akhirnya menerima tawaran untuk bergabung dalam pemerintahan Jokowi sebagai Menteri Pertahanan. Langkah ini tidak hanya mengejutkan banyak pihak, tetapi juga menyoroti dinamika politik pragmatis yang sering kali mengesampingkan prinsip demi kekuasaan.

Tidak hanya di tingkat nasional, fleksibilitas politik juga tampak jelas di level regional. Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang dikenal dengan sikap ideologisnya yang keras, kini mendukung menantu Presiden Joko Widodo, Bobby Nasution, dalam pemilihan gubernur Sumatera Utara. Langkah ini memicu perdebatan dan kritik, terutama di kalangan pendukung PKS yang merasa bahwa partai tersebut telah mengkhianati prinsip-prinsipnya sendiri demi kepentingan politik praktis. Fenomena ini memberikan gambaran nyata tentang bagaimana politik Indonesia sering kali menghalalkan segala cara, mengaburkan perbedaan antara yang “halal” dan “haram” dalam konteks kekuasaan dan aliansi politik.

Dalam setiap pemilihan presiden (Pilpres), gubernur (Pilgub), atau bupati/walikota (Pilbup), fenomena yang terlihat adalah kaburnya platform partai. Pada satu saat, partai A menjadi lawan dari partai B, namun pada kesempatan lain, terutama dalam Pilgub atau Pilbup, partai yang sebelumnya bermusuhan dapat menjadi kawan dalam sebuah koalisi. Fenomena ini menunjukkan bahwa yang dikejar bukanlah kepentingan ideologis atau programatik, melainkan “hanya kekuasaan.” Pertanyaannya kemudian, untuk apa berdirinya sebuah partai politik? Lebih mengkhawatirkan lagi, di parlemen, koalisi partai bisa mencapai 82%, menghilangkan check and balances yang esensial dalam demokrasi. Anggota dewan tampak semakin jauh dari memperjuangkan kepentingan konstituen mereka.

Ambiguitas Platform Partai: Sebab dan Akibat

Sebab

  1. Pragmatisme Politik: Partai politik di Indonesia cenderung pragmatis dalam menyusun koalisi. Mereka lebih mengedepankan peluang untuk menang dan mendapatkan kekuasaan daripada mempertahankan konsistensi ideologi atau platform partai. Ini membuat partai-partai fleksibel dalam berkoalisi dengan siapa saja yang dapat memberikan keuntungan elektoral.

  2. Sistem Pemilu dan Fragmentasi Partai: Sistem pemilu di Indonesia yang multipartai membuat fragmentasi politik sangat tinggi. Untuk memenangkan pemilihan, partai harus membentuk koalisi, sering kali dengan partai yang memiliki ideologi berbeda. Ini menyebabkan kaburnya platform partai karena kompromi-kompromi politik yang harus dilakukan.

  3. Kepentingan Elit Politik: Kepentingan elit politik sering kali mendominasi keputusan partai. Ambisi individu atau kelompok dalam partai bisa mengarahkan keputusan strategis yang pragmatis dan oportunistik, bukan berdasarkan platform atau visi partai.

  4. Kurangnya Pendidikan Politik: Rendahnya pendidikan politik di kalangan masyarakat menyebabkan pemilih lebih mudah menerima pergeseran koalisi tanpa mempertanyakan konsistensi dan integritas platform partai. Partai merasa tidak ada konsekuensi elektoral yang serius dari pergeseran ini.

Akibat

  1. Hilangnya Kepercayaan Publik: Ketika platform partai menjadi tidak jelas dan fleksibel, kepercayaan publik terhadap partai politik menurun. Pemilih menjadi skeptis terhadap komitmen dan janji politik yang diberikan oleh partai.

  2. Erosi Demokrasi: Tanpa check and balances yang kuat, demokrasi menjadi lemah. Dominasi koalisi besar di parlemen mengurangi ruang untuk oposisi yang kritis dan konstruktif, yang sangat penting untuk menjaga akuntabilitas dan transparansi pemerintah.

  3. Kepentingan Konstituen Terabaikan: Dengan fokus yang lebih besar pada kekuasaan dan keuntungan politik jangka pendek, kepentingan konstituen sering kali diabaikan. Anggota dewan lebih sibuk mengamankan posisi dan pengaruh politik mereka daripada memperjuangkan isu-isu yang penting bagi pemilih mereka.

  4. Korupsi dan Nepotisme: Koalisi pragmatis dan ambiguitas platform sering kali membuka ruang untuk praktik korupsi dan nepotisme. Ketika partai politik tidak lagi berfokus pada visi dan misi yang jelas, proses pengambilan keputusan cenderung menjadi lebih tertutup dan rawan penyalahgunaan kekuasaan.

 Analisis 

Untuk menganalisis lebih dalam, kita perlu melihat bagaimana sistem politik yang ada mendukung atau bahkan mendorong perilaku politik seperti ini.

