• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Politik Perut Soeharto vs Prabowo: Swasembada vs Makan Gratis yang Bergantung Utang

fusilat by fusilat
February 16, 2026
in Feature, Tokoh/Figur
0
Politik Perut Soeharto vs Prabowo: Swasembada vs Makan Gratis yang Bergantung Utang
Share on FacebookShare on Twitter

Politik perut adalah politik yang paling ampuh: menyentuh perut rakyat langsung. Soeharto paham betul itu. Prabowo juga paham. Tapi cara mereka menjalankannya sangat berbeda — dan perbedaannya mencerminkan visi yang sangat bertolak belakang.

Soeharto: Politik Perut yang Produktif

Soeharto membangun politik perut dengan prinsip yang sangat jelas:
“Hutang tidak boleh menjadi tai.”

Dia tidak memberi makan rakyat dengan uang pinjaman untuk konsumsi harian. Dia memberi alat produksi agar rakyat bisa makan dari hasil sendiri.

Program ikoniknya:
– 4 Sehat 5 Sempurna — kampanye gizi paling sederhana dan berhasil di dunia.
– Swasembada Pangan (1984) — Indonesia dari importir beras terbesar menjadi eksportir.
Caranya: dengan subsidi pupuk masif, pemberian bibit unggul, irigasi besar-besaran, Kredit Usaha Tani (KUT), dan ribuan penyuluh lapangan yang turun ke desa.

Hasilnya bener-bener tak mengkhianati usaha.
Petani sejahtera, harga beras stabil, rakyat kecil bisa membeli lauk-pauk, dan negara tidak bergantung pada impor. Politik perutnya produktif. Rakyat bukan hanya kenyang hari ini, tapi besok juga bisa kenyang tanpa bergantung pada program pemerintah.

Prabowo: Politik Perut yang Konsumtif dan Bergantung

MBG adalah politik perut era sekarang — tapi jenis yang berbeda.

Bukan lagi membangun kapasitas produksi, tapi memberi makan langsung setiap hari pakai uang negara Rp335 triliun per tahun. Sumbernya? Utang dan APBN yang dipotong dari pos lain (termasuk pendidikan).

Ciri-cirinya:
– Konsumtif, bukan produktif.
– Bergantung selamanya pada APBN (kalau stop, anak-anak kembali lapar).
– Rantai pasok dikuasai oleh supplier besar, yayasan mitra, dan kini bahkan Polri (1.147 dapur SPPG).
– UMKM dan pedagang kecil (kantin sekolah, warung pinggir jalan) kehilangan omzet karena anak sudah mendapatkan makan gratis.
– Keracunan massal (lebih dari 21 ribu korban), menu ala kadarnya, UPF = Ultra-Processed Food — makanan pabrikan ultra-olahan yang praktis tapi sering kurang bergizi dan berisiko kesehatan masih dibolehin masuk “asalkan made in lokal”.

Soeharto memberi kail dan ikan.
Prabowo memberi ikan setiap hari — tapi ikannya sering kali busuk, beracun dan kailnya tidak pernah diberikan.

Politik Perut yang Berbeda Tujuan

Soeharto menggunakan politik perut untuk membangun kemandirian.
Prabowo menggunakan politik perut untuk membangun loyalitas.

Itu perbedaannya yang paling mendasar.

Soeharto ingin rakyat bisa berdiri sendiri.
Prabowo ingin rakyat bergantung — sehingga pada 2029 mereka diharapkan akan ingat “siapa yang memberi makan”.

Soeharto membangun swasembada meski dengan otoritarianisme.
Prabowo membangun ketergantungan meski dengan demokrasi.

Ironi yang Pahit

Di era Soeharto, petani kecil diuntungkan.
Di era MBG, pedagang kecil dan UMKM justru dirugikan.

Di era Soeharto, gizi dibangun dari bawah (rumah tangga plus produksi lokal).
Di era MBG, gizi dibangun dari atas (dari dapur besar, supplier kakap, dan UPF).

Soeharto bilang hutang tidak boleh menjadi tai.
MBG dibayar dengan utang yang semakin besar — untuk program yang belum tentu bergizi dan berisiko tinggi.

Ini bukan soal siapa yang lebih baik atau lebih buruk secara pribadi. Ini soal jenis politik perut yang dipilih.

Soeharto memilih politik perut yang membangun.
Prabowo memilih politik perut yang mengikat.

Dan rakyat kecil — terutama pedagang kecil, petani kecil, dan orang tua yang kehilangan rezeki — kini menanggung konsekuensinya.

Malika Dwi Ana
16 Februari 2026

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Jokowi & Sopir Bajaj

Next Post

Nietzsche, Puasa, dan Disiplin Asketik: Antara Kumis Lebat dan Perut Lapar

fusilat

fusilat

Related Posts

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP
Birokrasi

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Birokrasi

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia
Cross Cultural

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
Next Post
Nietzsche, Puasa, dan Disiplin Asketik: Antara Kumis Lebat dan Perut Lapar

Nietzsche, Puasa, dan Disiplin Asketik: Antara Kumis Lebat dan Perut Lapar

Usia Panjang di Jepang: Ketika Gaya Hidup Menjadi Falsafah Hidup

Usia Panjang di Jepang: Ketika Gaya Hidup Menjadi Falsafah Hidup

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiga Oknum TNI AD Penyiksa Sampai Mati Imam Masykur Dituntut Hukuman Mati
Birokrasi

Bukan Revitalisasi, Tapi Darurat Reformasi TNI

by Karyudi Sutajah Putra
March 26, 2026
0

Jakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasurlah menyatakan proses revitalisasi internal menjadi hal penting dilakukan dalam...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

TNI Sabotase Penegakan Hukum

March 19, 2026
Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

March 18, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026
Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

March 28, 2026

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...