Friedrich Nietzsche—filsuf Jerman berkumis tebal dan kening berlipat—barangkali akan mengernyitkan dahi jika diajak sahur. Bukan karena makanannya, tapi karena konsepnya: mengapa manusia harus menahan diri dari sesuatu yang justru membuktikan bahwa ia hidup? Bagi Nietzsche, tubuh adalah panggung utama kehidupan, bukan musuh yang harus dijinakkan. Maka ketika agama datang membawa disiplin asketik—puasa, pantangan, pengekangan—Nietzsche spontan mencium aroma yang tidak sedap: bau moralitas budak.
Dalam Genealogy of Morals, Nietzsche menuduh asketisme sebagai strategi orang-orang lemah yang gagal menaklukkan dunia, lalu mengalihkan dendamnya dengan menciptakan moral: lapar dijadikan suci, menderita diberi mahkota pahala. Singkatnya, bagi Nietzsche, puasa bukan tanda keagungan jiwa, tapi cara elegan meromantisasi kekalahan tubuh.
Namun, mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Minum air hangat (kalau bukan Ramadan). Lalu bertanya pelan-pelan: benarkah disiplin asketik selalu soal kebencian pada tubuh?
Di sinilah diskusi menjadi menarik—dan Nietzsche, meski galak, tidak bisa dijadikan hakim tunggal.
Sebab dalam praktiknya, puasa—terutama dalam tradisi Islam—tidak pernah bermaksud membunuh tubuh. Ia hanya mengajaknya berpuasa bicara berlebihan. Tubuh tidak dilarang makan selamanya, hanya diminta menunggu. Tidak diminta mati syahwat, hanya disuruh antre. Ini bukan pembunuhan hasrat, tapi pendidikan kesabaran. Dan pendidikan, seperti kita tahu, selalu menyebalkan di awal.
Bisa mungkin aku menulis begini: “Puasa itu bukan soal perut kosong, tapi soal kepala yang tidak kebanyakan maunya.” Orang yang lapar tapi tetap waras, barangkali lebih berbahaya bagi tirani daripada orang kenyang tapi nurut.
Nietzsche memuja will to power—kehendak untuk berkuasa. Tapi agama, dengan segala asketismenya, diam-diam juga sedang mengajarkan bentuk kuasa lain: kuasa atas diri sendiri. Bukan kuasa menjajah, tapi kuasa menunda. Dan di zaman modern, kemampuan menunda ini justru barang langka. Semua serba instan: lapar—pesan, birahi—geser layar, marah—tulis status.
Maka pertanyaannya bukan lagi: siapa yang lebih benar, Nietzsche atau asketisme? Tapi:
Apakah manusia modern masih cukup kuat untuk tidak menuruti semua keinginannya sendiri?
Nietzsche takut manusia menjadi jinak karena moral. Tapi zaman ini justru melahirkan manusia yang jinak karena algoritma. Tubuh tidak lagi dikekang agama, tapi dikurung iklan. Syahwat tidak disucikan, tapi dijadikan komoditas. Kalau Nietzsche hidup hari ini, mungkin dia akan marah bukan pada puasa, tapi pada flash sale.
Akhirnya, puasa—dan disiplin asketik secara umum—tidak harus dilihat sebagai penjara tubuh, melainkan latihan kebebasan tingkat lanjut. Bebas bukan berarti menuruti semua dorongan, tapi mampu berkata: “Tidak sekarang.”
Dan itu, sayangnya, adalah kalimat yang bahkan Nietzsche pun mungkin sulit mengucapkan… apalagi saat lapar.