  1. Sistem Presidensial dengan Sistem Pemilu Proporsional: Indonesia menganut sistem presidensial dengan pemilu legislatif proporsional. Dalam konteks ini, partai-partai politik harus mendapatkan sebanyak mungkin kursi di parlemen untuk memiliki pengaruh. Hal ini membuat partai-partai pragmatis dalam berkoalisi, bahkan dengan lawan politik yang ideologinya berbeda.

  2. Kurangnya Regulasi yang Kuat terhadap Koalisi Politik: Tidak adanya regulasi yang mengatur koalisi politik secara ketat menyebabkan partai bebas berkoalisi kapan saja dan dengan siapa saja. Ini menciptakan iklim politik yang sangat cair dan oportunistik.

  3. Kultur Politik yang Berorientasi Kekuasaan: Kultur politik di Indonesia cenderung berorientasi pada kekuasaan daripada pelayanan publik. Ini tercermin dalam perilaku elit politik yang lebih memprioritaskan kepentingan pribadi dan kelompok daripada kepentingan publik.

Solusi dan Rekomendasi

  1. Pendidikan Politik: Meningkatkan pendidikan politik di kalangan masyarakat untuk menciptakan pemilih yang kritis dan sadar akan pentingnya platform partai. Ini bisa dilakukan melalui program pendidikan formal maupun kampanye kesadaran politik oleh organisasi masyarakat sipil.

  2. Reformasi Sistem Pemilu: Mempertimbangkan reformasi sistem pemilu untuk mengurangi fragmentasi partai dan mendorong konsistensi platform. Sistem pemilu campuran atau semi-proporsional bisa menjadi salah satu opsi.

  3. Penguatan Regulasi Koalisi: Membuat regulasi yang lebih ketat mengenai pembentukan dan perubahan koalisi politik untuk menjaga konsistensi platform partai dan memastikan adanya check and balances di parlemen.

  4. Transparansi dan Akuntabilitas: Mendorong transparansi dalam pengambilan keputusan politik dan memperkuat mekanisme akuntabilitas untuk meminimalisir korupsi dan nepotisme.

Dengan mengatasi akar masalah dan mengambil langkah-langkah konkret, kita dapat membangun sistem politik yang lebih sehat dan berorientasi pada kepentingan publik, bukan hanya kekuasaan.

 

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

PKS Tegak Lurus Usung Anies Baswedan dan Sohibul Iman dalam Pilkada Jakarta 2024

Next Post

Peringatan HUT RI di IKN – “Jokowi Buat Konten Akhir Masa jabatan”

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Apa Urgensi Melibatkan Militer dalam Rekrutmen Manajer Koperasi MP?
Economy

Apa Urgensi Melibatkan Militer dalam Rekrutmen Manajer Koperasi MP?

April 25, 2026
Mengapa Kita Hidup? Antara Ruh dan Mekanisme Tubuh
Feature

Mengapa Kita Hidup? Antara Ruh dan Mekanisme Tubuh

April 25, 2026
Feature

Bersama Kesulitan, Ada Kemudahan

April 25, 2026
Next Post
Jokowi Ajak Influencer Nikmati Makan Malam di Glamping IKN

Peringatan HUT RI di IKN - "Jokowi Buat Konten Akhir Masa jabatan"

Siswa SMPIT Darul Fikri Makassar Raih Medali Perak di Olimpiade Sains Tingkat Nasional

Siswa SMPIT Darul Fikri Makassar Raih Medali Perak di Olimpiade Sains Tingkat Nasional

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa
Feature

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

by Karyudi Sutajah Putra
April 24, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Letkol Teddy Indra Wijaya kini sudah bisa...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

RPP Tugas TNI: Wujud Remiliteriasi yang Bahayakan Kehidupan Demokrasi

April 24, 2026
Jangan Lawan Parpol!

Jangan Lawan Parpol!

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Apa Urgensi Melibatkan Militer dalam Rekrutmen Manajer Koperasi MP?

Apa Urgensi Melibatkan Militer dalam Rekrutmen Manajer Koperasi MP?

April 25, 2026
Mengapa Kita Hidup? Antara Ruh dan Mekanisme Tubuh

Mengapa Kita Hidup? Antara Ruh dan Mekanisme Tubuh

April 25, 2026

Bersama Kesulitan, Ada Kemudahan

April 25, 2026
Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

April 25, 2026
Mas Wowo – Jangan Seperti Cowboy, Masuk Kota Hanya Bikin Onar

Siapa yang Harus Mengerti: Presiden Memahami Rakyat atau Rakyat Memahami Presiden?

April 25, 2026
Mengapa Anak Sulung Lebih Cerdas: Ketika Kuman Mengalahkan Stereotip

Mengapa Anak Sulung Lebih Cerdas: Ketika Kuman Mengalahkan Stereotip

April 25, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Apa Urgensi Melibatkan Militer dalam Rekrutmen Manajer Koperasi MP?

Apa Urgensi Melibatkan Militer dalam Rekrutmen Manajer Koperasi MP?

April 25, 2026
Mengapa Kita Hidup? Antara Ruh dan Mekanisme Tubuh

Mengapa Kita Hidup? Antara Ruh dan Mekanisme Tubuh

April 25, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist